web analytics
Dilema Kaus Partai, Saat Pilkada Tak Pengaruhi Pemesanan dan Omzet
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Jan 11, 2018 | 19:41 WIB
Dilema Kaus Partai, Saat Pilkada Tak Pengaruhi Pemesanan dan Omzet
Pilkada Serentak 2018 tidak terlalu berimbas terhadap pemesanan kaus dari partai politik atau pasangan calon. (Arfian J Jawaami)

JALAN SURAPATI, AYOBANDUNG.COM -- Tahun 2018, Indonesia akan dihadapkan pada Pilkada Serentak yang berlangsung di 171 daerah. Artinya, aktivitas politik akan meningkat dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.

Pasalnya beberapa daerah penyelenggara Pilkada merupakan mesin perekonomian nasional, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketiga provinsi tersebut memiliki populasi 40 persen dari total penduduk Indonesia serta menguasai sekitar 30 persen perekonomian nasional.

Khusus di Kota Bandung yang juga akan menggelar Pilwalkot, setidaknya terdapat empat pasangan calon. Jangan lupakan kalau Bandung menjadi pusat dari gelaran Pilgub Jawa Barat yang juga menyertakan empat pasangan calon. 

Dampaknya, akan terjadi perputaran uang dalam skala besar setidaknya hingga bulan Juni saat pemilu berlangsung. Salah satu komoditi bisnis yang sudah barang tentu bakal jadi sasaran adalah konveksi pengadaan kaus dan atribut partai.

Soal konveksi, Bandung jadi destinasi yang potensial. Mulai dari indutri rumahan berskala kecil hingga para pemain besar pemasok kebutuhan sandang ke pusat perbelanjaan. Namun yang paling terkenal adalah sentra bisnis konveksi atau kaus di Jalan Surapati.

Menurut data Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung seperti dikutip dari laman resminya, terdapat lebih dari 400 perajin sablon kaus dan 2.000 tenaga pekerja di Jalan Surapati dan PHH. Mustofa tersebut.

Dalam satu tahun, kapasitas produksi yang dihasilkan dapat mencapai 177.300 lusin kaus. Angka tersebut tentu akan mengalami peningkatan signifikan ketika berlangsung gelaran beskala besar, seperti pemilu.

Namun kini permainan perlahan beralih. Beberapa pemilik usaha konveksi mengaku tidak mengalami banyak perbedaan berarti perihal omzet menjelang Pilkada.

"Tidak seperti dulu. Sekarang konveksi di Surapati hanya mengerjakan pemesanan skala kecil untuk Pilkada. Jadi peningkatan omzet tidak terlalu besar," ujar Purwaningsih, pegawai Sinar Advertama Servicindo Advertising pada Kamis (11/1/2018). 

Padahal, sebelumnya sentra konveksi di sepanjang Jalan Surapati dan PHH. Mustofa menjadi pilihan utama untuk pengadaan atribut partai seperti kaus, bendera hingga pin. 

Setidaknya tradisi tersebut berlangsung pascakrisis ekonomi nasional yang melanda Indonesia pada tahun 1997. Pemesanan hadir bukan hanya dari wilayah Bandung Raya dan Jawa Barat namun juga seluruh Indonesia.

Berdasarkan hasil penelusuran, ayobandung merangkum tiga alasan yang sedikit banyak memengaruhi penurunan omset tersebut, yakni keterlibatan para pemain garmen besar, ketidaksiapan menghadapi persaingan bisnis online serta besarnya risiko.

Kini, tim kampanye partai peserta pemilu lebih gemar memesan kebutuhan sandang kepada perusahaan garmen besar. Alasannya tentu karena dapat menekan harga produksi. Namun tidak jarang proses negosiasi hanya dapat berlangsung lantaran melibatkan unsur kedekatan dan koneksi secara emosional.

"Sekarang pemesanan sudah milik garmen besar di Cigondewah. Kami yang industri rumahan hanya kecipratan (mendapatkan) sedikit kalau dapat lemparan order dari garmen karena mengejar deadline," ujar pemilik Rossi Konveksi di Jalan Surapati, Candra Wijaya kepada ayobandung.

Tiga tahun lalu, Candra sempat mendapatkan lemparan ribuan order pembuatan kaus dari Partai Aceh. Semenjak itu, kuantitas order tidak pernah lebih dari 1.000 kaus.

Terlebih, kini persaingan bisnis berjalan semakin ketat seiring kemajuan digitalisasi melalui media sosial. Beberapa unit usaha kecil yang tidak dapat menyesuaikan dan mengikuti perkembangan zaman maka akan kehilangan pelanggan.

"Zaman sekarang orang semakin pintar. Mau pesan kaus tinggal cari di internet. Sudah lengkap dengan harganya. Kami semakin tertinggal," ujar Candra.

Permasalahan ketiga adalah besarnya risiko dan kecilnya keuntungan. Pemesanan skala besar membuat para pelaku bisnis konveksi mematok harga rendah. Selain itu beberapa kasus turut menyeret pihak partai sebagai tokoh antagonis.

"Banyak konveksi yang dikecewakan (oleh partai). Beberapa informasi beredar kalau banyak produksi tidak ditebus," ujar pemilik Rizkada Konveksi, Jay kepada ayobandung. 

Di tempat terpisah, Mochamad Iqbal selaku pemilik bisnis konveksi rumahan di Komplek Margahayu Raya yang biasa mengerjakan pemesanan atribut partai, menjelaskan ihwal permasalahan penebusan dana tersebut.

Iqbal menganologikan, salah satu partai politik memesan kaus dan atribut lainnya dengan nilai sebesar Rp 100 juta. Sedangkan uang muka proses produksi yang diberikan pihak partai hanya sebesar Rp 40 juta. 

Namun tetap saja, pihak konveksi harus menyelesaikan produksi sesuai dengan kuantitas pemesanan walau menggunakan dana pribadi. Lalu di akhir cerita, pihak partai nyatanya hanya mengambil kaus sesuai dengan jumlah uang muka yang sebelumnya telah dibayarkan.

"Lalu sisa kausnya yang bernilai Rp 60 juta mau di simpan dimana? Tidak diambil tapi juga tidak dibayar. Itulah yang biasa terjadi. Itu risikonya. Kadang kapok tapi butuh," ujar Iqbal. 

 

 

Editor : Andri Ridwan Fauzi
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600