Yamaha Lexi

Hoaks Akan Selalu Ada Tanpa Kesadaran Diri

  Selasa, 09 Oktober 2018   
Logo antihoaks.(Net)

Hoaks menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah berita bohong. Dan memang pengertian itulah yang berkembang di masyarakat tentang hoaks.

Dalam Oxford English dictionary, hoaks didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.

Namun banyak netizen yang mendefinisikan bahwa hoax adalah berita yang ia tidak sukai. Misalnya karena memang tidak suka terhadap B, dikarenakan ada beberapa faktor yang membuat si A tidak suka terhadap B, maka apa yang dilakukan oleh B dimata A selalu salah, tanpa melihat konteksnya.

Padahal kalau tidak ada kebencian sebelumnya maka pola pikir kritis A akan berjalan, mencoba memahami konteksnya, menganalisis, mengkonfirmasi, bahkan bisa saja langsung bertemu dengan si B. Di sinilah perlunya kesadaran diri.

Hoaks bukanlah sesuatu yang baru, dan sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439.

Sebelum zaman internet , hoax lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk memverifikasinya. Mungkin sekarang lebih gampang untuk memverifikasi hoax karena sudah ada medianya walaupun sampah hoaks lebih banyak dan berserakan di mana-mana.

Bahkan kementerian komunikasi dan informatika (Kominfo) telah membuat langkah-langkah untuk memerangi hoaks dengan cara penegakan hukum (UU ITE dan KUHP), memberlakukan denda bagi penyelenggara media sosial yang tidak melakukan langkah yang cukup, bahkan sampai pemblokiran.

Bila masyarakat menemukan berita, foto, dan video hoaks di internet dengan melaporkan ke aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Tips-tips untuk mendeteksi berita hoaks sebenarnya sudah banyak yang mensosialisasikan baik oleh pemerintahan melalaui Kominfo, praktisi, organisasi, komunitas, dan lain-lain guna mencerdaskan masyarakat agar melek media.

Bagaimanapun hoaks banyak sekali disebarkan melalui media sosial atau internet dan tentu tujuan intinya yaitu agar masyarakat tidak mudah menelan berita-berita hoaks.

AYO BACA : Hoaks Merajalela Jelang Pilpres, Siapa Memancing di Air Keruh?

Menyebarnya hoaks di internet ini sebenarnya bukan problem yang hanya terjadi di Indonesia. Bahkan, Amerikas Serikat sekalipun mengalami masalah serius terkait penyebaran hoax di media sosial, terutama Facebook dan Twitter.

Penyebaran berita hoaks di negara kita ini menjadi persoalan serius apalagi sekarang mulai memasuki musim politik yaitu pemilihan Presiden dan pemilihan Calon Legislatif. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, para politisi pasti selalu menggunakan kosakata politik bersifat eufemis yang dimunculkan kemasyarakat dengan makna yang salah.

Masyarakat sulit membedakan makna kata yang memiliki arti sesungguhnya dan makna kata yang punya arti lain. Tidak jarang penguasa menggunakan eufemisme bahasa sebagai alat memantapkan citra. Karena ketidaktahuan masyarakat ahirnya penggunaan bahasa-bahasa politisi ini akan menjadi bahan dimasa depan ketika calon dukungannya kalah. Kalau dari sudut pandang politik, benih-benih inilah yang akan memunculkan hoaks-hoaks di masa yang akan datang.

Faktor Seseorang Mudah Percaya Hoaks

Menurut padangan psikologis, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya pada hoaks, mengutip pendapat dosen psikologi media dari Universitas Indonesia Laras Sekarasih, PhD (Kompas, 23/1/2017) bahwa “orang lebih cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misalnya seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, maka ia mudah percaya.”

Begitupun sebaliknya, ketika seseorang terlalu suka terhadap kelompok tertentu, produk, dan kebijakan tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, maka keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terlebih dahulu menjadi berkurang.

Alasan kedua kenapa seseorang mudah percaya hoaks menurut Laras, disebabkan karena terbatasnya pengetahuan. “Tidak adanya prior knowledge tentang informasi yang diterima bisa jadi mempengaruhi seseorang untuk menjadi mudah percaya.”

Dampak Hoaks

Penyebaran berita-berita hoaks tentunya mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap pola pikir masyarakat, mempengaruhi psikologi seseorang. Bahkan bisa dijadikan ladang bisnis seperti yang dilakukan tim Saracen misalnya, bukan hanya itu berita hoaks juga dapat menimbulkan kekacaun yang merugikan bahkan sampai pada pembunuhan.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin pesat apalagi dengan munculnya digitalisasi membuat apa-apa yang kita unggah ke media elektronik dengan gampangnya bisa dilihat dan di share melalui media sosial maupun aplikasi chatting ke publik. Istilah sekarang mungkin viral.

AYO BACA : Waspadai Hoaks, Masyarakat Harus Melek Media

Dampak yang dihasilkan dari berita-berita hoaks yaitu, menyita waktu karena tidak jarang dari mereka terlalu fokus mencari berita yang berkaitan dengan apa yang disukai atau tidak disukainya untuk kemudian di share ke publik.

Memicu perpecahan, inilah yang mungkin sangat berbahaya karena hoaks di negara kita ini seringkali bermuatan isu SARA, alahasil masyarakat akan terpecah belah karenanya. Masyarakat tidak bisa membedakan isu mana yang benar dan hoaks, karena seringnya isu-isu yang di share dimedia sosial dan menjadi perbincangan publik.

Menurunkan reputasi pihak yang dirugikan. Seperti kita ketahui seringkali berita hoaks menjatuhkan pihak tertentu. Dengan banyaknya berita hoaks yang beredar di publik tentunya pihak yang dirugikan akan kesulitan melakukan klarifikasi karena belum tentu klarifikasi yang dilakukan oleh pihak yang dirugikan akan sebanyak berita hoax yang dishare atau dibaca oleh publik. Begitupun sebaliknya, berita hoax juga menguntungkan pihak tertentu bukti nyatanya adalah Saracen.

Untuk memerangi hoaks perlu kesadaran diri, menyadari bahwa ketika menyebarkan berita yang memang belum mengetahui fakta di lapangan sebenarnya jangan seenaknya menyebarkan ke orang lain.

Apalagi ketika berita itu disebarkan dimedia sosial yang dampaknya akan sangat luas karena media sosial itu mempunyai karakteristik yang interaktif dan terbuka. Artinya ada interaksi antara pengguna media sosial satu dengan yang lainnya, komunikasi yang terjadi tidak hanya satu arah, serta bebas tanpa melalui gatekeeper, sehingga sulit untuk dikendalikan dan informasi yang disebar juga sulit untuk disaring.

Dengan kita menulis berita atau menyebarkan berita hoaks di media sosial akan membekas pada pikiran netizen yang sudah membacanya.

Mengutip perkataan Sayid Qutb “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala.”

Kita juga harus terus menggali pengetahuan dengan banyak membaca dan mengikuti perkembangan teknologi informasi guna tidak gagap terhadap teknologi informasi terbaru.

Kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi dan literasi media harus terus di asah bukan hanya mahir dalam menggunakan teknologi informasi supaya tidak rentan terkena virus-virus media yang merugikan.

Mengutip kata-kata dari pengasuh pondok pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang sekaligus pendiri Sekolah Tinggi Filsafat Al- Farabi dan penulis buku Kondom Gergaji dan Peradaban Sarung, Gus Ach Dhofir Zuhri mengatakan teknologi pendaur ulang sampah dunia maya belum dimiliki banyak orang, satu-satunya sapu untuk banjir hoaks adalah akal sehat.

Muhamad Muhtarudin

Ketua Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) Cabang Bandung Raya.

Mahasiswa Universitas Padjadjaran

AYO BACA : Imbas Hoaks Ratna Sarumpaet, Ridwan Kamil Usulkan Hari Antihoaks Nasional

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar