Yamaha NMax

Lika-Liku Pedagang Mobil Toko

  Kamis, 09 Agustus 2018   Fathia Uqimul Haq
Deretan Mobil Toko di kawasan Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (9/8/2018). (Fathia/ayobandung)

DIPONEGORO, AYOBANDUNG.COM--Sudah dua tahun Rodik (23) menjadi pedagang moko alias Mobil Toko di kawasan Pusdai. Setiap hari dia berkejaran dengan Satpol PP supaya tak diambil beberapa sepatu dagangannya. Pukul 17.00 WIB, Rodik bersama mobil Daihatsu Zebra milik majikannya memarkirkan mobil dengan ratusan sepatu kulit  di dalamnya. Meski kawasan tersebut adalah zona merah, Rodik tetap “parkir” untuk berjualan sepatu demi melangsungkan kehidupan.

Rodik sudah hafal kapan Satpol PP datang membersihkan zona merah dari puluhan moko yang berjejer sepanjang Jalan Diponegoro. Kadang-kadang pukul 12.00 WIB atau 15.00 WIB. Jika Satpol PP datang, Rodik bersama puluhan moko lainnya kabur menyetir entah ke mana.

“Pernah sekali ketangkap Satpol PP, beberapa sepatu sama KTP diambil,” kata Rodik kepada ayobandung.com belum lama ini.

Dia mengaku, setiap hari paling tidak dua pasang sepatu terjual. Kisaran harga sepatunya antara Rp125.000 sampai Rp220.000. Pendapatan bersih yang dia dapatkan setiap bulan sebesar Rp900.000.

AYO BACA : Solihin: PKL Moko Harus Pikirkan Hak Orang Lain

Tak seperti dulu, kini moko memenuhi jalanan sampai belokan menuju parkir motor Pusdai. Akibatnya, saingan banyak memengaruhi pendapatan.

“Harus gimana lagi kalau enggak jualan ga bisa makan, namanya juga cari uang,” ujarnya.

Alasan Rodik tetap berjualan di sana adalah orang-orang sudah mengenal kawasan Jalan Diponegoro dan Pusdai sering dipenuhi moko.

“Saya terserah pemerintah bagaimana yang penting kami masih bisa berdagang,” harapnya.

AYO BACA : Persib Bakal Miliki Tempat Latihan Khusus Dekat Stadion GBLA

Ketua Paguyuban Pedagang Dipo, sebutan perhimpunan pedagang moko, Roni, mengatakan siap dibina pemerintah. Jika seandainya ada jalan keluar untuk nasib pedagang moko, Roni beserta yang lain setuju untuk mengikutinya.

“Misalnya ada relokasi, atau izin berjualan di mana, boleh,” kata Roni.

Menurutnya, persoalan ini adalah PR pemerintah.

Roni dan teman-temannya sudah pernah berjualan di berbagai tempat, namun hasilnya nihil. “Berdagang di Diponegoro juga hasil pertimbangan,” katanya.

Untuk sementara ini, ada 50 moko yang berdagang di sepanjang Jalan Diponegoro. Dari anggota Paguyuban Dipo, semua adalah warga Kota Bandung. “Karena ada beberapa yang sudah ke belakang sana bukan Dipo, dan banyak yang ikut-ikutan juga bukan warga Kota Bandung, agak bingung juga,”ujarnya.

AYO BACA : Pemkot Bandung Janji Sikat Mobil Toko

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar