web analytics
Berawal dari Iseng, Gproject Jadi Usaha Bunga Wisuda yang Merajalela
Oleh Fathia Uqim, pada Feb 14, 2018 | 16:35 WIB
Berawal dari Iseng, Gproject Jadi Usaha Bunga Wisuda yang Merajalela
Gproject. (Fathia Uqim/ayobandung)

BOJONGLOA KIDUL, AYOBANDUNG.COM -- Iseng. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Haifa Afifah.  Setelah lulus dan wisuda, secara spontan Haifa ingin berbisnis. 

Sahabatnya yang bernama Tresna Kusuma Putri melihat Haifa memiliki peluang dalam bidang craft. Karena Haifa setiap kali memberi hadiah kepada orang berupa barang buatan tangannya sendiri. 

Setelah muncul keinginan berbisnis, Haifa mengajak satu temannya lagi, Nisa Rahmah Suci yang berpotensi dalam memiliki relasi alias channel untuk pemasaran produk. Dari situlah Haifa, Tresna dan, Nisa memulai usaha bunga kertas atau lazim dikenal paper flowers.

"Awalnya tahun 2015 belum banyak persaingan bisnis sejenis ini. Karena pembuatan bunga ini biasanya bunga asli yang nantinya layu, atau berbahan flanel," ujar Haifa Afifah, pemilik dari bisnis paper flower Gproject, Rabu (14/2/2018). 

Bermula jualan di stan dalam bedah buku seorang penulis, Gproject menjadi sponsor untuk supply pembatas buku. Bunga yang dijual pun masih setangkai. 

"Suatu hari ada yang bertanya mengapa cuma setangkai. Mengapa tidak dibuat buket," kenang Nisa, pemegang Gproject Cirebon. 

Akhirnya ketika ada yang memesan satu buket, Nisa menyanggupi padahal belum pernah membuat semacam itu. 

Belajar otodidak dari situs pembagi video Youtube dan pinterest, tim Gproject ini mengembangkan bisnisnya yang saat itu mereka masih berstatus mahasiswa. 

"Semua serba hemat," kata Haifa sembari tertawa. 

Masih di tahun 2015, sebelum banyak saingan, Grpoject menjual bunga kertasnya di acara wisuda Universitas Langlangbuana Unla) Bandung. 

"Habis semua bunga kita karena belum banyak yang bikin paper flowers jadi kita terus jualan di wisudaan," ujar Nisa, Sarjana Pendidikan Ekonomi itu. 

Akibat sebuah relasi, Gproject melanglang hingga Jakarta karena diundang oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan dalam acara BookFair. 

"Ada teman orang sana dan bisa buka booth gratis, terus aku daftar. Ketika pihak Kemenperin melihat produk kita, mereka meminta kita untuk mendekor booth kemenperin dan disuruh mengisi workshop tentang cara pembuatan backdrop paper flowers," tutur pemilik Gproject yang berusia 24 tahun. 

Kini Gproject sudah memiliki cabang di Cirebon dan Solo. Resellernya pun sudah ada tiga di Bandung; Cimahi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Sembari tertawa lebar, Haifa mengingat ketika awal mereka tidak ada saingan bisnis sejenis. Saat uji coba produk, masih bingung memilih bahan.

"Kita menikmati proses sejak awal budget yang minim hingga ada laba awal Rp 65.000 dan dibelikan peralatan pembuat bunga," paparnya.

Nisa menuturkan, mereka sempat merekatkan bunga menggunakan lilin bukan pakai lem tembak. Hingga tangkai bunga dari sapu lidi namun sekarang sudah memakai kawat. 

"Pokoknya kita berawal dari barang-barang yang ada di kosan. Budget rendah. Target pasarnya mahasiswa waktu dulu jadi buat seirit-iritnya," ujar Nisa.

Selain itu, Gproject selalu menyesuikan harga barang di tempat menjual barang. 

"Harga. barang bunga kita di Cirebon tentu berbeda dengan harga Bandung. Karena daya beli warga Cirebon berbeda. Inginnya jadi socialpreneur juga," ujar Nisa berharap. 

Mereka bercita-cita membuat situs online store berisi produk-produk custom; hand lettering, rajutan, paper flowers, glass lettering. Karena Gproject bekerjasama dengan beberapa crafter atau pengrajin se-Bandung Raya. 

"Cita-citanya membuat marketplace untuk para crafter," pungkas Haifa.

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Mio S Socmed Ayo Bandung 160x600