web analytics
Menengok Desa Penglipuran Bali yang Sejuk dan Asri
Oleh Faqih Rohman, pada 26 Mar , 2018 | 14:35 WIB
Menengok Desa Penglipuran Bali yang Sejuk dan Asri
Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli Provinsi Bali.(Faqih)

BALI, AYOCIREBON.COM – Bila Anda berkunjung ke Bali dan ingin merasakan suasana asri serta sejuk alam pedesaan, ada baiknya mengunjungi Desa Wisata Penglipuran di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Dati II Bangli, Provinsi Bali.

Desa yang terletak kurang lebih sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar dan 5 kilometer dari Kabupaten Bangli ini merupakan salah satu objek wisata alternatif selain pantai di Pulau Dewata.

Sepanjang jalan menuju desa, wisatawan akan disuguhi oleh pemandangan hijaunya rerumputan serta rumah tradisional Bali.

Mengutip dari situs Disparbud Kabupaten Bangli,  asal muasal kata “penglipuran” berasal dari “pengeling pura” yang berarti “tempat suci untuk mengenang para leluhur”. Selain itu, ada juga yang menyebut jika “penglipuran” berasal dari “penglipur” atau “penghibur lara”.

Desa ini sudah ada sejak abad ke-18 masehi atau pada masa Kerajaan Bangli. Dahulu, warga desa ini berasal dari Desa Bayung Gede. Setelah membantu Raja Bangli berperang, mereka dihadiahi sebidang tanah yang kemudian ditempati. Kini, sebidang tanah itu dikenal dengan Desa Penglipuran.

Desa yang terletak di kaki Gunung Batur ini memiliki luas kurang lebih 112 hektare dan 700 meter di atas permukaan laut.

Salah seorang warga Desa Penglipuran, Ketut Suci (55), mengatakan desanya pernah mendapat penghargaan Kalpataru pada tahun 1995 silam.

Selain itu, Desa Penglipuran juga pernah dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia. "Pernah dapat penghargaan desa terbersih dari dunia, sehingga banyak orang atau wisatawan yang berkunjung ke sini karena penasaran," ujarnya, Sabtu (24/3/2018).

Awalnya, bahan baku bambu banyak digunakan warga desa untuk membangun rumahnya. Soalnya, Desa Penglipuran dikelilingi oleh pohon bambu. Namun, seiring perkembangan zaman, warga mulai membangun rumah permanen.

Meski begitu, bangunan bambu sebagai warisan leluhur masih tetap terjaga serta dirawat agar tidak tergerus laju modernisasi.

“Konsep rumahnya memang tradisinya begitu. Kami rawat dan setiap 15 tahun sekali bambunya diganti,” ujat Ketut yang merupakan generasi keenam dari keluarga yang mendiami rumahnya.

Desa Penglipuran dihuni sekitar 240 kepala keluarga dan memiliki 76 angkul-angkul atau gerbang masuk. Umumnya rumah tradisional di Bali, rumah di Desa Penglipuran juga dibuat berdasarkan beberapa pakem yang dipercaya warga. Misalnya saja, tempat beribadah yang ada di bagian utara rumah, ruang tidur di bagian tengah, dan bagian selatan yang dijadikan kamar mandi atau dapur.

"Posisi ruangan untuk orang tua lebih depan, dan yang muda agak di belakang. Konsep rumah Bali kaya akan makna dan filosofinya. Kami pun masih pakai itu," ujar Ketut. 

Di tengah keasrian dan kesejukan alam Desa Penglipuran, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi warga. Misalnya saja larangan untuk memiliki lebih dari satu istri. Aturan antipoligami ini merupakan adat istiadat yang berlangsung turun temurun. Bila ada pelanggar, maka sanksi berupa pelarangan tinggal atau ibadah di Desa Penglipuran harus dihadapi.

“Pelanggar sudah disediakan tempat khusus bernama Karang Memadu yang luasnya sekitar 8 hektare. Sampai saat ini belum ada yang tinggal karena warga masih menaati adat desa,” kata Ketut.

Sudah sejak 1995 silam Desa Penglipuran menjadi obyek wisata di Pulau Dewata. Bupati Bangli saat itu mengusulkan agar desa tersebut dijadikan sebagai destinasi wisata lantaran suasananya yang masih alami.

Wisatawan hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp15.000 saja untuk menikmati keindahan Desa Penglipuran. Jadi, tunggu apa lagi?

Editor : Adi Ginanjar Maulana
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Nmax Socmed Ayo Bandung 160x600