Yamaha NMax

Preman Tobat: Lika-liku Perjalanan Kang Pipit, Si Penunggu Terminal (Bag. 1)

  Kamis, 08 November 2018   Nur Khansa Ranawati
Kang Pipit (ayobandung.com/Nur Khansa)

AYO BACA : Preman Tobat: Iskandar Bule, Manusia Tersangar di Bandung Tempo Dulu (Bag. 2)

AYO BACA : Preman Tobat: Kemod, Penguasa Jalanan Bandung yang Sering Masuk Bui

BUAHBATU, AYOBANDUNG.COM--Sosok Kang Pipit (57) di sinteron "Preman Pensiun" tak jarang mengundang gelak tawa penonton. Meski wajahnya sangar, tapi pembawaanya yang lucu menjadi komedi tersendiri. Kepala plontos dan tato naga di lengan kanannya menjadi ciri khas pria bernama asli Ica ini.

Pembawaan lucu itu pun, ternyata sesuai dengan sifat aslinya sehari-hari.

Ayobandung.com berkesempatan menyambangi basecamp-nya yang terletak tak jauh dari Kampus Uninus, Rabu (7/11/2018) pagi untuk berbincang perihal pengalamannya selama menjadi preman Kota Kembang.

Setelan yang dikenakan Pipit pagi itu sama persis dengan yang kerap dilihat di layar televisi, kaus hitam pas badan, celana jin, dilengkapi kalung berliontin batu andalannya.

"Kang Pipit belum mandi, belum kasep, biarin yah," ujarnya ketika menyambut Ayobandung.com di pintu masuk.

Kami pun mengobrol di lantai atas. Foto keluarga Didi Petet dan ilustrasi wajah salah satu pemain Preman Pensiun, Kang Dikdik, terpajang di dinding.

"Di sini mah tempat ngumpul aja, basecamp, rumah Kang Pipit aslinya di Rancaekek," jelasnya seraya mempersilakan duduk.

Sambil menyeruput kopinya, dia bercerita mengenai awal mula mengenal dunia preman.

"Awal nakalnya di tahun 1982-an, tapi ya cuma nakal-nakalan, preman persaudaraan Kang Pipit mah. Teu bisa gelut (Tidak bisa berkelahi)," ujarnya.

Di awal usia 20-an tersebut, dia kerap mengamen di sekitaran Rancaekek bersama teman-temannya. Saat itulah Pipit atau Ica mulai senang menenggak minuman keras.

"Di sana mulai suka minum-minuman haram. Waktu ngamen itu pernah ngalamin ditahan (polisi), sampai kena bacok," jelasnya.

Soal bacok-membacok tersebut, walaupun tak sampai menewaskan orang, awalnya kerap dipantik oleh selisih paham.

"Ya biasalah kalau mabuk kan orang suka lepas kendali," ungkap dia.

Merasa harus meningkatkan taraf hidup, Ica yang hanya menamatkan pendidikan dasarnya, kemudian memutar otak untuk mencari nafkah dengan halal.

"Dari sana jadinya mulai narik becak sambil jadi kuli bangunan," jelasnya.

Ica melakoni pekerjaan sebagai penarik becak usia 25 hingga kepala tiga. Setiap hari, dirinya mencari nafkah di ruas jalan Cicadas hingga Kiaracondong.

Tanpa meninggalkan kegiatan mengamennya, Ica juga merambah profesi kuli bangunan serabutan untuk menambal biaya hidup sehari-hari.

Sampai akhirnya dia merasa penasaran dengan kegiatan premanisme di sejumlah terminal.

Ica kemudian menjadi penunggu wilayah Kebon Kalapa dan Cicaheum.

"Itu karena penasaran aja sih, bagaimana preman sehari-harinya bisa mencari uang di terminal dengan macam-macam cara, bisa dengan jadi calo, jualan, dan lain-lain," jelasnya.

Dirinya mengaku tidak pernah dengan sengaja melakukan kejahatan selama menjadi preman. Permasalahannya kerap terjadi akibat cekcok dan selisih paham dengan preman lainnya.

Hal tersebut jugalah yang membawa Ica mendekam di lapas hingga hampir 4 tahun.

Dia menjalani 2 tahun masa tahanan di Lapas Kebon waru dan 1,5 tahun di Purwakarta.

"Gara-gara parea-rea omong aja itu mah, Kang Pipit membela harga diri, enggak mau muka yang tadinya gini jadi bonyok. Jadi ya milih bertanggung jawab aja," kenangnya.

Di lapas pulalah dia membuat tato khasnya yang bergambar naga tersebut. Mulai saat itu, dirinya dijuluki Ica Naga.

"Tato ini mah beda dari yang lain. Ada jendul-jendul-nya karena alergi," ungkapnya seraya tertawa.

AYO BACA : Preman Tobat: Lika-liku Perjalanan Kang Pipit, Si Penunggu Terminal (Bag. 2)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar