Yamaha Aerox

Berdayakan Masyarakat Lewat Olahan Bambu

  Kamis, 12 Juli 2018   Fathia Uqim
Indonesian Bamboo Community (IBC), Komunitas yang bergelut dalam olahan bambu. (Fathia Uqimul Haq/ayobandung)

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM--Siapa yang tidak kenal dengan Indonesian Bamboo Community (IBC), Komunitas yang bergelut dalam olahan bambu dan terkenal dengan alat musik bambunya. 

Tak usah ditanya lagi soal kiprah dan prestasinya. Kini IBC terus berkembang menjadi komunitas yang dapat bermanfaat dan terasa dampaknya ke seluruh Indonesia. 
 
Sejak hadir pada tahun 2011, misi sosialisasi pemanfaatan bambu pada alat musik gencar dilakukan melalui grup musik yang bernama D'Bamboo Essential. Hingga akhirnya, masyarakat banyak melirik komunitas ini karena keunikan alat musik yang dibawakan berbahan dasar bambu. 
 
"Kita inginnya orang-orang tahu bahwa bambu itu bermanfaat dan mari kita beralih ke bambu, dari pada kayu," kata Hafid Fadilah, Wakil Ketua Komunitas Indonesian Bamboo Community, kepadaayobandung.com, Kamis (12/7/2018). 
 
Hafid beralasan, bambu itu seperti rumput. Ada dimana-mana, mudah ditanam, dan tumbuh dalam kurun waktu 2-3 tahun saja. Berbeda dengan kayu yang bisa tumbuh hingga puluhan tahun lamanya. 
 
Menurutnya, Bambu masih dipandang sebelah mata. Tanaman yang berkeliaran di mana saja ini tidaklah memiliki nilai jual tinggi. Indonesian Bamboo Community membuktikannya dengan produksi berbagai macam barang. Mulai dari alat musik, merambah ke jam tangan, perkakas dapur, hingga dekorasi rumah. 
 
Setelah nama Indonesian Bamboo Community mencuat di media, kini mereka sering dipanggil untuk mengisi pelatihan. "Terakhir, kami dipanggil mengisi pelatihan di Bangka," katanya.  
 
Mereka mulai fokus dengan memberdayakan masyarakat melalui pelatihan pemanfaatan bambu. Mulai dari produksi alat musik, perkakas, hingga kuliner dari bambu. 
 
IBC sudah melakukan pelatihan di berbagai tempat di Indonesia. Di antaranya Lampung, Bengkulu, Kalimatan, Purbalingga, dan Tasikmalaya. "Tergantung kebutuhannya, mereka ada yang berlatih musik, produksi alat musik, atau olahan makanan dari bambu," kata Hafid.
 
Waktu di Jambi, IBC sempat mengisi pelatihan pengolahan rebung menjadi tepung, brownies bambu, sampai daun bambu menjadi keripik.  Hal itu didasari supaya masyarakat bisa semangat dan memiliki pola pikir bahwa bambu itu bernilai dan punya sisi ekonomis yang tinggi. 
 
Tengok saja jam tangan buatan IBC. Satu jam tangan dibanderol Rp 400.000 untuk jam bambu bertali kulit. Berbeda jika talinya utuh dari bambu, harganya bisa mencapai Rp 700.000.
 
IBC memiliki cita-cita, masyarakat kelak akan menyebut segala barang yang terbuat dari bambu adalah produk IBC. Rencana ke depan,  IBC membuat konsep kawasan bambu terpadu. Di mana ada proses penanaman bambu dari nol sampai menjadi olahan yang melibatkan warga setempat.  
 
"Untuk saat ini masih jadi konsultan saja. Konsep kawasan bambu terpadu itu sudah diwujudkan oleh pemerintah di Bangka," kata Hafid.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar