Yamaha NMax

Tampil Modis ke Pasar Tradisional dengan Tas Pasar Ssewn

  Kamis, 06 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Tas pasar SSwen

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Tampil kece untuk pergi ke pasar bukan lagi sebuah halangan. Tanpa perlu malu menjinjing kantong kresek hitam, Ssewn menghadirkan sebuah tas yang ramah lingkungan dan modern.

Sejatinya, penggunaan plastik sudah menjadi isu global. Orang ramai beralih menggunakan tas kain sebagai pengganti kantong kresek untuk menyelamatkan bumi.

Camia Camira (31) namanya. Pencetus tas kece bertuliskan nama-nama pasar di Bandung membuat tampilan pergi ke pasar semakin bersinar. Sejak dulu, Camia tak suka memakai kantong kresek. Menurutnya, kantong kresek hitam adalah kasta paling rendah dari semua kresek yang ada.

Tepat di bulan Juni 2016, Camia melahirkan kantong belanja sendiri. Dia tahu, tas-tas belanja kebanyakan sebagai pengganti kantong kresek biasanya harus dilipat rapi supaya muat di kantong kecil yang tertempel di kantongna.

“Jujur aja saya enggak sanggup melipat rapi tas di kantong kecilnya. Makanya di setiap totebag belanja Ssewn itu selalu ada karet biar cukup digulung sembarang saja dan enggak harus dilipat kecil,” kata Camia, Rabu (5/9/2018).

Tas Ssewn, yang berasal dari kata sewn dengan artian yang dijahit, memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Polos, elegan, estetis, mudah digulung sembarang, dan berukuran besar. Sebut saja “Kosambi”, “Andir”, “Tjihapit”, dan “Sederhana” menjadi nama yang mejeng di totebag tersebut. Sementara itu, Camia benar-benar memproduksi barang dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan.

“Dari awal bikin sampe sekarang, Ssewn selalu pakai bahan yang sangat meminimalisir limbah dari produksi pembuatan kain. Belinya juga di Bandung biar meminimalisir carbonfootprint, bahkan ada satu edisi di mana belinya langsung di tempat yang buat kainnya juga,” jelasnya.

Carbonfootprint adalah emisi gas yang manusia hasilkan sehari-hari. Camia memisalkan Ssewn adalah industri yang menghasilkan emisi. Belum lagi transportasinya mengendarai mobil yang menghasilkan emisi juga. Semakin lama atau semakin jauh jaraknya, carbon footprint otomatis lebih banyak.

Ssewn menghadirkan totebag edisi pertama dengan bahan recycle fiber. Edisi totebag Pasar menggunakan unbleach cotton. Edisi straw dan linen memakai bahan linen.

Berhubungan dengan minimalisasi sisa bahan dan carbon footprint, semua barang yang dijual dibatasi setiap serinya. Setiap barang juga dicantumkan nomor urut.

“Ini udah tas ke berapa ya yang Ssewn buat? Tujuannya sih biar terlacak saja,” ujarnya.

Ssewn membuat setiap barangnya terbatas supaya konsumen lebih menyayangi barangnya. Berharap konsumen sadar karena barang buatan Ssewn tidak dijual banyak. Maksimal hanya diproduksi 10 sampai 100 buah setiap serinya.

Tidak ada sistem pre-order membuat konsumen harus setia menunggu. Ssewn akan mengeluarkan seri baru setiap tiga bulan sekali.

Seri totebag pasar menjadi tas yang paling digandrungi. Akhirnya, Ssewn membuat totebag seri tersebut untuk yang kedua kalinya.

Alasan Camia membuat totebag bertema pasar karena dia senang belanja di pasar tradsional. Selain harganya jauh lebih murah ketimbang di supermarket, pasar memungkinkan penggunaan kantong plastik lebih banyak.

“Sempet diketawain karena minta enggak perlu pakai plastik,” kenangnya.

Lantas, Camia langsung menjelaskan ke pedagang bahwa dia memakai kantong sendiri supaya sang pedagang bisa hemat kantong plastik.

Berbagai tas yang dijual Ssewn berada di kisaran Rp48 ribu sampai Rp150 ribu.

Selain itu, Ssewn pun dipercaya untuk bekerja sama dengan salah satu toko roti di Jakarta untuk membuat totebag eksklusif.

Untuk mendapatkan totebag seri pasar karya Ssewn, bisa langsung mengecek laman Instagram @ssewn.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar