Yamaha Aerox

Sisi Lain Phopi "PNS Cadas", Antara Musik dan Kerja Sosial

  Minggu, 23 September 2018   Nur Khansa Ranawati
Phopi Ratna Agustin, bergaya dengan skateboard-nya selepas merekam video untuk Skateboarding Day 2018 di Kabupaten Bandung Barat, Juni lalu. (dok. Phopi)

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM— Bagi yang belum familiar dengan dunia musik hardcore terutama di Kota Bandung, sosok Phopi Ratna Agustin (30), bisa jadi dikenal selintas sebagai seorang “PNS cadas”.

Pasalnya, dia sempat mengunggah video sesi latihan bersama band-nya, Lose It All, di akun Instagram miliknya yang kemudian sempat menjadi viral. Di video tersebut, dirinya nampak tengah mengenakan seragam cokelat khas PNS sambil merapal lirik salah satu lagu mereka dengan teknik vokal growl.

Video yang telah dilihat lebih dari 500.000 kali tersebut juga mengundang ribuan komentar netizen, yang, sayangnya, banyak bernada negatif.

“Ada yang bilang, kamu kan saya gaji pakai uang pajak, atau gimana kalau nanti mati dalam keadaan teriak-teriak, ah masuk jadi PNS juga paling nyogok,” ujarnya sambil memperlihatkan kolom komentar di Instagramnya tersebut kepada ayobandung.com, Jumat (28/9/2019).

ayobandung.com saat itu berjanji untuk bertemu selepas Magrib di salah satu kedai kopi dan warung sate di Lembang. Dia baru saja menyelesaikan pekerjaan sehari-harinya di bidang kepegawaian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung Barat.

Di luar jam kantornya, dia adalah Phopi yang hobi bergaya santai dengan nuansa androgyny. Kala itu, dia datang mengenakan kaos hitam dipadankan dengan parka motif tentara. 

Dia lantas bercerita mengenai kejadian ‘di balik layar’, bagaimana bisa latihan mengenakan seragam.

“Ini diposting karena momen berkesan. Latihannya menyewa studio dengan durasi terbatas, seperti jaman dulu. Bayangin aja, latihan mulai jam 5 sore di Sukamiskin, sementara aku beres kantor jam 4 sore dari KBB,” jelasnya.

Dia menyayangkan ketika orang-orang menyebut dirinya pencari sensasi. Pun halnya ketika dia berfoto selepas bermain skateboard di area kantor.

“Aku mah dari dulu memang suka skateboard. Tiap tahun biasanya ikut downhill tematik, pakai kostum, dan pernah pakai mukena,” jelasnya seraya tertawa.

Tahun ini, hari skateboarding internasional yang biasanya dia rayakan bersama teman-temannya terpaksa dilakukan seorang diri karena berbenturan dengan jadwal kerja.

Udah weh aku downhill di kantor, dari KBB turun, belok ke kantor,” ujarnya.

AYO BACA : Ketika Teknologi Menyetir Selera Musik Muda-mudi Gen Z

Sosoknya memang berada di dua dunia yang berbeda : dunia pekerjaan dan hobi. Hobinya pun terbilang cukup ekstrem. Di samping nge-band, putri sulung dari tiga bersaudara ini juga hobi bermain skateboardtravelling, hingga bermain motocross di medan yang menantang.

Sebelum bergabung dengan Lose It All, juga sempat menjadi penggebuk drum di band punk Monalissa, Angsa, dan Serigala.

“Bahkan orangtua saya sendiri juga bilang, kamu mah karesepna teu normal. Enggak normal itu mungkin tidak biasa, dan tidak semua orang bisa, berarti limited edition dan harus merasa spesial, harus bersyukur,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah dirinya pernah menemukan kendala dalam ‘mengakurkan’ dua lingkungan yang berbeda tersebut, dia mengatakan yang terpenting terus berupaya menyesuaikan diri.

“Pasti ada gesekan, sih. Misalnya, teman kantor yang enggak cocok atau ada judgement bahwa anak underground pasti mabuk-mabukan dan pakai narkoba. Awalnya memang dipandang sebelah mata, tapi pelan-pelan diliatin bahwa attitude pecinta musik keras juga baik, supel smart, dan nyambung dibawa ngobrol apapun,”jelasnya.

Dia mengaku tidak merokok dan tidak suka mabuk, apalagi memakai obat-obatan terlarang, sebagaimana yang kerap dituduhkan pada para musisi dan seniman di dunia underground.

“Aku enggak pernah mabuk pas manggung, karena ini mah udah jadi passion, jadi jangan sampai dibuat lupa, harus dinikmati setiap detiknya,”ungkapnya.

Bukan Sekadar Teriak

Menjadi vokalis sebuah band hardcore dengan cara bernyanyi yang jelas berbeda dengan jenis musik lain juga kerap disalahartikan. Ungkapan musik jojorowokan hungkul barangkali sudah tidak asing di telinga Phopi. Namun, musik dirinya dan teman-teman Lose It All jauh dari sekadar cadas.

Hingga saat ini, band Phopi telah berhasil mengeluarkan tiga album, dan erbaru bertajuk Contentious diluncurkan tahun ini.

Phopi mengatakan sejumlah lirik dari lagu yang diciptakan bernada kritik sosial. Lagu-lagu tersebut tak sekadar menjadi sarana ekspresi musikalitas para personelnya, namun juga kegelisahan diri.

Lagu Retorika Penikam Kalam, misalnya, bercerita mengenai masalah pendidikan di Indonesia.

AYO BACA : Ini Alasan Kamu Wajib Nonton Film Rocker Balik Kampung

Naha sih diajar kudu mahal, kenapa siswa dididik harus sesuai dengan buku-buku sekolah, terkesan mengkotak-kotakkan,” jelasnya.

Atau, lagu The Fall of Mankind Thought, yang mengkritisi kebiasaan manusia yang kerap menghakimi perbuatan sesama manusia lain. Bahkan, fenomena debat dan adu perbedaan pendapat seperti yang terjadi di media sosialnya pun turut dibahas.

“Di balik lirik kita tuh ada misi tersembunyi, kita saring dengan bahasa yang diperhalus,” jelasnya.

Cinta Kerja Sosial

Agaknya ada satu hal yang menjadi benang merah penghubung dunia-dunia Phopi yang berbeda, yaitu, kepeduliannya pada permasalahan sosial disertai hasrat untuk membantu orang menjadi lebih baik.

Dalam bermusik, hal tersebut tersirat dari lirik-lirik lagu yang dibawakan. Dalam kehidupan kerja, ia sempat menuangkannya dengan menjadi guru SMK sekaligus relawan proyek independen Unicef untuk mengembangkan pemanfaatan sumber daya alam di sejumlah daerah terpencil. Ia juga mengajar bidang housekeeping untuk peserta paket A dan paket C.

Phopi yang merupakan lulusan Manajemen Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia ini bercerita bagaimana dirinya mendapat pengalaman-pengalaman berkesan selama menjalani tugas-tugas tersebut.

“Saya diutus selama lima sampai enam bulan di daerah terpencil, kemudian observasi apa saja sumber daya alam yang bisa diolah. Misalnya, di daerah peternakan sapi, saya membantu ibu-ibu setempat bikin olahan susu jadi yoghurt dan masker kefir,” jelasnya.

Beberapa di antara pelatihan tersebut bahkan ada yang berlangsung langgeng hingga menjadi mata pencaharian warga setempat.

“Salah satunya juga untuk merubah mindset remaja setempat untuk enggak nganggur dan buru-buru menikah,” jelasnya.

Kesenangan tersebut jugalah yang membuat dirinya betah menjalani kehidupan sebagai PNS selama 3,5 tahun belakangan. Bidangnya bekerja mengharuskan dirinya berhadapan langsung dengan urusan kepegawaian alias ‘nasib’ masing-masing pekerja. Tak jarang dia pun membantu PNS senior yang kesulitan mengoperasikan komputer.

 “Bisa membuat orang lain berkembang itu sebuah kepuasan tersendiri,”ungkapnya.

Perbincangan kami diakhiri ketika waktu menunjukan hampir pukul sembilan malam. Masih banyak sisi lain dirinya yang mengundang rasa penasaran. Membahas dirinya yang multitalenta tak cukup dilakukan dalam dalam tiga jam perbincangan, dan perlu memutar otak untuk mengemasnya ke dalam paragraf berita yang terbatas.

AYO BACA : 10 Band Indie Bandung yang Dikenal di Negeri Orang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar