web analytics
Kisah Hijrah Perempuan Bertato
Oleh Fathia Uqim, pada 13 Feb , 2018 | 08:17 WIB
Kisah Hijrah Perempuan Bertato

KOPO, AYOBANDUNG.COM -- Namanya Ajeng. Ia sudah empat kali mengikuti treatment penghapusan tato. Empat kali itulah ia mendapatkan siraman kajian dari tim Komunitas Dakwah dan Sosial (Kodas) yang khusus menangani perempuan.

Saat ditemui di sekretariat Kodas, Jalan Kopo Citarip Masjid Al Kaffah, Ajeng tengah mengikuti kajian bersama ustazah yang bertugas. Ada kerudung marun yang menutupi dada, gamis yang menjulur ke seluruh tubuhnya, serta kaus kaki yang telah menutupi kakinya. Itulah salah satu bentuk hijrah Ajeng dalam ketaatan pada Tuhannya.

Laila, koordinator Kodas perempuan menceritakan pada ayobandung perihal keseriusan Ajeng dalam berhijrah. Bukan main-main, karena kesungguhannya terpancar dari sikap dan perilakunya kepada tim.

"Cerita hijrahnya pun sungguh luar biasa teh, Ajeng berhijrah karena ia merasakan titik kejenuhan atas hidupnya yang lalu," katanya.

Saat ayobandung tengah bercakap dengan istri dari ketua program hapus tato gratis itu, Ajeng dan kawan-kawan lainnya sedang mendapatkan siraman ruhani dari ustazah tim Kodas.

"Jadi dulunya dia di Yogyakarta. Pas kuliah terpengaruh sama teman-temannya. Akhirnya bertato. Padahal dulu dia pernah pesantren semasa SMP-SMA," kata Laila.

Sesaat kemudian kajian pun selesai. Tim penghapus tato pun mulai memberikan krim anestesi kepada masing-masing peserta. Begitupula Ajeng.

Pengolesan krim anestesi tersebut bisa dipakai hingga dua kali sebelum treatment alias penembakan laser. Saat menunggu krim itu meresap, Ajeng yang awalnya malu-malu untuk ditanya akhirnya terbuka.

"Iya jadi teh dulu kan pas kuliah di Yogyakarta, sudah sampai semester 7, dipulangin sama Ayah disuruh ke Bandung karena seperti itu," ucap Ajeng yang berasal dari Jawa Tengah.

Selama 6 tahun Ajeng sekolah di sebuah pesantren besar di Jawa Tengah. Lalu ia melanjutkan ke bangku kuliah di Yogyakarta mengambil jurusan Biologi. Akibat pengaruh lingkungan, Ajeng pun tergoda. 

"Teman-teman saya kan bertato. Terus teman saya juga kan bisa mentato gitu, jadi ya saya ditato sama temen, gratis," ungkap perempuan berusia 25 tahun itu.

Saat ditanya, Ajeng mengaku punya dua tato bergambar bunga di tangannya dan gambar peri di kakinya.

Ia sadar karena selama ia bertato maka salatnya tidak akan diterima. Maka dari itu Ajeng bersungguh-sungguh untuk hijrah dan menghapus tato di Kodas ini.

"Hapus tato juga kan mahal ya. Terus ya kalau punya anak gimana, nanti dilihat oleh anak kalau nanti berkeluarga. Jadi ingin dihapus dan hijrah juga," tutur mahasiswi Universitas Terbuka itu. 

Ya, sejak di Bandung, Ajeng tinggal bersama kakaknya. Ia melanjutkan studinya di Universitas Terbuka mengambil jurusan pajak. Selain berkuliah, Ajeng pun bekerja di sebuah optik. 

Kendati demikian, Ajeng tetap tidak menghiraukan teman-temannya yang terkadang nyinyir atas kerudung Ajeng yang kian menjulur. Tentu ia dijauhi oleh teman-teman dahulunya. 

"Saya juga pernah bilang ke temen yang punya tato seluruh badan. Udah dibilangin hayu hijrah bareng, hapus tato bareng di sini (Kodas). Tetep alasannya sayang sama tatonya. Padahal saya udah ajakin," terangnya.

Ajeng mengakui, mentato diri adalah kebanggaan dan kesenangan pribadi. Ditato itu sakit, tetapi dihapus lebih sakit lagi. "Panas teh udahnya," kata Ajeng sambil tersenyum lebar. 

 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600