Yamaha Aerox

Memandang Budaya dan Syariat lewat Pesona Batik Fashion Muslim Nusantara

  Minggu, 07 Oktober 2018   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
CEO Widosari Butique, Nines Widosari. (ayobandung.com/Eneng Reni)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Pascapenetapan batik sebagai Karya Warisan Budaya Lisan dan Tak Berwujud oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009, kini setiap tanggal tersebut seluruh lapisan masyarakat Indonesia mulai berangsur memaknai batik sebagai warisan budaya bangsa. Hal ini juga tercermin saat batik dijadikan sebagai pakaian resmi di negeri sendiri.

Di sisi lain, perkembangan fesyen muslim di tanah air memang kian meroket. Apalagi dengan keberadaan perkembangan ragam seni budaya. Bahkan, kini kekayaan fesyen muslim di Indonesia semakin dipandang selaras dengan penggunakan batik sebagai fokus fesyennya. Kolaborasi apik fesyen muslim dengan budaya Nusantara seperti batik pun tak bisa dianggap sebelah mata, hingga mulai dilirik oleh para pelaku industri fesyen.

Salah satunya oleh Nines Widosari. CEO Widosari Butique itu awalnya mengaku cukup gusar dengan kondisi bangsa ini yang memandang fesyen, budaya, dan modernitas tidak bisa berdampingan dengan nilai syar'i. Terlebih pandangan itu muncul dari seorang muslimah.  

Atas kegelisahan itu, perempuan berkacamata ini mulai menggagas kegiatan Pesona Batik Fashion Muslim Nusantara sebagai momentum untuk mengajak para muslimah memandang batik dengan feyen muslim dari sudut yang berbeda.

AYO BACA : 100 Orang Disabilitas Dilatih Safety Riding

"Saya ingin memadukan batik dengan fesyen muslim. Antara budaya setempat dengan fesyen muslim," ungkap Nines saat ditemui usai talkshow Iman dan Keindahan: Di Antara Fesyen, Budaya, dan Modernitas di The Jayakarta Hotel Bandung, Minggu (7/10/2018).

Perempuan yang memang memiliki ketertarikan dengan dunia membatik ini mengaku, idealismenya itu muncul saat ingin meluruskan anggapan bahwa gaya hidup tidak melulu urusan fesyen semata. Namun juga bisa menempatkan fesyen dalam syiar ajaran agama. 

"Termasuk mengikuti syariat Allah dengan berhijab dan tetap memakai produk budaya setempat yakni batik, itu tidak ada masalah. Islam dan budaya itu berjalan, beriringan, dan indah. Nah, saya ingin membuktikan itu," lanjutnya.

Adapun kegiatan Pesona Batik Fashion Muslim Nusantara digelar selama dua hari. Di hari pertama, Sabtu (6/10), ia mengajak para peserta yang dominan para hijabers untuk membatik bersama di sanggarnya di Kota Cimahi. Pasalnya, budaya batik ini menurutnya amat luar biasa. Apalagi saat dikenalkan kepada masyarakat secara luas.

AYO BACA : Kekeringan: Warga Andalkan Situ Sipatahunan

"Biar bisa kerasa banget rohnya gimana sih rasanya membatik, nyanting atau mainin malam, itu gimana? intinya bagaimana mendalami tradisi budaya kita," kata Nines.

Tidak sampai itu, Ninies pun menggelar diskusi dengan para hijabers untuk mengupas pandangan mereka antara dunia hijab dengan budaya. Termasuk saat perempuan muslimah menjalani perintah berbusana sesuai dengan aturan Tuhannya.

"Dalam diskusi itu juga kita bahas budaya, yakni batik itu gak perlu kok ditabrakan dengan aturan Islam. Karena secara umum segalanya sesuai, sah saja jika tidak bertentangan dengan syariat Islam, termasuk dalam berbusana menggunakan batik," tuturnya.

Di sisi lain, sebagai pelaku industri fesyen muslim, Nines sempat cukup terusik dengan kontroversi yang digaungkan elite politik yang membandingkan konde dengan cadar atau kidung dengan azan. Hal ini katanya malah membuat jarak antara budaya dengan syariat semakin renggang. Padahal budaya bisa berdampingan dengan syariat jika tidak melanggar batasnya masing-masing.

"Saya sempat panas juga saat ditabrakan antara konde dengan cadar atau kidung dengan azan. Terus terang saya merandang panas tidak mau seperti itu. Makanya saya sekarang membuktikan kalau syariat dengan budaya itu bisa berdampingan," ujarnya

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Lengkong Punya Kampung Wayang Urban

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar