Yamaha Mio S

Serunya Meluncur dengan Kadaplak di Kampung Wisata Batuloceng

  Senin, 02 Juli 2018   Fathia Uqim
Dua anak kecil sedang menonton permainan kadaplak di Batulonceng Bandung Barat pada pertengahan Mei lalu.(Fathia/ayobandung.com)

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM—Salah satu permainan yang mungkin asing dilihat oleh warga kota, yakni meluncur dari bukit menanjak dan berbatu ke bawah, tanpa ada pengaman selain helm yang digunakan untuk naik motor.

Namanya kadaplak, permainan yang dapat menyatukan warga dengan segala kehebohan akibat jatuh bangun sang pemain.

Di Batuloceng Lembang Kabupaten Bandung Barat, bermain kadaplak merupakan hal yang terus diangkat oleh Gunawan Azhari (38), pegiat Kampung Wisata Batuloceng.

Selain menjadi permainan yang membutuhkan kebersamaan satu sama lain, Kadaplak melatih keberanian dan keseriusan supaya tidak mudah oleng, jatuh, dan tepat hingga garis akhir.

Gungun, sapaan akrabnya, mengatakan permainan tersebut hadir pada era tanam paksa tembakau pada abad ke-18. Saat itu, rimbagan, sebuah alat memotong tembakau, dijadikan kadaplak oleh anak-anak pada masanya.

“Anak-anak meniru para tuan kawasa kolonial yang ke sini membawa sepeda motor roda tiganya,” kata Gungun saat berbincang dengan ayobandung.com pertengahan Mei lalu.

Anak-anak saat itu memainkan kadaplak pada musim tembakau di bulan 7 atau 8. Di sela-sela panen tembakau, anak-anak memainkannya dengan suka cita meniru sang kolonial.

Bahkan, selain dari rimbagan, kadaplak pun dapat dibuat dari alat angkut tembakau. “Tapi, ketika Indonesia mengalami zaman perang, masyarakat mengungsi, kadaplak pun berhenti,” ujarnya.

Diketahui, saat Zaman Belanda, anak-anak masih bermain kadaplak. Setelah itu munculah peperangan dan Jepang menduduki wilayah Indonesia. Warga pun mengungsi besar-besaran dan tentunya tiada lagi permainan tersebut.

Lantas, sebelum 1945, saat Jepang masih menduduki Tanah Air, anak-anak kembali bermain kadaplak. Namun pada akhirnya, pada 1945-1949, permainan tersebut kembali berhenti.

“Kadaplak masih ada saat petani masih menanam tembakau,” tegas Gungun.

Tembakau merupakan tanaman unggulan masyarakat yang sudah jadi ketergantungan hidup, khususnya warga Desa Suntenjaya, tempat Kampung Batuloceng berada. Namun sayang, penanaman tembakau berakhir pada 2005.

Saat itu, Perhutani melarang penanamannya karena dapat merusak agregat tanah. Bagaimana pun, petani hanya bisa mengandalkan lahan Perhutani. Akhirnya, mereka pun berakhir dengan menanam pisang.

“Dulu, Batuloceng adalah sentra tembakau terbesar se-Kabupaten Bandung,  sebelum sekarang berubah menjadi Kabupaten Bandung Barat tahun 2007,” katanya.

Soal kadaplak, tentu permainan tersebut perlahan terhenti pada awal 2000, disebabkan oleh pelarangan dan iklim yang berubah yang menyebabkan panen  tak lagi menentu.

Nama Lain Kadaplak

Setiap wilayah yang memiliki permainan jenis ini menyebut kadaplak dengan nama lain. Bahkan dengan bentuk yang berbeda namun intinya masih sama. Sebagian ada yang menyebutnya rel-relan, kakaretaan, atau rorodaan.

“Di Pulau Jawa, Kadaplak ini disebut dengan nama yang beragam, termasuk di Tatar Sunda. Di Tanjungsari saja permainan ini disebut padati,” katanya.

Berbagai komunitas pegiat budaya pun memiliki nama dan bentuk yang merepresentasikan sebuah kadaplak. Tetap saja, cara bermain dan keseruannya tetap sama. Namun, kata Gungun, umumnya kadaplak disebut rorodaan.

“Tapi saya pengen punya nama sendiri untuk di Batuloceng. Jadi saya kasih nama kadaplak, karena bentuknya mirip dengan kadaplak, sebuah kupu-kupu lumpur yang kecil dan tipis,” katanya.

Kadaplak memiliki  tiga sampai empat jumlah ban. Ada yang memili stang, ada pun yang tanpa stang. Dibuat dari kayu bekas, bambu, serta ban bekas. Potongan kayu besar dibuat menjadi ban supaya kadaplak dapat berjalan, dilubangi, dan dipasang stang.

“Kayu yang digunakan bisa kayu alpuket atau kayu rawa,” katanya.

Tak butuh waktu lama, pembuatannya yang membutuhkan waktu satu hari kini siap dimainkan.

Bak motor-motoran, sang pengemudi menggunakan helm, menaikkan kakinya ke atas pedal yang tak dibuat berfungsi, dan pemain hanya dapat mengatur sendiri arah dengan stangnya. Biarkan kadaplak meluncur dengan kekuatan gravitasi dari atas bukit hingga jalanan sudah kembali datar.

Arena meluncur tersebut tidaklah mulus. Berbatu, berbelok, tidak rata, terkadang dihimpit rumput liar. Pinggir kanan dan kiri adalah bukit yang kadang menjorok ke bawah, atau ditumbuhi ilalang liar.

Tak jarang, pemain terjatuh di tengah arena lantaran bebatuan yang tak bersahabat.

Kadaplak Hari Ini

Setelah tembakau tak lagi jadi komoditas, para orang tua merayakan hari raya panen dengan menggelar pesta rakyat alias syukuran atas hasil panen. Biasanya, Kadaplak menjadi permainan seru yang digelar saat berpesta.

Saat ini, Kampung Batuloceng memainkan kadaplak pada Hari Sumpah Pemuda, Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia, dan perayaan besar lainnya. Terkadang warga pun memainkan kadaplak untuk melepas penat di sore hari.

“Peraturannya, barang siapa yang paling cepat meluncur, maka dia yang menang. Dihitung waktu meluncurnya, dan dia tidak jatuh di tengah arena,” ujarnya.

Bahkan, Gungun dan para pemuda membuat permainan ini menjadi semakin seru dengan partisipasi ibu-ibu berbusana daster, yang harus berlomba meluncur dengan kadaplak.

“Intinya, kita mencari rasa senang, seru, kebersamaan, dan tertawa bersama penonton,” katanya.

Gungun mengembalikan permainan tradisional ini ke Batuloceng saat dirinya kembali mengingat masa kecil di Cikuda. Saat itu, Gungun yang masih duduk di bangku SD pada tahun 1985 -1990-an, bermain Kadaplak  yang jalurnya dari Cikuda sampai Cukang Kawung.   

“Dari situ saya ingin mengembalikan permainan tersebut dibawa ke Batuloceng,” kata Gungun.

Maraknya pertumbuhan motor membuat orang-orang di kampung, khususnya, tidak tertarik bermain permainan tradisional lagi. 

Awal 2014, Gungun mengajak masyarakat dan pemuda untuk membangun kembali permainan ini. Tak mudah, para pemuda pun belum tertarik dengan hal ini. Namun, Gungun tetap bersikeras dan berusaha supaya masyarakatnya mau bersama membangun permainan ini.

“Pertengahan 2014,  saya dengan para remaja berkumpul, serta bersama para senior. Biasa, ngumpul sambil ngobrol santai. Tak lama mereka pun terpancing,” kata Gungun.

Mengawali, para pemuda membuat tiga buah kadaplak. Setidaknya, kata Gungun, kadaplak memiliki kekuatan selama lima musim. Kemudian mereka pun mencoba kadaplak tersebut dan bermain di lahan perbukitan, masih dekat dengan rumah penduduk.

“Kami mengagendakan bermain kadaplak di hari-hari besar, main kapan saja juga bisa asal harus ramai,” ujarnya.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar