web analytics
Menengok Warisan Leluhur di Desa Penglipuran
Oleh Faqih Rohman, pada 26 Mar , 2018 | 18:11 WIB
Menengok Warisan Leluhur di Desa Penglipuran
Seorang warga saat berdoa di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Sabtu (24/3). (ayobandung/Irfan Alfaritsi)

BANGLI, AYOBANDUNG.COM – Suasana asri dan sejuk mendadak terasa sesaat setelah memasuki komplek Desa Penglipuran, Bali. Nuansa kian khidmat saat sejauh mata memandang hanya ada deretan rumah tradisional Bali yang mengundangmu untuk menengoknya. Apalagi saat sesajen yang ada hampir di samping gapura rumah mengeluarkan aromanya yang damai.

Nuansa itu ayobandung dapatkan saat berkunjung ke salah satu desa wisata di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa Penglipuran, namanya.

Kata “penglipuran” sendiri berasal dari “pengeling pura” yang berarti “tempat suci untuk mengenang para leluhur”. Namun, ada juga beberapa yang menyebut jika “penglipuran” berasal dari “penglipur” atau “penghibur lara”.

Desa yang terletak kurang lebih sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar ini merupakan salah satu objek wisata alternatif selain pantai yang ada di Pulau Dewata. Sepanjang jalan menuju Desa Penglipuran, pemandangan hijau rerumputan dan rumah tradisional Bali bakal memanjakan mata.

Desa ini telah eksis sejak abad ke-18 Masehi atau pada masa Kerajaan Bangli. Saat itu, penghuni desa ini adalah mereka yang berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani. Desa Penglipuran adalah sebidang tanah yang diberikan Raja Bangli kepada warga Desa Bayung Gede lantaran telah membantunya berperang.

Selain sarat sejarah, Desa Penglipuran juga menorehkan sejumlah prestasi. Misalnya pada tahun 1995 silam saat desa tersebut mendapat penghargaan Kalpataru. Lalu, desa yang terletak di kaki Gunung Batur ini juga pernah dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia. Hal itu pula yang membikin Desa Penglipuran kian memincut perhatian banyak wisatawan, baik lokal ataupun mancanegara.

Sudah sejak 1995 silam Desa Penglipuran menjadi objek wisata di Pulau Dewata. Bupati Bangli kala itu mengusulkan agar desa tersebut dijadikan sebagai destinasi wisata lantaran suasananya yang masih alami.

Hingga kini, wisatawan berbondong-bondong datang ke Desa Penglipuran. Wisatawan hanya perlu merogoh kocek Rp15.000 saja untuk menikmati keindahan desa ini. Tak hanya itu, desa yang berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini juga telah menyediakan homestay khusus bagi wisatawan yang ingin bermalam.

Melestarikan adat

Rumah berbahan baku bambu menjadi ciri khas dari desa ini pada masanya. Awalnya, warga desa memang kerap menggunakan bambu untuk membangun rumahnya. Pilihan itu muncul seturut dengan lokasi Desa Penglipuran yang dikelilingi oleh pohon bambu pada masanya.

Namun, seiring perkembangan zaman, warga mulai berbondong-bondong membangun rumah permanen. Meski begitu, bangunan bambu sebagai warisan leluhur hingga kini masih terjaga dan terawat.

“Konsep rumah di sini memang sarat tradisi. Kami rawat dan setiap 15 tahun sekali bambunya akan diganti,” ujar salah seorang warga Desa Penglipuran, Ketut Suci (55) kepada ayobandung pada Sabtu (24/3/2018).

Desa Penglipuran memiliki 76 angkul-angkul atau gerbang masuk ke dalam rumah yang berderet di sepanjang jalan. Umumnya rumah tradisional Bali, rumah di Desa Penglipuran juga dibuat berdasarkan beberapa pakem adat yang dipercaya warga. Misalnya saja tempat beribadah yang ada di bagian utara rumah, ruang tidur di bagian tengah, dan bagian selatan yang dijadikan kamar mandi atau dapur.

"Posisi ruangan untuk orang tua lebih depan, dan yang muda agak di belakang. Konsep rumah Bali kaya akan makna dan filosofinya. Kami pun masih pakai itu," ujar Ketut. 

Di tengah keasrian dan kesejukan alam Desa Penglipuran, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi warga. Misalnya saja larangan untuk memiliki lebih dari satu istri. Aturan antipoligami ini merupakan adat yang berlangsung turun temurun. Bila ada yang melanggar, maka sanksi berupa pelarangan tinggal atau ibadah di Desa Penglipuran harus dihadapi.

“Pelanggar sudah disediakan tempat khusus bernama Karang Memadu yang luasnya sekitar 8 hektare. Sampai saat ini belum ada yang tinggal karena warga masih menaati adat desa,” kata Ketut.

Foto-foto: Irfan Alfaritsi

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Nmax Socmed Ayo Bandung 160x600