Yamaha NMax

Menelisik Pemberitaan Lion Air PK-LQP yang Terlupakan

  Selasa, 06 November 2018   
Grafis Lion Air JT610.(Attia)

Seharusnya ada survei untuk menguji apakah masyarakat puas dengan pemberitaan media tentang pesawat Lion Air  PK-LQP, B-737-Max 8 JT-610  yang jatuh ke perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada Senin, 29 Oktober 2018.

Survei ini diperlukan karena hasilnya dapat menjadi pendorong bagi media untuk memperbaiki pola dan kedalaman pemberitaan.

Magnitude pemberitaan sangat besar karena merupakan kecelakaan terburuk kedua di Indonesia dengan 188 penumpang dan awak pesawat meninggal dunia. Tambahan lagi, pesawat-pesawat Lion Air paling banyak mengalami kecelakaan, di antaranya terjerembab di perairan dangkal di laut Bali, beberapa meter dari ujung landasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, pada 13 April 2013.  

Lalu pada 30 November 2004, pesawat MD-82 dengan nomor penerbangan JT 538 melampaui landasan ketika mendarat di Bandara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah. Sejumlah 26 orang tewas, 55 orang luka berat, dan 63 orang luka ringan.

Laksana Air

Informasi tentang musibah di Tanjung Karawang mengalir laksana air. Para pejabat Badan SAR Nasional secara teratur memberi informasi tentang pencarian dan penemuan pada kedalaman 30-40 meter dari atas permukaan laut.

Pemberian informasi itu diperkuat dengan laporan bergambar secara langsung dari kantor pusat Basarnas, tempat sandar kapal-kapal penolong di Jakarta International Container Terminal (JCT) II Tanjung Priok, maupun di tempat jatuhnya pesawat.

Salah satu aspek yang memerlukan perhatian adalah berulangkali muncul pernyataan tentang pencarian kotak hitam atau black box. Pernyataan ini bertolak belakang dengan harapan keluarga korban yang ingin memperoleh kabar secepat-cepatnya nasib para penumpang.

Kedua-duanya penting, namun menemukan korban jauh lebih penting. Maka dari itu, pada pertemuan di Hotel Ibis, Cawang, Senin, (6/11/2018) keluarga mengeluh sebab sudah enam hari tetapi belum memperoleh kabar apapun tentang nasib sanak kadangnya. Pernyataan ini menunjukkan dalam perspektif keluarga, kotak hitam bukan pada peringkat pertama.

Dalam konferensi pers itu, terdapat kesan instansi-instansi pemerintah menangani sepenuhnya musibah ini. Adapun tiga pimpinan utama Lion Air duduk  barisan pertama, seperti halnya keluarga korban. Mengapa Presdir Edward Sirait atau pemilik Rusdi Kirana tidak duduk di panggung?

Liputan Media

Dari waktu ke waktu, media terutama televisi makin canggih meliput. Berkat dukungan teknologi, awak media dapat menyiarkan secara langsung dari posisi yang dulu dianggap mustahil yakni di tengah laut. Berkat peliputan ini, khalayak dapat melihat kesungguhan para pencari dan wahana pendukungnya.

Tak cukup hanya itu, talks show digelar dengan bermacam-macam narasumber. Pejabat pemerintah, mantan pejabat pemerintah, kalangan penerbangan dan pengamat.

Manajemen Lion Air sendiri relatif jarang muncul sebab berpendapat menunggu hasil penelitian Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT).

Sungguh pengetahuan khalayak mengenai dunia penerbangan makin bertambah, apalagi laman Flightradar24 ditampilkan. Peringkat stasiun televisi meningkat dan dengan sendirinya mengundang pemasang iklan.

Sayangnya, serangkaian pertanyaan yang diajukan nyaris sama dengan jawaban serupa. Misalnya, mempertanyakan, sebab-sebab kecelakaan dan jawabannya adalah menunggu hasil kerja KNKT. Jawaban yang sumir tidak bisa disalahkan sebab memang begitu logikanya.

Mengapa tidak ditanyakan, berapa jumlah jam terbang kapten pilot dan pilot pada pesawat Boeing 737-Max 8. Telah disebut masing mempunyai 6.000 dan 5.000 jam terbang, berapa porsi jam terbang untuk B-737-Max 8? Berapa persyaratan pemilikan jam terbang bagi kedua awak kokpit? Adakah pelatihan khusus?

Yang juga kurang disinggung adalah aspek keuangan dan manajemen. Para narasumber menyatakan, sebagai pilot mereka tidak mau terbang jika ada ketentuan yang tidak dipenuhi. Bagaimana dampak penundaan terhadap pendapatan perusahaan?

Mantan Sekretaris Kemeneg BUMN Said Didu, dalam satu wawancara televisi menyatakan, keuntungan penerbangan bertarif rendah sangat kecil dan penundaan penerbangan satu pesawat hanya dapat ditutupi oleh pendapatan tiga pesawat yang penumpangnya penuh. 

Pemberitaan media yang bernas sangat membantu terselenggaranya penerbangan yang aman. Ia pun mendukung bisnis yang berisiko tinggi ini.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar