Yamaha Lexi

Ketika Gempa, Kartu Debit Tak Berarti

  Rabu, 10 Oktober 2018   Rizma Riyandi
Kartu debit

Kecanggihan teknologi benar-benar memudahkan transaksi keuangan. Nasabah menyimpan uang di bank,  kalau mau mengambil, cukup datang ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang tersebar di mana-mana. Bayar angsuran pinjaman, bayar tagihan listrik, air atau mengirim uang cukup pencet sana -pencet sini maka bereslah sudah.

Transaksi juga bisa dilakukan dari telepon pintar, smart phone, atau mobile phone. Kecuali mengambil uang secara fisik, segala jenis transaksi sudah dapat dilakukan melalui benda yang ukurannya lebih kecil dari telapak tangan itu. Serba mudah, cepat,murah dan relatif aman.

Kecanggihan teknologi perbankan terbukti pula mengurangi secara drastis tindak kejahatan. Nyaris tak ada lagi perampokan uang gaji atau uang setoran. Bagaimana mau merampok bila transaksi lewat ‘langit’.

Menjamurnya penggunaan kartu debit, disebabkan perbankan mengharuskan nasabahnya mempunyai kartu ATM dengan imbalan biaya pembuatan yang murah atau gratis. Minimal deposito rata-rata Rp 25 ribu, hanya Bank Mandiri yang memberlakukan deposito minimal Rp 125 ribu. Kalau nasabah melakukan transaksi lewat teller, ongkosnya lebih mahal berkali lipat dibandingkan melalui ATM.
 
Kebijaksanaan bank ini membuat antrean loket-loket bank berkurang. Apalagi sudah ada ATM yang bisa menerima setoran, sekaligus mengambil uang. Kondisi yang menjadi dasar ramalan.... teller kelak tidak diperlukan lagi.
Membuat Terlena

Kecanggihan teknologi komunikasi dan perangkat lunak serta kebijaksanaan perbankan yang berorientasi kepada efisiensi, mulai ‘menyingkirkan’ uang kertas atau bank notes. Makin banyak toko-toko, terutama di luar negeri yang hanya menerima pembayaran dengan kartu kredit atau kartu debit untuk bertransaksi. Naik bis atau naik kereta cukup menggunakan kartu debit yang punya berbagai nama... E-Money, Brizz dan macam-macam.

Sekalian kemudahan tersebut membuat masyarakat terlena, seolah tak ada masalah. Seperti berlayar di kapal pesiar dengan gelombang air yang tenang dan angin sepoi-sepoi bikin mengantuk. Padahal ada cyber crime dan belakangan ini ada bencana alam seperti gempa, tsunami atau tanah bergerak.

Dalam bencana alam di Palu, Sigi dan Donggala, mendadak banyak nasabah yang miskin. Mereka tidak punya uang kertas karena tergantung kepada kartu debit atau kartu kredit. Sayangnya,kartu-kartu itu tidak bisa dipakai karena ATM-nya hanyut,  sistemnya rusak atau sekalipun wujudnya sehat wal afiat tetapi tak bisa dimanfaatkan karena listrik mati.

Dampak bencana alam telah memberi pemahaman tentang pentingnya listrik sebagai sumber daya energi yang menopang kehidupan manusia, terutama transaksi perbankan. Listrik telah berkembang menjadi sumber daya strategis, yang tidak boleh dikelola dengan biasa-biasa saja.  Manajemen tidak bisa selalu menyalahkan monyet sebagai penyebab arus listrik terganggu.
 
Manajemen perbankan mencoba mensiasati kerawanan pasokan listrik dengan menyediakan genset, tetapi genset juga bisa menjadi korban bencana alam. Genset dapat pula menjadi benda yang diam membisu jika di perutnya tak ada BBM.

Uang Kertas Untuk Tiga Hari

Bencana alam  di Aceh, Padang, Yogyakarta, Lombok ataupun Palu dan sekitar memberi pelajaran betapa berbahaya menggantungkan kenyamanan kepada berbagai macam kartu itu. Nasabah perlu memiliki sejumlah uang tunai yang cukup untuk membiayai keperluan hidup  minimal tiga hari. Setidaknya bercermin dari dimulainya pengoperasian kembali berbagai ATM di Palu.

Diantara negara-negara tetangga, warganegara Singapura paling maju dalam penggunaan transaksi keuangan secara elektronik. Singapura juga sudah maju dalam menganekaragamkan penjualan produk melalui vending machine atau mesin jual otomatis.

Seorang pengusaha baru-baru melalui vending machine menjual seporsi kepiting saus Singapura Harganya S$79 per porsi atau hampir Rp 900 ribu  rupiah.  
Pengusaha tersebut, yang juga memiliki restoran Seafood, optimistis jualannya akan laris. Semoga tidak ada gempa.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar