web analytics
Belajar Kehidupan dari Patung Kecil Toni Kanwa
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 13 Mar , 2018 | 17:35 WIB
Belajar Kehidupan dari Patung Kecil Toni Kanwa
Sunaryo saat mengamati patung kecil karya Toni Kanwa di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Selasa (13/3). (ayobandung/Arfian Jamul)

DAGO, AYOBANDUNG.COM -- "Sore ini saya merasa bahagia. Di tempat ini dipertemukan antara Timur dan Barat dalam satu spirit cinta.” Begitu ujar Sunaryo, seorang maestro seni Indonesia, saat membuka Solo Exhibition of Toni Kanwa Adikusumah The Power from Nature.

Nuansa etnik telah terasa sejak lantunan Tarawangsa khas Sunda dilantunkan. Suara yang membuat puluhan turis Belgia terdiam kagum meratapi. Namun, pameran kali ini bukan soal Tarawangsa, melainkan tentang puluhan patung meteorit berukuran mikro karya seniman asal Indonesia, Toni Kanwa.

Puluhan patung “kurcaci” itu dipajang dalam sebuah meja di area Bale Handap Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Selama 13-16 Maret 2018, patung-patung itu mengajari kita tentang kehidupan.

Melalui pengantar lantunan Tarawangsa, pameran Toni kali ini mengajarkan tentang kesabaran dan perdamaian. “Tarawangsa adalah menerawang rasa. Jadi sama dengan yang saya lakukan,” ujar Toni kepada ayobandung saat pembukaan pameran, Selasa (13/3/2018).

Toni memang dikenal sebagai pemahat patung manusia dengan ukuran kecil. Sebelumnya, sebanyak 2.000 karya patung spiral Toni berjudul “Cosmology of Life” telah dikoleksi oleh Singapore Art Contemporary Museum dan ditampilkan di beberapa galeri seni Eropa.

Agak berbeda dengan karya “Cosmology of Life” yang mengambil kayu sebagai satu-satunya materi dasar. Kali ini, kayu tidak jadi satu-satunya materi dasar. Toni memadukan unsur kayu sebagai perwakilan Bumi dengan logam meteorit yang menggambarkan langit.

"Kenapa? Karena sejak kecil saya selalu bermimpi ingin pergi ke langit. Saya memohon kepada Tuhan untuk ke langit. Ketika damai di hati saya menemukan meteorit," ujar Toni.

Perpaduan antara kayu dan logam meteorit tentu memiliki penanganan artistik yang berbeda. Materi kayu memiliki tekstur yang sederhana dan lebih mudah untuk dipahat. Sementara logam meteorit yang mengandung unsur titanium cenderung sulit untuk dipahat. Bahkan titanium memiliki tingkat kekerasan lebih tinggi dari baja dan besi. Di zaman modern, titanium banyak digunakan untuk bahan pesawat terbang. 

Lalu bagaimana Toni memahat patungnya? Apalagi karya patung Toni memiliki ukuran paling kecil hingga satu milimeter. Perlu juga diketahui bahwa Toni tidak membuat patung dengan menggunakan kaca pembesar. 

Pertama, Toni membuat pisau pahat sendiri. Lalu menyiapkan satu batang untuk diukir. Alih-alih melihatnya dengan seksama, Toni kadang memahat patung dengan mata terpejam.

"Puncak dalam seni adalah rasa. Serahkan semuanya pada kepasrahan. Membuatnya sesuai dengan rasa damai di hati. Kalau sedang damai, saya bisa membuat delapan patung dalam satu hari. Tapi kalau sedang gelisah, tidak bisa," ujar Toni.

Materi meteorit dihadirkan bukan tanpa alasan. Penggunaan meteorit telah dikenal dalam pembuatan bilah pusaka seperti kujang dan keris dengan teknik tempa. Pola dan corak yang kemudian menandai nilai estetik dari jejak seni seorang empu. 

Perlu diketahui bahwa teknik tempa tersebut hanya hadir di Nusantara. Seniman tidak dapat menentukan hasil akhir karya walau telah diniatkan. Proses penempaan ibarat segala keinginan manusia yang harus pasrah pada kerja alam semeta.

"Untuk itu pesan saya dalam pameran ini adalah bahwa kekuatan dari alam kalau sudah bersatu maka manusia tidak bisa apa-apa. Ini merupakan bentuk kekuatan daya besar dari alam. Maka saya satukan dari kekuatan tanah dan langit," ujar Toni. 

Sesuatu yang paling kentara dari patung manusia karya Toni adalah bentuknya yang vertikal. Arah vertikal ini dimaksudkan sebagai penghubung antara Bumi dengan langit. Karena masyarakat tradisi di Indonesia menyadari bahwa kehidupan di Bumi sangat tergantung pada langit. 

Kesadaran tersebut diniatkan agar manusia dapat hidup selamat dan berkecukupan. Langit sebagai objek spiritual terlihat dari patung Toni yang merentangkan tangan ke atas atau menengadahkan wajah.

Namun, Toni tidak pernah berniat untuk membuat objek pemujaan. Sebagaimana karya-karya Toni sebelumnya yang kerap menghadirkan manifestasi spiritualitas, alam, dan isu-isu kosmos melalui pelbagai medium seni, The Power from Nature menandai sikap pasrah kepada kekuatan alam sembari bertakzim pada Bumi yang dipijak.

Pemahaman tersebut yang menyadarkan Toni bahwa benda seni bukan dinilai baik dari keindahan bentuk, melainkan dari fungsi dan energi yang dapat menghasilkan energi spiritual transenden.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600