Yamaha Lexi

Mitos Piala Dunia, Seks, dan Larangan Bercinta

  Kamis, 12 Juli 2018   Asri Wuni Wulandari
Gabriel Jesus. (Reuters)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Romario Faria, legenda timnas Brasil, punya petuah khusus untuk Gabriel Jesus. Kata dia, Gabriel kudu bercinta agar bisa membawa Brasil berdiri di puncak dalam ajang Piala Dunia 2018.

“Bercinta yang cukup adalah salah satu nasihat,” ujar Romario. Baginya, dalam sebuah pertandingan sepak bola, seks ibarat pupuk yang ditabur agar tanaman tumbuh gemilang. “Dan, tentu saja, Anda (Gabriel) harus berkonsentrasi pada hari pertandingan.”

Romario dikenal sebagai striker paling tokcer yang pernah dimiliki Brasil. Dia adalah figur penting dalam dunia sepak bola Brasil yang berhasil mencetak lebih dari 100 gol. Kehebatannya itu diikuti oleh sifat flamboyannya yang bikin wanita tergila-gila. Dia adalah “Don Juan” yang rela meninggalkan hotel tempat dia bersama timnya menginap dan pergi menyelinap hanya untuk mengencani seorang wanita.

Petuah dan pengalaman Romario sedikit banyak memperlihatkan adanya korelasi antara seks dan turnamen sepak bola. Konon, keberuntungan seorang pemain sepak bola selama turnamen akan bergantung pada kebijakan timnya mengenai hubungan seks. Entah mitos atau fakta.

Bukan cuma anggapan, seks memang punya segudang manfaat. Mulai dari meningkatkan suasana hati, mendorong agresi, dan masih banyak lagi. Seks ibarat olahraga kardio yang memompa aliran darah dan detak jantung meningkat. Aktivitas seks membuat seseorang lebih fleksibel.

Seks juga berperan untuk melepaskan hormon endorfin, zat kimia dalam otak yang bertanggung jawab untuk memicu suasana hati. Konon, seks bikin mood seseorang jadi bahagia. Hal-hal itu pula yang barangkali dibutuhkan oleh sejumlah atlet sepak bola dunia ini.

Sejumlah negara peserta Piala Dunia punya aturan yang berbeda-beda soal seks. Jerman dan Panama, misalnya. Kedua negara itu benar-benar melarang pemainnya untuk melakukan hubungan seks selama turnamen berlangsung. Bahkan, larangan Jerman juga menyertakan bahwa pemain dilarang bersentuhan dengan alkohol dan jaringan sosial.

Joachim Low, pelatih timnas Jerman, tampaknya tak berniat mengubah metode suksesnya dengan menerapkan sederet larangan untuk anak-anak asuhnya. “Anak-anak itu sangat akrab dengan aturan perilaku yang kami tentukan. Setiap pemain adalah bagian dari teka-teki, tim lebih penting dari individu,” ujar Joachim mengutip Marca. Begitu Piala Dunia dimulai, para pemain sontak diasingkan.

Serupa dengan Jerman, Hernan Dario Gomez, bos timnas Panama, juga meminta para pemainnya untuk meninggalkan seks selama turnamen dan hanya memfokuskan pikiran serta tenaganya untuk sepak bola.

“Kami punya beberapa batasan yang harus kami patuhi, larangan hubungan seks adalah salah satunya,” ujar bintang sepak bola Panama, Harold Cummings, mengutip The Sun.

Larangan seks itu disadari betul oleh para pemain Panama. Mereka menyadari bahwa mereka harus berkorban untuk melakoni pertandingan sebaik mungkin. Dan, melupakan seks adalah salah satu pengorbanan itu.

Berbeda dengan Jerman dan Panama, kubu lain negara peserta Piala Dunia justru beramai-ramai mempersilakan para pemain untuk berhubungan seks. Islandia, misalnya, yang memperbolehkan hubungan seks. “Tidak. Kami tidak melarang seks,” ujar pelatih timnas Islandia, Heimar Hallgrimsson, mengutip USA Today. Namun, manajemen membatasi seks hanya boleh dilakukan dengan pasangan resmi.

