Yamaha Aerox

Alasan Kota Bandung Rawan Likuifaksi

  Kamis, 11 Oktober 2018   Fathia Uqimul Haq
Kepala Sub Bidang PIPW Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso. (Fathia Uqimul Haq/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kepala Sub Bidang PIPW Bappelitbang Kota Bandung, Andry Heru Santoso mengatakan fenomena likuifaksi terjadi karena perkembangan kota Bandung yang cukup pesat. Di samping itu rata-rata pembangunan dibuat vertikal dan banyaknya kawasan padat penduduk.

"Artinya jalur evakuasi atau ruang evakuasi itu mungkin perlu segera dilakukan. Apabila terjadi bencana itu bisa diminimalisir," katanya, Kamis (11/10/2018). 

AYO BACA : 10 Kecamatan di Bandung Rawan Likuifaksi

Menurutnya, potensi pengambilan air bawah tanah, khususnya di kawasan perumahan atas terbilang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena PDAM  tidak mampu lagi menyediakan sambungan air baru. Sehingga alternatif yang paling murah hanya dari pengambilan air bawah tanah.

"Ini menyebabkan kawasan air tanah semakin menipis. Sedangkan recharge atau pengisian ulang itu butuh waktu yang cukup lama," ujarnya.

AYO BACA : Mengenal Fenomena Likuifaksi

Hal ini sudah terjadi di beberapa kawasan, khususnya industri tekstil, garmen, dan daerah komplek yang rawan terjadi penurunan tanah. Fenomena pembangunan kawasan perumahan anyar semakin mempercepat terjadinya penurunan permukaan tanah bahkan likuifaksi.

Pembangunan perizinan, kata Andry, sudah tidak mungkin lagi diberhentikan. Penduduk kota Bandung dengan jumlah 2,5 juta bahkan akhir pekan di angka 3-4 juta menjadi angin segar bagi pengusaha untuk terus membuat bangunan komersial. Langkah selanjutnya adalah mengevaluasi perizinan bangunan tersebut. 

"Bahkan untuk memperpanjang IMB baru atau izin baru itu persyaratan harus diperketat. Khusus kawasan yang memang secara risiko termasuk juga kawasan yang tidak mempunyai izin. Bantaran sungai, kumuh, padat penduduk mungkin menjadi PR kita bersama. Kebijakan rencana tata ruang kita intervensi supaya tingkat risikonya kita perkecil, karena tidak mungkin lagi kita hilangkan," pungkasnya.

AYO BACA : LGBT Berisiko Alami Gangguan Jiwa

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar