Yamaha Aerox

Menyulap Kulit Ceker Ayam Menjadi Sepatu Cantik

  Selasa, 04 September 2018   Fathia Uqimul Haq
Sepatu dari Kulit Ceker Ayam ala Hirka Shoes. (Fathia/ayobandung)

MOH.TOHA, AYOBANDUNG.COM--Kulit ceker ayam bisa menghasilkan uang di tangan Nurman Farieka Ramdhani (23). Dia mengambil kulit ceker ayam dari pengepul di Pasar Kembar dan tukang sayur yang melewati depan rumahnya.

Nurman menyulap kulit ceker menjadi bahan sepatu seperti halnya kulit ular dan buaya. Namun, kulit ceker ayam memiliki keunggulan yang sulit didapatkan ketimbang kulit ular dan buaya. 

Sejatinya kulit ceker ayam adalah limbah. Nurman tak perlu takut kehabisan bahan sebab ayam terus hadir di kehidupan manusia. Ide tersebut telah hadir sejak 15 tahun yang lalu dari ayahnya Nurman. 

Ayah dari Nurman adalah mahasiswa Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta. Dia mengembangkan kulit ceker ayam sebagai produk yang menghasilkan saat penelitian di Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik, Yogyakarta. 

Akan tetapi, ayahnya tidak lagi melanjutkan produk tersebut. Dari situ, Nurman memutuskan untuk meneliti kembali kulit ceker ayam sebagai produk untuk sepatunya. 

"Prosesnya satu tahun untuk bereksperimen dengan kulit ceker ayam sampai akhirnya kita berani tampilkan ke pasar pada awal 2017," kata Nurman, Selasa (4/9/2018). 

Nurman melabeli sepatunya dengan nama Hirka Shoes. Sejak awal berdiri pada 2016, Hirka berjualan sepatu berbahan kanvas dengan desain sendiri. Sembari berjalan, Hirka pun bereksperimen kulit ceker ayam untuk dijadikan bahan sepatu. 

Nurman memilih kulit ceker ayam karena bahannya mudah ditemukan ketimbang kulit bebek atau kulit lainnya. Apalagi kulit buaya dan ular yang menurutnya bisa merusak habitat dan sebagian binatang tersebut ada dalam perlindungan. Berbeda dengan ayam yang menjadi santapan manusia sehari-hari. Alhasil, dia ambil kulit ceker ayam sebanyak 50 kilogram untuk satu kali produksi. 

"Kita beli dari pengepul 25 ribu rupiah per kilogram," katanya. 

Sesungguhnya, semua kulit ceker ayam bisa digunakan. Hanya saja kulit tersebut perlu  yang berukuran lebar dan besar. Minimal bobot ayam seberat dua kilogram. 

"Supaya tidak memakan waktu banyak untuk produksi. Semakin kecil kulit, nanti semakin lama lagi waktu untuk memprosesnya sebagai sepatu," kata Nurman.

Kulit ceker ayam akan melalui tahap penyamakan. Penyamakan kulit adalah proses mengubah kulit mentah menjadi kulit tersamak. Butuh waktu 14 hari supaya kulit ceker ayam siap dijadikan bahan sepatu. 

Penyamakan membutuhkan campuran 7 bahan kimia. Pembelian bahan kimianya pun tak semua didapatkan dengan mudah. "Ada beberapa bahan yang memerlukan legalitas usaha supaya bahan kimia tersebut bisa didapatkan dalam jumlah banyak," ujarnya. 

Menurut Nurman, kulit ceker ayam tidak jauh beda bahkan lebih bagus ketimbang kulit buaya dan ular. Sebab tekstur ceker ayam punya pola alamiah masing-masing pada setiap sepatu sehingga memiliki hasil yang tak serupa. 

"Kulit ceker ayamnya kita beri warna ada yang tan, gold, navy, merah, coklat, hijau, dan warna aslinya," tuturnya.

Sepatu kulit ceker ayam ini tidak bisa dibeli langsung sebab harus ada pemesanan dan pengukuran terlebih dulu atau kustomisasi. Proses pembuatannya pun cukup memakan waktu. Dalam seminggu, Hirka dapat mengolah sepatu satu sampai dua buah saja. Berbeda dengan sepatu kanvas yang biasa dia produksi mencapai 4 sampai 5 pasang. 

Harga sepatu kulit ceker ayam dibanderol Rp500.000 sampai Rp2 juta per pasang. Harga tergantung dari berapa banyak ceker yang dipakai dan material pendukungnya.

Adapun bahan yang digunakan tentu berkualitas. Semisal alas sepatu dari fiber supaya ringan dan pemakaian bahan dari kulit sapi yang dibeli lembaran membuat sepatu Hirka terjamin buatan tangan sendiri.

"Rencana ke depan kita akan membuat barang-barang yang universal dan berukuran kecil supaya lebih cepat dan mudah dibuatnya seperti dompet, dompet STNK, atau gantungan kunci," terangnya. 

Hirka pun masih bereksperimen untuk membuat tas dari kulit ceker ayam. Meski sudah dipajang di berbagai pameran, tas kulit ceker masih belum bisa dipesan. 

Disebabkan perlakuan dan pengerjaan yang ekstra, membuat sepatu kulit ceker ini tak dapat diproduksi masal. Maka dari itu, perlu waktu dan pemesanan terlebih dulu untuk mendapatkannya. Jika ingin sepatu yang tidak full kulit ceker ayam,  ada beberapa sepatu kanvas keluaran Hirka mejeng dengan sentuhan kulit ceker ayam. 

"Sepatunya jenis formal bisa untuk perempuan dan laki-laki," kata dia. 

Konsumennya pun tak tanggung-tanggung berasal dari Hongkong, Singapura, Brazil, dan Jepang. Konsumen domestik datang dari Kalimantan, Makassar, Jakarta, daerah Jawa Tengah dan Timur, serta Bandung. 

"Wisatawan mancanegara biasanya langsung datang ke rumah, bisa juga pesan online," katanya. 

Hirka Shoes telah melanglangbuana di berbagai pameran. Sebut  saja Ina Craft dan Pameran UMKM lokal hingga provinsi. Kemarin, Hirka pun telah memenangkan kompetisi UMKM Lokal favorit dari salah satu perusahaan pada perhelatan Festival Pesona Lokal di Gedung Sate. 

Ditanya soal nama Hirka, Nurman berkisah bahwa nama itu diambil dari bahasa Turki yang artinya dicintai. "Harapan kami supaya konsumen bisa mencintai produk Hirka itu sendiri," pungkasnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar