Yamaha NMax

Preman Tobat: Jatuh-bangun Kang Murad Keluar dari Jerat Dunia Malam (Bag. 1)

  Jumat, 09 November 2018   Nur Khansa Ranawati
Kang Murad atau Denny Firdaus (ayobandung.com/Nur Khansa)

AYO BACA : Preman Tobat: Jatuh-bangun Kang Murad Keluar dari Jerat Dunia Malam (Bag. 2)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Di sinetron Preman Pensiun, tokoh Kang Murad dikenal sebagai sosok yang sangar berbadan tegap. Perangainya yang serius dan irit senyum berbanding terbalik dengan sahabat sepaketnya, Kang Pipit. Meski demikian, gelagat Kang Murad tak jarang mengundang tawa penonton.

Agaknya wajah sangar tersebut jugalah yang berhasil mengantarkan pria bernama asli Denny Firdaus (47) ini terpilih untuk bergabung main sinetron, setelah 9 tahun berkecimpung di dunia sekuriti dan pengamanan, khususnya dunia malam.

Namun, untuk mencapai tempatnya sekarang, Denny harus berjuang  meninggalkan dunia yang dahulu digemarinya.

"Saya berniat memang pengen berhenti. Setelah dicoba, ya ternyata tidak mudah," ungkapnya ketika ditemui Ayobandung.com di sebuah rumah makan bakso di bilangan Holis, Rabu (7/11/2018) malam.

Pembawaanya santai dan cukup ramah, berbeda dengan yang dicitrakan televisi. Dia juga tak sungkan bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya bergabung dengan sejumlah agensi sekuriti di Kota Bandung.

Tak seperti pemeran Preman Pensiun lainnya, Denny tidak mengawali kariernya dari jalanan.

Setelah memutuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahnya di tahun pertama, dia mulai terpancing rasa penasaran untuk bisa mendapatkan badan tegap dan kekar.

"Setelah itu mikir juga, untuk apa sih badan besar. Dari situ mulai ikut gabung di pengawalan dari 2004," jelas anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Denny memulai pendidikan kepengamanannya di organisasi masyarakat PAGAR (Persatuan Anti Gangguan Regional), dan mulai mendapat pekerjaan pengawalan.

"Fisik dan mental saya benar-benar dibangun," ungkapnya.

Di sinilah dirinya mulai berkecimpung melakukan pengamanan sejumlah kelab-kelab malam dan karaoke di bilangan Braga dan Dalem Kaum.

Bertahun-tahun jaga malam dan mengamankan kedai-kedai yang menjual minuman keras, dirinya mengakui, hidupnya kala itu sudah mencapai titik mudah dan enak.

"Sebelum kerja bisa olahraga, kalau mau SPA juga bisa, lanjut kerja, jam 10 atau 11-an malam sudah bisa minum-minum, kurang enak apa," ungkapnya.

Dirinya mengaku, upah yang didapat dari pekerjaan tersebut juga terbilang besar, bisa mencapai Rp800 ribu per hari.

Namun, kemudahan tersebut bukan berarti tanpa hambatan. Denny yang saat itu sangat tidak dekat dengan keluarganya, kerap menemukan permasalahan di tempatnya bekerja.

"Ya, ada aja kecurangan-kecurangan. Misalnya saya seharusnya sudah bisa menempati posisi tertentu, kenyataanya berbeda. Dikucilkan atau dicemooh teman juga sudah biasa," ungkapnya.

Rasa kosong dan lelah dalam batinnya kemudian menjadi sesuatu yang tak dapat dinafikkan lagi. Denny memutuskan berhijrah dari tempat hiburan malam.

"Saya tinggalin (kelab malam), dan ternyata cari kerja itu susah. Dunia keamanan saya tinggalkan tapi pertemanan masih baik," tuturnya.

Dia mengaku sempat kerja serabutan, namun masih dalam bidang keamanan. Salah satu yang paling dia ingat adalah ketika harus menjaga sebuah tanah kosong.

"Itu saya benar-benar tidur di tanah, dan akhirnya bikin dipan dari kayu. Ada anjing-anjing besar ikut jaga," tutur pria beranak satu ini.

Meski demikian, dirinya terus merasa tertantang untuk bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

"Kalau orang lagi susah dapat hidup enak kan gampang, yang susah itu kalau hidup sudah enak terus mau susah," ungkapnya.

AYO BACA : Preman Tobat: Kemod, Penguasa Jalanan Bandung yang Sering Masuk Bui

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar