Yamaha Lexi

Kreatif, Cara Unik Santri Manbaul Huda di Hari Tanpa Bayangan

  Kamis, 11 Oktober 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Para santri MA Persis Manbaul Huda melaksanakan praktikum Hari Tanpa Bayangan, Kamis (11/10/2018). (Anggun Nindita K Putri/ayobandung).

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Santri di Madrasah Muallimin Persatuan Islam Manbaul Huda punya cara unik dalam melewati hari tanpa bayangan pada Kamis (11/10/2018). Santri terlihat berkumpul di lapangan pesantren untuk mengikuti praktikum sebagai pembuktian hari tanpa bayangan ini.

Santri yang duduk di kelas 10 ini dibagi menjadi delapan kelompok yang berisi masing-masing lima anggota. Nurlatifah Kalifah, seorang guru mata pelajaran Astronomi, terlihat membagikan lembar kerja kepada para santri.

Setiap kelompok disediakan sebuah meja yang di atasnya terdapat kertas HVS, wadah berisi air, serta sebuah benda yang berbentuk tegak lurus. Rata-rata para santri membawa spidol untuk benda yang berbentuk tegak lurus ini.

“Kalau menurut BMKG 'kan hari tanpa bayangan itu terjadinya pukul 11.36 WIB, jadi kami di sini semua untuk membuktikan fenomena tersebut,” kata Nurlatifah saat ditemui di Madrasah Muallimin Persatuan Islam Manbaul Huda.

AYO BACA : Ini Penampakan Tubuh saat Hari Tanpa Bayangan Terjadi

Para pembimbing praktikum kemudian memberikan instruksi pada santri untuk mengukur garis lintang di tempatnya dengan menggunakan google maps. Santri lalu mencari data matahari melalui aplikasi.

Mengingat syarat utama dari hari tanpa bayangan ini adalah mengukur kedataran, data garis lintang akan dicocokkan dengan data matahari yang sudah didapatkan. Wadah air yang disediakan berfungsi sebagai waterpass, mengingat permukaan air yang selalu datar. Sementara itu, penggunaan kertas HVS bertujuan untuk mempertegas bukti hilangnya bayangan.

“Permukaan meja kan agak buram jadi takutnya tidak bisa membedakan bayangannya. Adapun memakai spidol sebagai benda yang tegak lurus, karena kalau ada benda yang bentuknya melenceng ke dalam atau keluar, nanti bayangannya tetap ada sebab tumpuannya lebih kecil,” ucapnya.

Lalu santri diminta mengamati penampakan bayangan pada spidol, mulai ketika bayangannya masih nampak, saat bayangan mulai menghilang, lanjut ke momen bayangan hilang total, hingga waktu munculnya lagi bayangan.

AYO BACA : FA-G1, Alat Pendeteksi Banjir dari Santri Mualimin Manba'ul Huda

Tak lupa, para santri pun mencatat waktu di saat bayangan mulai menghilang sampai kembali tampak. Mereka juga merekam momen tersebut dalam bentuk foto maupun video.

“Di akhir saya minta santri membuat laporan. Saya melatih anak-anak untuk melakukan metode penelitian. Tahapannya bagaimana melakukan percobaan sampai olah data dan analisis. Jadi mereka bahas di kesimpulan,” tutur wanita yang akrab disapa Nur ini.

Seorang santri kelas 10 IPA Madrasah Muallimin Persatuan Islam Manbaul Huda, Nabil Akbar, mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mengikuti praktikum di Hari Tanpa Bayangan ini.

“Untuk praktikum ini baru kali ini mengalami karena sebelumnya saya belum pernah menemui Hari Tanpa Bayangan. Akhirnya dengar dari guru ada praktikum ini, rasanya sangat beruntung dapat pengalaman baru,” katanya.

Kendati sebelumnya sempat mengalami masalah non teknis, tapi Nabil menilai kegiatan praktikum telah berjalan dengan lancar.

“Kita harus ke tengah lapang di tengah matahari langsung. Sebelumnya juga jelang praktikum itu angin cukup kencang. Cukup khawatir juga dan harus bertahan untuk lihat hasilnya. Alhamdulillah puas juga setelah melihat hasilnya,” tuturnya.

AYO BACA : Keren, Santri Ini Bikin Aplikasi Gim Pengetahuan Lapisan Atmosfer

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar