Yamaha Lexi

Perlu Dibentuk Skadron Helikopter di Sulawesi

  Senin, 08 Oktober 2018   
Grafis Gempa.(Attia)

Penanganan bencana gempa, tsunami, dan nalodo di Sulawesi Tengah sempat dinilai  lambat hingga lebih banyak korban yang terdampak. Apakah benar demikian? Kalau memang benar apa  penyebabnya?

Musibah terjadi pada Jumat, 28 September 2018 melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi. Kabupaten Donggala luasnya 4.278,08 km2 dengan jumlah penduduk lebih dari 301.757 jiwa. Kabupaten Sigi, yang merupakan pemekaran kabupaten Donggala, luasnya 5.197 km2 dengan penduduk melampaui 214.700 jiwa. Adapun kota Palu seluas 848,7 km dengan jumlah penduduk lebih dari 342.754 jiwa.

Musibah menyebabkan penerbangan dari dan menuju ibukota Sulawesi Tengah itu lumpuh.  Terminal Bandara Sis Al-Jufri rusak. Listrik mati.  Menara pengawas lalulintas udara roboh dan perangkatnya rusak hingga tak bisa melakukan  komunikasi dengan awak pesawat. Landas pacu yang panjangnya 2.500 meter,  retak-retak sepanjang 300-500 meter.

Kondisi makin diperburuk karena fasilitas dan perangkat pelabuhan Pantoloan, 40 km dari Palu juga rusak. Jadi secara teknis Palu terisolir akibat transportasi udara, laut dan darat terputus.  Jalur darat sulit dilalui karena jalan raya rusak akibat gempa atau tanah bergerak.

Relatif Cepat

Pemerintah relatif bergerak cepat. Dalam 12 jam setelah gempa, Kamis sore jam 17. 02.44 WIT atau pukul 18.02.44 WIB, dua kompi kesehatan Korps Marinir dan Kostrad,  perangkat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan  (BNPP) serta peralatan dan kebutuhan bagi para terdampak diterbangkan ke Palu.

Tidak langsung ke kota tersebut melainkan ke Makassar terlebih dahulu sebab perangkat di Bandara Sis Al- Jufri rusak, hingga baru tiba Jumat sekitar pukul 10 pagi. Namun kerusakan infrastruktur menghambat distribusi bantuan.

Penyebaran ke sekitar ibu kota Sulteng saja sudah terhambat, apalagi ke Sigi dan Donggala yang masing-masing jauhnya dari Palu mencapai 57,6 km dan 71,3km. Dalam kondisi normal, kedua kabupaten dapat dijangkau lewat darat kurang dari dua jam tetapi pasca gempa semuanya menjadi sangat sulit dan lebih lama. Padahal jumlah penduduk baik yang selamat maupun luka-luka sangat banyak.

Skadron Helikopter di Sulawesi

Dalam konteks inilah diperlukan helikopter yang dapat mendarat dan terbang secara tegak lurus hingga tidak memerlukan tempat yang terlalu luas. Keandalan helikopter  sudah terbukti dalam berbagai situasi, termasuk menyelamatkan serdadu AS di kampung  Khe Sanh, provinsi Quang Tri, Vietnam Selatan  yang dikepung tentara Vietnam Utara, selama enam bulan pada semester pertama 1968.

Kehadiran helikopter di kabupaten-kabupaten terdampak gempa pada tahap awal niscaya memberi harapan kepada para korban dan menunjukkan negara hadir bersama mereka. Apalagi bila helikopter  membawa  bantuan pertolongan pertama dan menurunkan sekelompok pasukan khusus yang membawa peralatan komunikasi lapangan dan peralatan kesehatan.

Indonesia punya banyak pasukan top seperti Kostrad, Marinir, Kopassus dan  Kopaskhas. Selain rata-rata fisiknya prima, memiliki IQ di atas 120,  telah teruji di medan yang sulit, mampu mengendalikan berbagai instrumen serta  ahli dalam menerapkan pendekatan psikologis kepada masyarakat. Merekapun  dapat digerakkan sewaktu-waktu karena mempunyai kompi siaga.

Musibah di Sulawesi Tengah memberi pelajaran tentang pentingnya keberadaan pangkalan skadron helikopter di Sulawesi. Skadron yang dapat melakukan operasi udara yang lebih khas dibanding pesawat terbang  bersayap tetap. Skadron yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan nonmiliter dan bukan perang.

Dewasa ini, Pusat Penerbangan Angkatan Darat ( Puspenerbad) berbagai jenis helikopter yang berpangkalan di Lanud Atang Sanjaya, (Bogor), Skadron 12/Serbu di Waytuba, (Lampung), Skadron 13/Serbu, (Berau Kalimantan Timur), Skadron 21/Sena (Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten), Skadron  31/Serbu, dan Skadron 11/Serbu (Semarang, Jawa Tengah).

Sehubungan dengan itu, sudah sudah waktunya bila keberadaan skadron helikopter di Indonesia timur direalisasikan, minimal untuk mendukung kehadiran Divisi III/Kostrad.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar