Yamaha Lexi

LGBT Berisiko Alami Gangguan Jiwa

  Kamis, 11 Oktober 2018   Fathia Uqimul Haq
Psikiater FK Universitas Padjadjaran (Unpad) Teddy Hidayat. (Fathia Uqim/ayobandung)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Sekelompok remaja dalam sebuah kelompok Gay di media sosial di Garut membuat heboh akhir-akhir ini. Mencuatnya kasus ini membuat aparat kepolisian Garut tengah menyelidiki motif pembuatan grup gay di Facebook.

Psikiater Universitas Padjadjaran (Unpad), Teddy Hidayat, menjelaskan seseorang yang masuk dalam kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) berisiko mengalami gangguan kejiwaan.

Menurutnya, LGBT bukan penyakit jiwa namun ada risiko mengarah ke gangguan jiwa. 

AYO BACA : Dituduh Dukung LGBT, Ini Reaksi Emil

"Risiko gangguan jiwa bakal terjadi ketika seseorang telah terpapar penyakit seksual seperti HIV atau hepatitis C, terus dikucilkan dari kelompok dan lingkungan sekitarnya," katanya, Rabu (10/10/2018).

Teddy memaparkan dalam 5 tahun terakhir kasus HIV meningkat. Sekitar 70% kasus infeksi HIV berasal dari hubungan seks sesama jenis atau disebut homoseksual.

Peningkatan ini, kata Teddy, disebabkan dari kelompok yang berperilaku homoseksual. Tak ada jaminan keamanan dalam berhubungan seksual sesama jenis sampai dia mengidap HIV atau Hepatitis C.

AYO BACA : Hoaks, Kabar Pesta Seks LGBT Mencatut Alamat Toko Roti

"Angka homoseksual tidak akan naik tajam, enggak pernah. Naik pun tidak akan tinggi. Kalau tiba-tiba ada kenaikan, berarti ada sesuatu. Jangan-jangan dia cari duit untuk bisa bergaul, lifestyle dengan perilaku homoseksual," katanya.

Teddy menjelaskan penekanan angka penyebaran penyakit HIV dan hepatitis memerlukan  identifikasi pengelompokan seseorang yang telah terjangkit dengan yang tidak sembari mengembalikan perilakunya ke kondisi normal.

Dia tengah mencoba membuat instrumen untuk membedakan setiap orang dalam pengelompokan. 

"Itu kan harus diukur dengan baik dengan alat yang benar. Kalau sudah ketemu, baru intervensinya seperti apa," kata dia

LGBT yang stres dan depresi karena tidak memiliki penerimaan di lingkungan akan mengakibatkan kondisi jiwa terganggu, konflik dengan diri sendiri,dan berisiko HIV. 

"Tentu ini berisiko, kita harus tangani dengan baik," kata dia.

AYO BACA : PHRI Jabar Belum Temukan Pelaku LGBT di Hotel

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar