Yamaha Lexi

Yayasan Paragita, Menjaga Alam dengan Daur Ulang Sampah

  Rabu, 11 Juli 2018   Fathia Uqimul Haq
Produk dari bambu yang dibuat Yayasan Paragita bersama warga Kabupaten Garut. (Fathia Uqim/ayobandung)

DIPONEGORO, AYOBANDUNG.COM—Gita Merry (45) dibikin gelisah oleh kondisi sampah di Kabupaten Garut yang tak tertangani. Kegelisahannya itu berujung pada gerakan edukasi masyarakat tentang sampah yang dilakoninya sejak 2014 lalu. Saat itu, pemilahan dan pengolahan sampah adalah hal yang sangat asing di mata warga.

Tak mudah bagi Gita untuk bergerak menyampaikan pentingnya tidak membuang sampah sembarangan. Dia mencoba menyosialisasikan konsep pemilahan sampah, pembuatan bank sampah, hingga pengolahan sampah nonorganik dan organik agar menjadi sesuatu yang bernilai.

“Dari 442 desa di Garut, saya baru membina 90 desa. Dari 90, hanya 5 desa yang bergerak, dan 1 desa yang telah memunculkan bank sampah menjadi koperasi,” kata Gita kepada ayobandung.com, belum lama ini.

Gita membina warga untuk mengolah sampah hingga kemudian menghasilkan beragam produk seperti pupuk organik dan tas dari plastik bungkus kopi. Tak hanya itu, Gita juga memberdayakan warga desa dengan membuat sampo, sabun, sikat gigi bambu, dan sedotan bambu sebagai solusi mengurangi sampah. Uniknya, Gita juga mengolah limbah botol kaca menjadi gelas yang terkesan old fashioned.

AYO BACA : Baby Pancakes, Pancake Mini nan Imut yang Bikin Ngiler

“Kita juga berusaha untuk kembali ke alam. Dulu zaman nenek moyang kita mencuci rambut dengan merang. Lalu kami memproduksi merang untuk dijadikan sampo lagi. Khasiatnya tentu lebih baik soalnya alami,” jelas Gita.

Tak mudah untuk akhirnya gerakan edukasi masyarakat tentang pengolahan sampah ini berjalan sukses. Tentu dibutuhkan sejumlah dana dalam setiap gerak langkah yang dilakukan. Untuk membiayai berbagai kegiatannya, Gita menjual kembali barang-barang yang telah dibuatnya bersama warga. Hasil penjualan digunakan sebagai dana sosialisasi dan edukasi ke sejumlah desa lainnya yang belum terjamah.

Berbagai kegiatan ini bergerak di bawah naungan Yayasan Paragita yang dibuatnya sendiri. Lewat yayasannya, Gita mengajak relawan untuk membantunya mengampanyekan masalah sampah ini. “Ini bukan tugas saya, tapi tugas kita bersama,” katanya.

Sampai saat ini, Yayasan Paragita aktif mendampingi sejumlah desa di Garut untuk bersinergi dalam mengurangi sampah plastik yang sulit didaur ulang. Bagi Gita, edukasi saja tidak cukup, mesti ada solusi supaya semua dapat berjalan dengan baik.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar