Yamaha NMax

Terlalu Sibuk dengan Isu SARA

  Jumat, 09 November 2018   Dadi Haryadi
Ilustrasi stop isu SARA.(pixabay)

Tahun politik kali ini nampaknya kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Mulai dari permasalahan yang dihadirkan oleh alam hingga permasalahan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Kita sedang dihadapkan dengan berbagai isu, mulai dari isu agama, politik, dan bahkan isu agama yang dikaitkan dengan politik.  

Negara kita adalah negara yang sangat beragam mulai dari adat, budaya, ras, bahasa, dan agama. Peru kita akui bersama bahwa masyarakat Indonesia di balik keragamannya itu memiliki masyarakat yang menjadi mayoritas dan memiliki power yang cukup besar dalam pembentukan dan kemajuan negara kita, yakni masyarakat muslim. 

Betapa sangat diharapkannya masyarakat muslim dalam membenahi dan menyikapi berbagai tantangan untuk mempersatukan bangsa agar lebih bijak dan dewasa dalam menyikapinya. 

Masalah Lain

Dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi, mulai dari kasus pembakaran bendera tauhid hingga unjuk rasa yang berujung pada kampanye politik. Nampaknya dapat membius khalayak banyak terutama di media sosial. Dari keseluruhan rangkaian kasus tersebut, pada waktu yang sama tidak kah kita sadar ada pihak lain yang juga sedang ingin memperjuangkan dan menyuarakan harapan-harapan mereka. 

Pernahkah kita berpikir bagaimana kondisi pasilitas Badan Pnyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang diterima masyarakat saat ini? Bukankah anggota DPRD Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menerima banyak keluhan dari masyarakat. 

Lalu bagaimana nasib buruh di daerah-daerah tertentu yang terkena dampak kebijakan yang dikeluarkan? Bagaimana nasib bangsa kita jika korupsi semakin berjamur di kalangan elite politik? Kemudian bagaimana nasib Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) saat ini?

Dan masih banyak lagi masalah lain yang perlu kita suarakan dan selesaikan bersama. Bukankah kesejahteraan masyarakat itu penting? Lalu marilah kita bersama-sama suarakan harapan, kita bantu memperjuangkan kesejahteraan mereka.

Sedikit orang dari kita yang menjadi masyarakat mayoritas menyadari ada sodara-sodara kita yang juga sedang memperjuangkan dan menyuarakan harapan mereka. Namun sayang sekali suara mereka seolah terbungkam dan kurang dukungan. 

Terlalu Sibuk

Nampaknya kita semua terlalu sibuk berkecamuk di satu ruangan yang diciptakan oleh tangan-tangan provokator yang tak kenal moral, tangan-tangan provokator yang ingin memecah belah, dan tangan-tangan provokator yang mementingkan keuntungan sebilah. Negara kita adalah negara yang dipersatukan oleh keberagaman, negara kita kokoh di atas pundamen agama, suku, ras, dan budaya yang berbeda. Jangan sampai kita terpecah pula oleh keberagaman tersebut. 

Di balik keberagaman yang ada, masyarakat Indonesia merupakan mayoritas beragama islam. Dengan demikian suara masyarakat muslim tentunya akan menjadi suara yang paling berpengaruh dan paling banyak di dengar. Oleh karenanya masyarakat muslim menjadi kunci negara kita tetap berdiri tegak, adil, dan makmur.

Berkaitan dengan itu, apabila masyarakat yang menjadi mayoritas terlalu sibuk di dalam ruangan yang diciptakan tangan-tangan provokator, nampaknya kita semua harus segera keluar dan melihat ada hal apa yeng terjadi di luar ruangan yang diciptakan provokator tersebut?  

Tentu saja banyak hal yang perlu kita benahi bersama dan menyuarakannya. Dengan kata lain, di samping kita menyuarakan hak kita sebagai umat muslim untuk saling menghargai antar umat beragama. 

Alangkah lebih baiknya apabila kita pun menyuarakan hak-hak, harapan, dan keluhan serta aspirasi teman-teman demi kesejahteraan.

Rinda Suherlina
Mahasiswa Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar