Yamaha Lexi

Serunya Menyusuri Sejarah Bandung dengan Bandros

  Jumat, 14 September 2018   Nur Khansa Ranawati
Foto bersama setelah tour sejarah dengan Bandros, Kamis (13/9/2018).(Khansa/ayobandung.com)

BRAGA, AYOBANDUNG.COM—Cuaca pagi menjelang siang di Kota Bandung pada Kamis (14/9/2018) cukup terik. ayobandung.com tengah berada di kawasan Viaduct, berjalan kaki menuju tempat di mana salah satu bus ikonik warna-warni, Bandung Tour on Bus (Bandros) diparkirkan.

Tempat itu memang bukan tempat bus tersebut ‘mangkal’ sehari-harinya. ayobandung.com beserta rekan media dan komunitas blogger mengikuti Bandung Heritage Tour—berkeliling tempat bersejarah di Bandung menggunakan Bandros—yang diinisiasi oleh tim Archipelago Hotel.

Ternyata, mayoritas peserta tur kala itu belum pernah menaiki Bandros, meskipun kebanyakan adalah orang Bandung.

“Padahal saya orang Bandung, tapi baru sekai ini naik Bandros,” celetuk salah satu peserta yang diamini peserta lain.

Tur dimulai ketika Bandros biru menyusuri Viaduct menuju Jalan Wastukencana, kemudian melakukan pemberhentian pertama di taman Balai Kota.

Sang pemandu wisata menjelaskan bahwa dulunya, kantor Balai Kota Bandung salah satunya digunakan sebagai Gudang kopi oleh Asisten Residen wilayah Priangan kala itu.

AYO BACA : Ketika Sejarah dan Teknologi Bersatu di Museum Gedung Sate

Peserta mengeskplor sejumlah taman tematik di kawasan tersebut yakni area air mancur badak, tempat penguncian “gembok cinta”, taman labirin, dan patung Dewi Sartika.

Anda yang kerap mengunjungi taman ini pada medio 2000-an, akan menemukan perbedaan yang cukup signifikan pada sejumlah wilayah. Daerah tersebut nampak lebih asri dan tertata. Sejumlah anak bahkan nampak asyik duduk ‘melapak’ sambil mengerjakan tugas sekolah.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 40 menit, peserta kembali menyusur Kota Bandung sembari mendengarkan fakta-fakta sejarah di balik sejumlah gedung dan kawasan.

Salah satu tempat bersejarah yang dilewati adalah gedung Kologdam. Dulunya, area yang kini kerap menjadi gedung pernikahan tersebut adalah kawasan pasar malam. Kawasan tersebut dinamakan Jaarbeurs, tempat berpameran dan berjualan produk hasil tani, perkebunan, hingga kerajinan di zaman kolonial Belanda.

Bandros terus melaju menyusuri jalanan Bandung yang kala itu tidak terlalu dipadati kendaraan.

ayobandung.com bersama peserta kemudian kembali turun untuk berfoto di depan halaman Gedung Sate. Sebagian orang dibuat tertawa karena lagi-lagi, sebagai orang Bandung, mayoritas peserta belum pernah berfoto di depan Gedung Sate.

AYO BACA : Yuk Cobain Bandros Kekinian yang Bikin Ngiler

Mengenal Bandung Lebih Dalam

Salah satu hal yang paling berkesan pada tur tersebut adalah ketika seluruh peserta diperkenankan untuk naik ke menara Gedung Sate. Dari atas sana, hamparan hijau taman terbentang asri di area depan gedung, yang ternyata letaknya sejajar dengan Monumen Perjuangan.

Salah satu petugas keamanan Gedung  Sate bahkan menyempatkan diri untuk bercerita mengenai sejarah-sejarah gedung yang belum banyak diketahui orang, salah satunya adalah mengenai sejarah sirine yang terletak di tengah ruangan teratas.

Peserta pun mengunjungi Museum Gedung Sate yang baru satu tahun berdiri. Di sana, sangat banyak fakta sejarah dan kisah-ksiah trivial namun unik seputar Kota Bandung yang baru diketahui.

Decak kagum dan gumaman “Oooh.” kerap terdengar ketika pemandu museum menjelaskan satu demi satu instalasi sejarah yang ada.

Hal tersebut menunjukan bahwa, sebagai orang Bandung, masih harus lebih banyak mengenal seluk-beluk kota ini. Banyak hal yang terlanjur menjadi rutinitas dan dianggap biasa, padahal mengandung sejuta cerita di dalamnya.

Bus kemudian kembali bertolak menyusuri Jalan Merdeka menuju Alun-Alun. Peserta berjalan dari tugu 0 kilometer sampai Gedung Merdeka, hingga kembali pulang ke tempat berangkat.

AYO BACA : Ingin Jalan-Jalan Naik Bandros? Begini Caranya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar