Yamaha Aerox

Nomadic Tourism, Konsep Wisata Tanpa Merusak Alam

  Jumat, 24 Agustus 2018   Fathia Uqimul Haq
Menteri Pariwisata Arief Yahya saat di Orchid Forest Lembang, Jumat (24/8/2018).(Fathia/ayobandung.com)

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM—Menteri Pariwisata Arief Yahya berencana membuat destinasi berkonsep nomadic tourism.

"Nomadic tourism adalah kawasan dengan akomodasi yang mudah berpindah dan akses mudah," kata Arief saat peresmian destinasi digital Orchid Forest Lembang, Jumat (24/8/2018).

Akomodasi berpindah, kata Arief, seperti karavan, kemah, atau glamcamp singkatan dari glamour camping.

Nomadic merupakan solusi membangun tanpa merusak lingkungan. Contohnya Orchid Forest, kawasan hutan pinus  yang dilarang dibangun gedung,  memiliki glamcamp dengan tenda besar muat empat orang. Di dalamnya tersedia kasur, bantal, dan sleeping bag. Tak lupa sarapan pagi bak di hotel pada umumnya.

"Itu namanya pengembangan pariwisata berkelanjutan, intinya harus melestarikan lingkungan. Akomodasi tersebut membantu, mudah dipindah, dan  mudah pula membuatnya," ujarnya.

Nomadic tourism ini memiliki kelebihan. Ketika terjadi apa-apa, akomodasi dapat mudah dipindah. Destinasi ini merupakan realisasi digital untuk melayani milenial yang memenuhi sepertiga wisatawan khususnya di Orchid.

"Tahun ini Kemenpar ingin membuat 10 destinasi dengan konsep nomadic tourism," ungkapnya.

Dia membagi nomadic tourism ke dalam tiga hal yakni milenial nomad dengan jumlah 30 juta wisatawan, luxurious nomad dengan 10 juta wisatawan, dan digital nomad dengan 5 juta wisatawan. 

"Milenial nomad itu contohnya glampacking, luxurious nomad itu di hotel, dan digital nomad itu flashpacking,"  ujarnya.

Arief berharap dengan lahirnya nomadic tourism bisa memberi dampak lahirnya destinasi digital tanpa harus merusak alam. "Kita bisa menikmati alam," kata dia.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar