Yamaha Aerox

Gempa Tidak Terprediksi, Langkah Apa yang Harus Dilakukan?

  Sabtu, 06 Oktober 2018   
Ilustrasi Gempa dan Tsunami di Donggala, Palu. (Attia/ayobandung.com)
Gempa dan tsunami yang terjadi dari waktu ke waktu telah menghilangkan nyawa, harta, kerusakan properti, infrastruktur, melemahkan produktivitas, serta daya saing. Tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004, gempa di Palu dan Donggala, 18 September 2018 misalnya, membawa kehidupan hampir ke titik nol. 
 
Jumlah korban tewas di Aceh sekitar 170.000 orang dengan kerusakan infrastuktur yang luar biasa. Di Palu dan Donggala hingga 4 Oktober 2018 sebanyak 1.571 orang meninggal dunia, 113 orang hilang, dan 2.549 orang luka-luka. Sejumlah 152 warga tertimbun, 65.733 rumah rusak, dan 70.821 warga mengungsi. 
 
Data yang diterbitkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu diperkirakan bertambah sebab pencarian lebih intensif masih terus berlangsung. Apalagi empat kecamatan di Kabupaten Sigi masih terisolir yaitu Lindu, Kolwi, Kolawi Selatan, dan Pipiko. 
 
Berorientasi ke Depan 
 
Pembahasan tentang gempa dan tsunami atau nalodo belakangan ini, berkisar pada penyebab serta ikhtisar tentang masa kini dan masa lalu. Hanya sedikit yang mengemukakan pendapatan, tentang apa yang harus dilakukan pada masa depan. Mungkinkah ini pertanda pengaruh perasaan melankolis? 
 
Jumlah korban gempa atau tsunami yang masih besar, bisa dijelaskan dari aspek-aspek ilmu geologi. Khusus gempa –tsunami pada 28 September lalu, disebutkan terkait dengan posisi Palu-Donggala yang dipengaruhi pergerakan sesar Palu-Koro.
 
Kalau para geolog sudah mewanti-wanti tentang sesar itu, mengapa jumlah korban masih demikian banyak? Mengapa rumah atau bangunan yang rusak hampir 70.000 unit?
 
Besarnya jumlah korban dan hebatnya kerusakan bangunan, menimbulkan pertanyaan apakah para pemangku kepentingan tidak belajar dari bencana Aceh, Yogyakarta, Lombok, dan sebagainya? Apakah tidak peduli dengan pendapat geolog?
 
Hidup Berdampingan   
 
Berbagai pihak menyatakan, lempengan-lempengan bumi terus bergerak tiada henti dan manusia tidak mampu menghentikannya. Manusia, sejauh ini dan dengan cara apapun, juga tidak mengetahui kapan lempengan-lempengan itu bertubrukan.
 
Dengan demikian yang bisa dilakukan adalah bagaimana  manusia hidup berdampingan dengan lempengan bumi yang terus bergerak.
 
Maksudnya mengurangi dampak dari gempa yang timbul dengan melakukan penyesuaian dengan kehidupan sehari-hari, mendirikan bangunan tahan gempa, mendirikan organisasi tanggap darurat, dan sebagainya.
 
Masyarakat pulau Simeuleu, Provinsi Aceh, secara turun temurun mengikuti ajaran nenek moyang. Seandainya laut tiba-tiba surut, mereka akan lari ke tempat-tempat yang tinggi karena tsunami akan datang.  Begitulah akhirnya banyak yang selamat ketika ombak laut menggila.
 
Di antara ikhtisar masa lalu dan masa kini, muncul saran agar Indonesia mengikuti kementerian pendidikan Jepang yang sedari awal mengajarkan anak-anak sekolah hidup berdampingan gempa, tsunami, dan berbagai jenis bencana lain.
 
Honorer
 
Di Indonesia, kecil kemungkinan sosialisasi dilakukan secara intensif lewat bidang pendidikan karena persoalan-persoalan akut  belum terpecahkan, seperti tentang status guru honorer. Bagaimana mau melakukan sosialisasi menyelamatkan diri kalau masa depan pengajarnya tak jelas? 
 
Faktor lain yang menyulitkan adalah sikap  umum masyarakat yang lebih dulu menyerah atau pasrah. Misalnya, masalah mati bisa dimana saja, kapan saja dan dengan cara yang tidak diketahui. Jadi buat apa repot?
 
Sifat manusia Indonesia yang tidak cocok dengan kegempaan adalah keinginan serba segera terjadi atau serba instan. Tidak tertarik dengan sosialisasi karena gempa tidak jelas kapan dan di mana akan terjadi. Sudah siap tapi tak kunjung datang.
 
Kalaupun melaksanakan program sosialisasi, maka ia berkaitan dengan adanya anggaran dan sikap latah. Lihat saja,  dengan kampanye lubang biopori untuk menyerap air? Masih ingatkah pembaca di mana lokasinya?
 
Farid Khalidi   

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar