Yamaha NMax

Bandung, di Ambang Malam

  Kamis, 16 Agustus 2018   
Museum Konperensi Asia Afrika. (Paris van java)

Ketika pemerintah Indonesia menetapkan Bandung sebagai lokasi Konferensi Asia-Afrika, berarti kota ini pada tahun 1955 sudah memiliki keunggulan dibanding kota-kota lain. Infrastruktur layak untuk menampung delegasi dari 29 negara, mempunyai alam yang indah dan sejuk, penduduknya ramah, tata ruangnya bagus, arsitektur gedung-gedungnya beragam, kulinernya sedap, dan lain-lain.

Pantas bila Tety Kadi memujinya sebagai kota yang indah permai, sejuk nyaman hawanya, dengan gadis lemah gemulai, indah dipandang mata.  

Sampai sekarang nama Bandung masih "hidup" dan disebut-sebut dengan rasa syukur oleh para petinggi negara-negara di Afrika, salah satu di antaranya Afrika Selatan yang pernah saya kunjungi. Begitu cintanya kepada Indonesia,  almarhum Presiden Nelson Rolihlahla Mandela berbusana batik sampai akhir hayatnya.

Murid-murid sekolah di Cape Town sampai Aljir juga tahu berkat Dasa Sila Bandung, negara mereka bebas dari penjajahan. Sudahkah Bandung mempunyai sister city di Afrika? 

Bandung Mau Kemana?
Sayang, kita kurang memelihara kebesaran Bandung lahir batin. Boleh jadi karena mayoritas dari total jumlah penduduk kota yang mencapai 2.412.458 jiwa atau Bandung Raya sekitar 8,6 juta, tidak menyadari kota mereka pernah dikagumi. Berbagai lapisan masyarakat lalai pula menjaga titik-titik bersejarah, tidak seperti orang Eropa atau Jepang yang terus merawat ikon kota sekalipun sebelumnya luluh lantak akibat perang.

Selain itu, ikon ternyata memberi kebanggaan sekaligus bermakna ekonomis. Menjadi rangkaian obyek wisata pelancong domestik maupun mancanegara. Masyarakat lokal yang memperoleh manfaat pertama, sedangkan pemerintah di akhir barisan dalam bentuk pajak.  

Saya hanya bisa menduga kealpaan dan kelalaian itu disebabkan ada prioritas lain yang bersangkutan dengan hajat hidup. Di lain pihak, para pemangku kepentingan tidak sepenuhnya kuat menjaga peninggalan-peninggalan sejarah itu. Mengapa Rumah Makan Madrawi berubah fungsi menjadi Pos Satpol PP?

Selasa malam, 14 Agustus lalu, saya melintas di jalan Braga. Jalan yang tersusun dari batu-batu mengingatkan Champs-Elysees di Paris, kendati hanya dua ruas, sedangkan Champs-Elysees dapat menampung 17 kuda berjalan sejajar. Cahaya lampu dari griya neda yang berarsitektur unik mengingatkan kafe-kafe di Eropa seperti di Amsterdam dan Duesseldorf, Jerman Barat. 

Saya membayangkan betapa indahnya Braga dan sungguh nyaman berjalan di sana bila tak ada sepeda motor atau mobil. Sungguh menarik melihat orang dengan tangan disaku karena kedinginan, berjalan atau bergegas menyeberang jalan, masuk ke kafe. Braga pun menjadi catwalk alamiah.  

Contoh Buruk 
Tragedi yang dialami Bandung juga diderita kota-kota besar lain di Indonesia. Hal ini disebabkan strategi pembangunan yang membuat kota-kota besar menjadi kutub pertumbuhan. Orang-orang datang dari perdesaaan untuk mencari pekerjaaan, atau generasi muda datang dari berbagai provinsi untuk menuntut ilmu. Mereka seperti rama-rama yang tertarik cahaya lampu.

Kedatangan itu memerlukan penyediaan perumahan, fasilitas  kesehatan, pendidikan, sanitasi,  fasilitas publik, ruang publik, transportasi,  dan lingkungan hidup. Dari waktu ke waktu tekanan terus meningkat terhadap sekalian sektor, salah satu yang paling  dirasakan adalah kemacetan.

Rasa dahaga masyarakat terhadap ruang publik dapat dilihat dari minat untuk datang ke Alun-Alun atau taman. Ratusan orang datang ke Alun- Alun Kota Bandung, sedangkan di sekelilingnya ribuan kendaraan roda dua dan empat menyemburkan polusi. Untunglah pada September tahun lalu, Kota Bandung memperoleh Asean Environment Award untuk kota metropolitan terbersih dan terjaga. 

Pemerintahan Ridwan Kamil berhasil menegakkan benang yang akan dilanjutkan wali kota berikutnya. Bandung memang tak pernah kehilangan optimisme, sebab banyak penghuninya yang kreatif dan inovatif, termasuk merancang pembuatan rumah susun. Tinggal bagaimana memberi mereka ruang gerak!  

- Farid Kholidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar