Yamaha Lexi

Wahai Para Suporter, Saatnya Tinggalkan Nyanyian Berbau Rasial

  Rabu, 10 Oktober 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Bobotoh Persib. (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Wacana perdamaian antarsuporter kembali terdengar gaungnya. Apalagi setelah adanya insiden tewasnya salah seorang anggota The Jakmania, Haringga Sirila saat laga Persib melawan Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), akhir September lalu.

Namun kenyataan di lapangan tidak demikian. Saat pertandingan yang mempertemukan Arema dengan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (6/10/2018), suporter Arema yakni Aremania masih menyanyikan lagu yang memiliki lirik “dibunuh saja” . Ironis, sebab chant berbau negatif tersebut terdengar saat kedua tim sedang dalam momen mengheningkan cipta untuk penghormatan bagi korban gempa di Palu dan Donggala.

Selama 90 menit waktu pertandingan, beberapa kali chant “dibunuh saja” ini sempat terdengar. Tentu saja hal ini bertentangan dengan imbauan dari Kemenpora untuk menghilangkan chant berbau rasis dan negatif demi mewujudkan perdamaian antarsuporter.

Ketua Viking Girls, Triana Pujiastuti, menyambut positif wacana menghilangkan chant berbau rasial saat di lapangan. Dia mengakui bobotoh sudah mengurangi nyanyian-nyanyian berbau negatif sejak 2012 lalu.

Sebagai gantinya, kini bobotoh lebih banyak berkarya melalui serangkaian koreo yang berbentuk kreatif.

AYO BACA : Saatnya Suporter Jadi Agen Perubahan Demi Masa Depan Sepakbola

“Sejak Persib menang di Palembang 2014, nyanyian rasial sudah berkurang,” kata wanita yang akrab disapa Bunda Ana ini, Rabu (10/10/2018) di Graha Persib.

Kendati demikian, dia tidak bisa menyangkal banyak faktor yang membuat para suporter menyerukan nyanyian bernada negatif, salah satunya adalah riwayat rivalitas.

Ana menyatakan, tim-tim yang memiliki sejarah rivalitas sejak lama cenderung lebih mudah untuk terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. Selain itu, faktor kurangnya edukasi, disebutnya menjadi penyebab lain masih banyaknya chant berbau rasial ini.

“Sebenarnya chant itu ditujukan untuk menjatuhkan mental tim lawan. Masih banyak yang belum mengetahui batasan rivalitas dengan rasial. Memang dibutuhkan penyuluhan serta edukasi kepada suporter. Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat di stadion,” ungkapnya.

Bahkan dia menuturkan, PSSI sebagai federasi sepakbola Indonesia bisa memiliki sebuah kebijakan yang mengatur tentang ketertiban suporter.

AYO BACA : Ribuan Bobotoh Kirimkan Doa untuk Haringga Sirila

Pentolan Bonek, Andie Peci pun menyayangkan masih adanya chant rasial yang ditujukan pada timnya. Menurutnya kematian Haringga seharusnya bisa dijadikan momen bangkitnya perdamaian antarsuporter.

“Pascakematian Haringga seharusnya tidak perlu lagi ada lagu “dibunuh saja”. Kenapa muncul lagi lagu gembel-gembel? Saya sedang menjadikan momentum meninggalnya Haringga menjadi lebih baik untuk semuanya,” tulis Andie Peci pada akun Twitter ofisialnya.

Sama seperti Bunda Ana, Andie pun meminta suporter seluruh Indonesia untuk mulai meninggalkan perilaku-perilaku negatif saat mendukung tim kesayangannya.

Pelatih Persib, Mario Gomez, pun menolak dengan tegas aksi-aksi berbau rasial yang dilakukan oleh para suporter. Menurutnya tindakan seperti ini bisa semakin menyulut permusuhan antarsuporter.

“Rasisme sangat tidak dibenarkan dalam sepakbola, bahkan dalam semua aspek. Saya harap tidak ada lagi aksi-aksi seperti ini karena itu perilaku buruk," ujarnya belum lama ini.

Dia pun berpesan kepada seluruh suporter agar bisa menjunjung tinggi fair play dan selalu bertindak sportif.

"Perlu edukasi yang berkelanjutan. Semoga semua bisa mendukung setiap perdamaian. Sekali lagi, saya tidak membenarkan nyanyian-nyanyian rasis di dalam sepakbola," katanya

AYO BACA : Bobotoh Medic Siap Layani Kesehatan Korban Gempa Palu

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar