Yamaha Mio S

Sate Kuda Pak Awan, Satu-Satunya Gerai Sate Kuda di Bandung

  Selasa, 03 Juli 2018   Fathia Uqim
Sate Kuda Pak Awan. (Fathia Uqim/ayobandung)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Pernahkah kamu membayangkan memakan daging kuda yang sering kamu tunggangi? Atau apa kamu berani memakan daging kuda yang diolah menjadi satai, tongseng, atau semangkuk sup hangat? 

Jangan heran, takut, atau bimbang, nyatanya Sate Kuda itu benar adanya. Di Bandung, ada gerai satu-satunya yang menyediakan sate kuda. Namanya Sate Kuda Pak Awan. Berlokasi di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, bersejajar dengan Rumah Sakit (RS) Muhamadiyah, Bandung.

Konon, daging kuda memiliki sejumlah manfaat. Tak heran banyak orang yang beraktivitas berat seperti olahraga, binaragawan, atlet, dan para pengidap penyakit tertentu datang ke gerai ini. 

Menurut Awan Rusmanandar (60), pemilik gerai Sate Kuda, daging kuda dapat menyembuhkan penyakit asma, alergi, diabetes, bahkan darah tinggi. 

“Menurut kepercayaannya seperti itu,” ujar Awan kepada ayobandung.com, Selasa (3/7/2018).

Tidak jarang beberapa pelanggan sering melapor kepada Awan perihal usai mengonsumsi sate tersebut. Ada yang bilang mengonsumsi sate kuda tidak membuat pusing layaknya memakan daging sapi, ayam, atau kambing. Bahkan 30% pelanggan di antaranya mencari daging kuda untuk obat.

“Pelanggan daging kuda di sini 60% di antaranya orang yang mencari daging kuda karena sudah tahu nutrisinya, 30% yang mencari untuk pengobatan, dan 10% adalah orang yang coba-coba,” paparnya.

Pria asal Cijerah Bandung ini memulai bisnis kuliner yang tidak biasa sejak 10 Desember 2010. Alasannya, sudah banyak sate daging ayam, sapi, dan kambing di pasaran. Dia mencoba peruntungannya pada daging kuda. Tak sulit, Awan langsung mengambil daging kuda dari tetangganya, seorang  penyalur kuda potong. 

Kuda yang dijadikan daging berasal dari Sumbawa. Awan menjelaskan tidak ada peternakan kuda di Pulau Jawa. Kuda-kuda tersebut dikirim langsung dari Sumbawa ke Bandung. Kemudian tetangga Awan memotong kudanya di Bandung. 

“Karena tetangga, saya juga suka melihat proses pemotongannya,” kata Awan.

Beruntung, gerai Awan adalah yang paling bertahan di antara 7 gerai Sate Kuda di Bandung. Awan menilai daging kuda memang belum familiar di masyarakat. Namun, Awan masih tetap bertahan hingga gerainya terkenal seantero Jawa Barat.

“Sate kuda di Bandung ya tinggal di sini aja. Banyak orang dari mana-mana datang ke sini. Bahkan pelanggan bilang Sate Kuda Pak Awan sudah terkenal di kalangan orang-orang yang nge-gym di Jambi,” ujarnya.

Tentu hal tersebut tidak lepas dari pengolahan yang baik dari Awan. Apalagi dia selalu memperhatikan bumbu untuk para pengidap darah tinggi dan diabetes. Cukup mudah, Awan hanya melumuri kecap dan garam khusus di atas dagingnya.

“Kita juga enggak pakai bumbu macam-macam, semuanya rempah-rempah,” katanya.

Awan menyajikan tongseng, sup, sate, dan gepuk. Jika pelanggan Ingin rica-rica, Awan pun siap membuatkannya. Setiap hari, Awan menghabiskan 8-12 kilogram daging kuda. Di pasaran, daging kuda memiliki harga lebih dari Rp80.000 per kilo.

Harga setiap sajian pun hanya Rp20.000 per porsi. Terkecuali torpedo, menu ini dibanderol Rp23.000. Tentu lebih mahal sebab khasiatnya diyakini untuk kejantanan para pria.

“Yang paling favorit ya satai kuda, seporsi isi 10 tusuk cuma Rp20.000. Kami juga menyediakan nasi merah dan nasi putih, harganya tetap sama,” jelas Awan.

Jika menyambangi gerai Pak Awan, kaum Adam jelas mendominasi tempatnya. Apalagi para atlet body building, tarung derajat, hingga para pemain Persib seperti Atep dan Ajat Sudrajat pun pernah makan daging kuda di sini.

Makanya, saat Ramadan kemarin, Sate Kuda Pak Awan sepi pembeli lantaran masyarakat banyak mengurangi aktivitas beratnya seperti olahraga. Keadaan itu pun berpengaruh pada penjualan.

“Untuk omzet setiap bulan lebih dari Rp1 juta. Naik-naiknya kalau sedang ada even tertentu seperti PON. Banyak juga yang beli daging mentahnya saja ke saya,” ujarnya.

Masalah rasa, semua tergantung pada konsumen dan selera dari pengolahan tangan Pak Awan. Namun, untuk tekstur, Awan menilai jika daging sapi, kambing, dan ayam memiliki serat yang tidak putus sehingga dapat terselip, lain bagi daging kuda. Setelah dimakan, serat daging kuda akan terputus semua.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar