Yamaha Lexi

Mengalirkan Rezeki Bandara Kertajati untuk Semua

  Kamis, 11 Oktober 2018   
BIJB Kertajati.(Humas Jabar)
Majalah Prisma 43 tahun lalu menerbitkan satu edisi yang menggugat ilmu ekonomi. Dikatakan, ilmu ekonomi menganggap dirinya sebagai ratu ilmu sosial yang bisa mengatasi semua masalah, namun ketika masalah tidak bisa diatasi maka muncul dalih, itu di luar kekuasaan.
 
Keharusan untuk menyelesaikan masalah secara terpadu terlihat pada penyaluran Dana Desa. Desa yang memperoleh Dana Desa Rp 800 juta diharapkan menjadi desa yang produktif dan sebagainya. 
 
Dalam kenyataannya harapan tak terwujud. Desa tersebut berlokasi jauh dari kantor bank dan hanya bisa dicapai melalui sungai selama berjam-jam. Uang itu kemudian lenyap karena perahu yang membawa Kades terbalik. Perhitungan ekonomi tak menjangkau betapa jauh lokasi bank dari kantor desa.
 
Dewasa ini, Dana Desa dikelola, didukung dan diawasi secara terpadu. BPK provinsi, inspektorat daerah, kejaksaan, kepolisian dan lainnya ikut terlibat. Dana juga tak diambil sekaligus, melainkan secara bertahap sesuai kebutuhan. Jadi tidak hanya pertimbangan ekonomi yang dipakai untuk menyukseskan pencapaian target penyaluran program Dana Desa .
 
Kertajati untuk Semua
 
Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati yang operasional secara komersial 8 Juni lalu akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Berbagai kegiatan ekonomi ada di sini. Mulai dari pendukung bisnis transportasi udara, penjualan makanan-minuman, serta pengangkutan barang dan jasa. 
 
Gedung-gedung perkantoran, bisnis ritel, kos-kosan dan restoran akan tumbuh. Ribuan tenaga kerja diserap. Harga tanah di sekitar bandara lebih mahal. Lahan pertanian/perkebunan akan berubah, terjadi transformasi pola kerja.
 
Bila sekarang hanya satu dua airlines dengan satu atau dua frekuensi penerbangan, maka nanti akan bertambah. Bila sekarang hanya ada sedikit penerbangan komersial, maka kelak akan ada penerbangan umrah dan kemudian haji.
 
Potensi Bandara Kertajati luar biasa. Ia dipersiapkan melayani calon penumpang dari Bandung dan sekitar, Cirebon, penduduk di bagian Jawa Barat dan Jawa Tengah yang terlalu jauh untuk menuju Bandara Hussein Sastranegara atau Yogyakarta. Ia mampu melayani sedikitnya 29 juta penumpang per tahun, 1,5 juta ton kargo sedangkan panjang landasan kelak akan ditambah dari 2.500 meter menjadi 3.000 meter. 
 
Masalahnya sekarang, siapa yang akan menikmati kemajuan tersebut?  
 
Pertama-tama tentulah mereka yang dekat dengan pusat kekuasaan dan pemilik modal. Menyusul di belakang masyarakat kebanyakan yang umumnya mempunyai keahlian serta modal terbatas.
 
Kondisi serupa di atas terjadi dimana-mana. Modernisasi stasiun kereta api di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) menyebabkan pedagang-pedagang tradisional terpinggirkan. Mereka digantikan nama-nama besar dalam bisnis ritel. Memang, stasiun terkesan modern, namun tetesan rezeki tidak sampai ke yang terpinggirkan itu.
 
Cerita di atas selayaknya menjadi contoh agar pembangunan pusat ekonomi tidak menciptakan, memperlebar kesenjangan atau menimbulkan kemiskinan baru karena hasil ganti rugi lahan tak dimanfaatkan dengan baik. 
 
Mayoritas anggota masyarakat akhirnya menjadi penonton atau memperoleh pendapatan minimal karena wawasan dan keahlian terbatas. Lama-kelamaan mereka akan makin tersingkir.
 
Rezeki dari Bandara Kertajati akan mengalir ke segala arah dan lapisan bila sejak awal dibuat berbagai kebijaksanaan/peraturan yang menjamin keikutsertaan semua pihak. Tidak muda, namun harus dilakukan sebelum berkembang menjadi tidak terkendali. Salah satu diantaranya adalah dengan mendirikan koperasi-koperasi serta membuat peraturan yang melindungi hak-hak rakyat atas tanah.
 
Terkait dengan kepentingan rakyat, Kerajaan Bhutan mencuri perhatian karena berhasil menerapkan kebijaksanaan yang membahagiakan rakyat. Diantaranya menerapkan standar hidup, kesehatan, pendidikan, pemerintahan yang baik, keanekaragaman ekologi dan ketahanan, penggunaan waktu, kesejahteraan psikologis, keanekaragaman budaya dan ketahanan, dan vitalitas masyarakat.
 
Penerapan mewujudkan kebahagian nasional bruto tersebut bisa diterapkan di mana saja. Tergantung kemauan! 
 
Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar