web analytics
Susur Bandung : Jelajah Jalan Dipatiukur, dari Belanja Kaset sampai Sambal Mangga
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada 03 Feb , 2018 | 13:30 WIB
Susur Bandung : Jelajah Jalan Dipatiukur, dari Belanja Kaset sampai Sambal Mangga
Ilustrasi Jalan Dipatiukur. (youthmanual.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Jalan Dipatiukur adalah “katel” yang berisi mahasiswa. Ibarat bahan makanan serupa bawang, sosis, bakso, dan kawan-kawan, ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa “digoreng” di sini sampai matang.

Sebagai informasi, nama “Dipatiukur” sendiri berasal dari seorang Adipati di Tanah Ukur. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah kehidupan masyarakat Sunda yang hidup di masa penjajahan Mataram abad ke-17.

Bisa dibilang, jalan yang biasa disebut “DU” ini adalah tempatnya mahasiswa belajar, bergaul, belajar keren, menghabiskan duit jajan, dan lain-lain. Maka tak aneh kalau Jalan Dipatiukur jadi salah satu ruas jalan di Kota Bandung yang paling hidup.

Jalan Dipatiukur membentang dari Jalan Ir. H. Juanda (Dago) bagian atas, berputar melewati Jalan Panatayuda, Jalan Hasanudin, Jalan Haur Pancuh, hingga kembali ke Jalan Dago bagian bawah. Ragam tempat fotokopi, tempat nongkrong, tempat makan, tempat belanja berjajar di kanan kiri jalan.

Nah, buat kamu yang kebetulan melancong ke Bandung dan tertarik berkunjung ke salah satu jalan teramai di Kota Bandung ini, ayobandung kasih kamu sedikit rekomendasi apa saja yang bisa kamu lakukan di sana.

 

#1 Travel Bandung-Jakarta

Enggak perlu susah cari kendaraan menuju Dipatiukur dari Jakarta atau sebaliknya. Jalan ini menjadi tempat bercokolnya sejumlah jasa travel Bandung-Jakarta seperti Day Trans, Cititrans, hingga Baraya Travel. Wajar saja, soalnya di sini banyak mahasiswa yang notabene berasal dari Jakarta.

#2 Bebas pilih tempat makan di sepanjang jalan

Semakin ke sini, deretan tempat makan berbentuk kafe-kafe kecil tampaknya makin memenuhi Jalan Dipatiukur. Kamu yang kebetulan lapar dan sedang ada di sini, tinggal memilih mana saja yang kamu inginkan.

Ada Bakso Kotak Cak Man, Ayam Tulang Lunak Amboe, Martabak Mertua, Steak Ranjang, Nasi Goreng Rempah Mafia, dan masih banyak lagi. Pokoknya kamu tinggal pilih.

#3 Ngopi-ngopi cantik

Namanya juga daerah mahasiswa, kurang afdol rasanya kalau enggak ada kedai kopi. Berbagai kedai kopi yang dibumbui dengan fasilitas wifi, tempat duduk yang nyaman, desain kedai yang artsy, semua ada di Dipatiukur.

Beberapa di antaranya terletak tepat di pinggir Jalan Dipatiukur. Namun, beberapa lainnya terletak agak berbelok dari Jalan Dipatiukur, tapi masih satu kawasan, kok.

Yang enak, kamu bisa mampir ke Double Eight Coffee, sebuah kedai kopi artisan pinggir Jalan Dipatiukur. Atau ke Kopi Endeus, tempat bersantai di Jalan Hasanudin (samping kampus Universitas Padjadjaran). Kamu juga bisa bersantai cantik Pillow Talks Coffee & Comfy di Jalan Pranatayuda. Di sana kamu bisa nyantai bareng teman-teman satu geng di bawah pijar lampu taman yang manis.

Terus buat kamu yang ingin suasana agak sepi, kamu juga bisa masuk ke salah satu gang di seberang Citirans. Gang Kubang Selatan, namanya. Masuk ke sana, dan temukan Kedai CAS. Ini adalah salah satu kedai kopi yang ada di kawasan Dipatiukur tapi lokasinya nyumput. Tempat ini juga biasa dijadikan venue buat acara-acara komunitas. Ya, siapa tahu kebetulan lagi ada acara pas kamu datang ke sana!

#4 Ngeceng mahasiswa dan mahasiswi

Ya kalau ini, sih, barangkali saja ada yang berniat nyari jodoh atau sekadar gebetan santai. Jalan Dipatiukur jadi salah satu lokasi recommended, lho.

Seperti yang telah disebutkan di atas, Jalan Dipatiukur ini tempatnya mahasiswa. Ada tiga kampus besar di sepanjang jalan ini : Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), Universitas Komputer Indonesia (Unikom), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Caranya bagaimana? Tongkrongi saja gerobak-gerobak jajanan yang ada di dekat kampus masing-masing. ITHB dan Unikom lokasinya berdekatan, jadi cukup diam di antara dua kampus itu saja.

Atau, kamu juga bisa main di warung-warung berdinding biru di sepanjang Jalan Hasanuddin (samping kampus Unpad). Soalnya tempat-tempat itu biasanya jadi lokasi makan dan nongkrongnya mahasiswa-mahasiswi Unpad.

#5 Belanja kaset, CD, dan piringan hitam biar otentik

Ini dia hadiah buat kamu para pencinta musik, khususnya penggemar rilisan fisik. Silakan datang ke DU 68. Tempat ini jadi kunjungan wajib para kolektor rilisan fisik, hobi yang kini tengah digandrungi.

Lokasinya berada di lantai dua salah satu ruko di Jalan Dipatiukur (samping belokan Jalan Sekeloa dan seberang SPBU Pertamina). Di tempat yang tak terlalu luas itu, ratusan atau mungkin ribuan kaset, CD, dan piringan hitam ada di sana. Mulai dari Gombloh, Lilis Suryani sampai musisi-musisi masa kini, baik dari Indonesia atau pun mancanegara.

#6 Jalan-jalan ke Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Sekarang gilirannya kamu buat belajar. Jalan Dipatiukur juga diwarnai oleh Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Ini salah satu monumen paling ikonik di Bandung. Lokasinya terlihat dari seberang kampus Unpad. Monumen ini sejajar dengan Gedung Sate.

Monumen yang sering disebut “Monju” ini punya bangunan yang berbentuk bambu runcing. Ia dirancang oleh arsitek asal Bandung, Slamet Wirasonjaya dan perupa, Sunaryo. Mulai dibangun pada tahun 1991 silam dan selesai pada tahun 1995.

Di sekeliling monumen, tersematkan relief yang berkisah tentang sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat mulai dari masa kerajaan, masa pergerakan, masa kemerdekaan, dan masa mempertahankan kemerdekaan.

#7 Makan nasi uduk dengan sambal mangga

Sebenarnya ini warung tenda kaki lima pada umumnya. Tapi, tempat ini selalu ramai di malam hari. Dulu, warung Sambal Mangga Cak Kohar ini cuma terletak di seberang Rabbani. Mungkin karena pengunjung yang ingin mencicipi sambal mangga Cak Kohar ini tak cukup ditampung dalam satu warung tenda, akhirnya Sambal Mangga Cak Kohar menyimpan warung tenda keduanya di samping Monju, masih di Jalan Dipatiukur.

Sama seperti warung nasi uduk lainnya, di sini ada nasi bebek goreng, nasi ayam goreng, dan lain-lain. Tapi, yang spesial dari tempat ini adalah sambal mangganya. Citarasa sambal yang pedas dan asam, hasil perpaduan antara mangga segar dan cabai, bikin banyak orang selalu datang lagi, lagi, dan lagi.

Jadi, jangan kaget kalau tempat ini selalu dipenuhi oleh pengunjung yang antre menunggu sambal mangga idamannya.

#8 Makan masakan asli dari Tanah Minang

Ada tiga warung makan khas Tanah Minang yang tesohor di Jalan Dipatiukur. Ada Warung Nasi Padang Mande Kanduang, Sate Padang Serasi, dan Soto Padang Uda Ujang. Ketiganya bertempat di satu area, berdekatan dengan pangkalan bus DAMRI.

Mande Kanduang terkenal sebagai salah satu yang menyajikan masakan Padang dengan citarasa asli Tanah Minang. Meski cuma bertempat di warung tenda, Mande Kanduang selalu penuh diserbu penikmat nasi Padang. Apalagi porsi nasinya yang tak main-main, luar biasa banyaknya!

Lalu, ada Sate Padang Serasi yang mulai menjajakan jualannya saat matahari terbenam. Sama seperti Mande Kanduang, tempat ini juga dikenal dengan citarasa Tanah Minangnya yang otentik.

Terakhir, adalah Soto Padang Uda Ujang. Meski namanya Uda Ujang yang identik dengan Sunda, tapi jangan salah, citarasa soto yang dijajakan itu Padang banget. Kuahnya yang bening, citarasa rempah dan kaldu yang kuat, bakal bikin kamu ngiler dan ingin kembali lagi.

Editor : Asri Wuni Wulandari
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600