web analytics
Apakah Indonesia Masih Mencintai Ahok?
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada 12 Jan , 2018 | 16:05 WIB
Apakah Indonesia Masih Mencintai Ahok?
Basuki Tjahaja Purnama. (DITA ALANGKARA/AP)

TAMANSARI, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah petisi berjudul "Batalkan Gugatan Cerai Pak Ahok Kepada Ibu Veronica Tan" telah ditandatangani oleh lebih dari 11.000 orang di situs change.org. Bukti bahwa publik masih begitu perhatian pada Ahok.

Tidak disangka memang, sepucuk surat gugatan cerai atas nama Basuki Tjahaja Purnama ternyata mampu mengguncang jagat linimasa. Popularitasnya bahkan berhasil meredam pemberitaan kasus narkoba yang mengaitkan nama selebriti Jennifer Dunn.

Melalui petisi tersebut dapat disimpulkan bahwa opini publik tengah berupaya untuk mengubah keputusan Ahok perihal masalah pribadinya. Apakah berarti Ahok tidak lagi memiliki pilihan untuk hidupnya sendiri?

Menurut pandangan psikologi sosial, fenomena tersebut berkaitan dengan penghayatan dan ekspresi jujur dari masyarakat yang merasa dekat secara emosional dengan figur Ahok. 

"Figur Ahok merupakan orang yang dipedulikan dan diperhatikan. Perilaku membuat petisi adalah bagian dari ekspresi kepedulian dan perhatian," ujar psikolog Universitas Islam Bandung Stephani Reihana pada ayobandung, Jumat (12/1/2018).

Satu bahasan belum rampung diulas. Namun mantan sekretaris jenderal Front Pembela Islam, Novel Bamukmin sudah lantang berbicara seraya menganggap bahwa perceraian Ahok hanyalah strategi dan rekayasa belaka.

Strategi untuk apa? Menurut Novel, perceraian adalah jalan untuk menyelamatkan Veronica dari jeratan hukum terkait proses pengusutan dugaan penyelewengan dana pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras.

Ragam asumsi liar lain merebak ke permukaan. Namun terlepas dari semua anggapan tersebut, pengamat politik Universitas Katolik Parahyangan Bandung Asep Warlan berpendapat bahwa sebaiknya masalah keluarga memiliki tempat berbeda dan dihindari dari wacana politik.

"Apakah itu taktik untuk menyelamatkan harta atau melindungi istri dari jeratan hukum? Masyarakat memiliki persepsi sendiri. Walau itu jadi citra publik tapi jangan dipolitisasi," ujar Asep Warlan kepada ayobandung, Jumat (12/1/2018).

Menurut Asep Warlan, tidak etis jika politik kemudian memanfaatkan dan mengeksploitasi masalah keluarga untuk kepentingan tertentu. Pasalnya wacana perceraian Ahok berpotensi melahirkan pembahasan dalam isu kampanye hitam di kemudian hari.

"Maka (masyarakat) harus lebih cerdas dan dewasa serta melihat segala sesuatunya secara proporsional," ujar Asep Warlan. 
 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media

Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600