web analytics
Handschar, Pasukan Militer Muslim Milik Nazi
Oleh Arfian Jamul Jawaami, pada Jan 11, 2018 | 11:37 WIB
Handschar, Pasukan Militer Muslim Milik Nazi
Pasukan Handschar Nazi.

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Nazi Jerman diriwayatkan tidak memiliki banyak teman. Hanya Hirohito dari Jepang dan penggagas fasisme di Italia Benito Mussolini yang bersedia bergabung dalam Blok Poros seraya menjadi rekan perang Adolf Hitler.

Namun dalam sejarah, tidak pernah diriwayatkan mengenai cerita minor yang melibatkan antara Nazi dan Islam. Hitler memang tidak memiliki cukup alasan untuk melawan Islam. Bahkan seperti dikutip dari Sputnik News, Hitler memiliki hubungan yang dekat dengan mantan Mufti Yerusalem bernama Amin Al Husseini.

Kehadiran Husseini di pihak Nazi menarik banyak Muslim Eropa untuk bergabung dengan Hitler. Terlebih ketika itu situasi militer Nazi tengah memburuk sehingga membuat Berlin perlu membentuk koalisi perang baru yang lebih luas. 

Pendekatan pragmatis bersifat politis kemudian dilakukan Nazi kepada umat Islam di Yugoslavia. Hingga akhirnya Heinrich Himmler dan Gottlob Berger menggagas pembentukan resimen mayoritas Muslim pertama di Jerman bernama 13th Waffen Gebirgs Division Der Schutzstaffel Handscar.

Handscar memiliki arti pedang melengkung. Nama tersebut sengaja dipilih lantaran merupakan simbol dari tentara tradisional Muslim pada zaman dulu. Kebanyakan tentara Handscar berasal dari kawasan Eurasia dan Balkan yang dianggap Nazi memiliki kedekatan ras dengan Arya Jerman.

Pada awalnya, Handscar hanya bertugas untuk mengamankan wilayah Kroasia. Namun dalam perjalanannya, puluhan ribu pasukan Handscar berjuang untuk Nazi dalam Perang Dunia Kedua di berbagai misi, mulai dari Stalingrad hingga Warsawa. 

Disitat dari Deutsche Welle, Nazi tetap memberikan hak beribadah kepada tentara Muslim Handscar sehingga salat berjamaah diperkenankan. Nazi juga membangun kembali masjid dan madrasah yang sebelumnya dihancurkan Uni Soviet. 

Bahkan seluruh pasukan Nazi yang non Muslim diberikan buku berjudul "Islam und Judentum". Tujuannya agar mayoritas militer Nazi memahami serta menghormati para tentara Muslim Handscar.

Namun dalam buku berjudul "Islam dan Perang Nazi Jerman" karya seorang akademisi sejarah internasional bernama David Motadel dijelaskan bahwa Nazi melakukan propaganda dengan menggunakan retorika dan doktrin keagamaan untuk memobilisasi Muslim. 

Kepada Deutsche Welle, Motadel mengungkapkan bahwa Nazi mempolitisir ayat dalam Alquran, terutama mengenai konsep jihad yang melahirkan kekerasan dan kebencian dengan tujuan politik. Ragam alasan melatarbelakangi Muslim bergabung dengan Nazi, salah satunya karena menginginkan kebebasan dari Inggris.

Anggapan bahwa Muslim anti Yahudi dijadikan alasan untuk menarik massa. Padahal di beberapa kawasan Balkan dan Afrika Utara, penganut Islam dan Yahudi hidup damai berdampingan selama berabad lamanya. Bahkan dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa Muslim kerap membantu seorang Yahudi untuk bersembunyi dari kejaran tentara Nazi. 

Editor : Andres Fatubun
element line orangeARTIKEL TERKAITelement line orange

Komentar

Populer
Social Media
Yamaha Aerox Socmed Ayo Bandung 160x600