Ya, beberapa negara memang memperbolehkan adanya aktivitas seks bersyarat. Misalnya, seks yang hanya boleh dilakukan dengan pasangan resmi, pasangan diperbolehkan menginap hanya untuk dua hari, atau pasangan hanya boleh menemani pemain di hari-hari tertentu.

Di luar itu, ada juga negara-negara peserta yang memperbolehkan aktivitas seks tanpa syarat, seperti Spanyol, Uruguay, dan Argentina. Tak tanggung-tanggung, bahkan Argentina mengeluarkan semacam guide untuk mengencani wanita Rusia. Tips kencan yang dikeluarkan pada Mei lalu berhasil bikin geger banyak orang. Mengutip BBC, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) meminta maaf dan mengatakan bahwa bagian tips berkencan yang absurd itu merupakan akibat dari salah cetak.

Perbedaan sikap setiap negara peserta Piala Dunia soal seks itu berujung pada sebuah pertanyaan, apakah seks benar-benar memengaruhi kemampuan pemain saat berlaga?

Ada dua kubu pemikiran yang timpang tentang kolerasi hubungan seks dan kemampuan atlet melakoni turnamen. Ada yang bilang bahwa seks bermanfaat karena mampu membikin atlet lebih agresif dan kuat. Namun, kubu lain menyebut bahwa seks justru bakal mengganggu fokus pemain saat merumput.

“Ini seperti mitos,” ujar seksolog, Megan Stubbs, mengutip Bleach Report. Dia menegaskan bahwa hubungan seks tak akan mengganggu fokus pemain saat bertanding. “Seks telah terbukti punya banyak manfaat kesehatan. Jadi, ketika dilakukan oleh pemain sepak bola, itu menjadi bonus untuk menambah kecakapan atletik mereka,” jelasnya.

Namun, beberapa penelitian menyebutkan bahwa sperma membuat pria banyak mengeluarkan energi, yang ujung-ujungnya membuat pria bergerak lamban dan mengantuk. “Ini adalah gagasan yang salah,” ujar profesor endokrinologi asal Italia, Emmanuele Jannini, menukil National Geographic.

Janini justru menemukan bahwa seks merangsang produksi testosteron yang mampu meningkatkan agresi. “Agresi adalah hal yang diperlukan oleh seorang atlet,” kata dia. Lagipula, baginya seks bukanlah aktivitas yang menuntut tenaga.

Sebuah studi kecil yang melibatkan 10 atlet wanita dan 10 atlet pria menemukan bahwa ejakulasi terkait dengan peningkatan kinerja atletik. Kelincahan seorang atlet disebutkan meningkat 10%.

Anggapan-anggapan itu juga setidaknya didukung oleh sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Penelitian itu menemukan bahwa testosteron mampu memperkuat otot dan kekuatan kaki seorang pria.

Meski sejumlah penelitian mendukung anggapan bahwa seks mendorong kinerja atletik lebih baik, tapi tampaknya korelasi antara seks dan turnamen sepak bola masih menjadi tanda tanya. Namun, apa yang dikatakan seksolog, Lauren Streicher, sekiranya agak masuk di akal. Dia menyebut bahwa seks bisa menjadi baik dan bisa pula menjadi buruk selama turnamen berlangsung. Seks akan menjadi baik jika dilakukan dengan beberapa syarat.

Streicher menduga bahwa seks akan menjadi buruk jika sampai membuat seorang atlet kurang tidur. Apalagi mengingat sebagian besar orang melakukan hubungan seks di malam hari. Wajar rasanya jika sejumlah bos timnas sepak bola khawatir fokus para pemain akan berkurang jika berhubungan seks tepat di malam sebelum pertandingan. “Solusinya, jangan melakukan seks di malam hari,” kata dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar