Yamaha Aerox

Suporter Anarkis, Tindakan Salah Kaprah Raih Identitas Massa

  Kamis, 27 September 2018   Anggun Nindita Kenanga Putri
Suporter sepak bola. (Irfan Al-Faritsi/ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Haringga Sirila, seorang pemuda asal Cengkareng DKI Jakarta, harus meregang nyawa karena ulah oknum suporter yang tidak bertanggungjawab, Minggu (23/9/2018) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib menghadapi Persija.

Pertandingan yang mempertemukan kedua tim ini memang terkenal panas, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Haringga menjadi korban kesekian kalinya yang harus bertaruh nyawa dalam laga panas ini.

Setahun sebelumnya, seorang bobotoh bernama Ricko Andrean, juga ditemukan tewas setelah tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum suporter.

Bukan lagi cerita baru, suporter sepakbola di Indonesia saling berseteru. Tak hanya suporter Persib (Bobotoh) dan Persija (The Jakmania). Suporter Persebaya (Bonek) dan Arema FC (Aremania) juga punya riwayat permusuhan yang panjang.

AYO BACA : Aksi

Terkadang kejadian tentang kericuhan suporter saat laga pun mengalahkan perayaan kemenangan pada saat pertandingan.

Aksi-aksi brutal para suporter ini telah terjadi selama bertahun-tahun. Mereka saling berseteru, menganggap kelompoknya lebih baik dari yang lainnya.

Oknum suporter tidak segan untuk melakukan tindakan kekesaran atas nama loyalitas. Hingga akhirnya memakan korban luka maupun nyawa. Tak jarang suporter yang berlaku anarkis ini sampai merusak fasilitas-fasilitas umum.

Psikolog dari Universitas Islam Bandung (Unisba), Suhana menyatakan kericuhan suporter merupakan bukti hilangnya sebuah identitas pribadi. Orang-orang yang tergabung dalam suatu kerumunan suporter akan bertindak sesuai dengan apa yang dilihatnya saat itu.

AYO BACA : Ribuan Bobotoh Kirimkan Doa untuk Haringga Sirila

Mereka kehilangan identitas pribadi demi diterima oleh kelompok suporter yang diikutinya. Sehingga mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sebuah “identitas massa”.

“Identitas pribadi itu akan hilang manakala ada situasi yang memancing. Orang-orang yang ada di dalam kerumunan suporter sudah hilang identitas pribadinya. Mereka pasti turut serta. Begitu pula yang terjadi pada kasus kematian Haringga,” katanya saat ditemui di Kampus Unisba, Kamis (27/9/2018).

Para suporter yang melakukan tindakan anarkis ini biasanya berlindung di atas motif loyalitas untuk tim. Padahal kenyataannya mereka hanya terjebak dalam emosi sesaat.

Karena melakukan tindakan beralaskan emosi, para suporter ini pun seakan sudah kehilangan akal sehatnya. Mereka akan melakukan apapun yang dilihatnya saat itu.

“Ketika menemukan kondisi yang sangat emosional otomatis fungsi nalar akan terganggu. Jadi tidak akan berpikir rasional pada saat saat seperti itu. Artinya orang tersebut juga tidak mature (dewasa),” ujarnya.

Kericuhan juga lebih mudah terjadi jika ada stimulus yang memancing pecahnya keributan itu. Salah satunya adalah riwayat permusuhan tim yang seakan sudah diturunkan menjadi sebuah budaya.

Perselisihan antara Bobotoh dan The Jakmania bukan menjadi barang baru. Hal-hal kecil yang berkaitan dengan kedua suporter ini dengan mudah menyulut emosi. Pelaku tindakan anarkis ini biasanya sudah ditanamkan dalam dirinya tentang permusuhan abadi kedua tim.

AYO BACA : Setop Rivalitas Suporter Melalui Karya dan Pendekatan Agama

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar