Yamaha Lexi

Remaja Terbiasa Mencermati Konten di Dunia Maya dalam Hitungan Detik

  Sabtu, 30 Juni 2018   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Remaja di zaman kiwari dikenal dengan sebutan kelompok digital native. Koneksi internet adalah hal yang penting untuk memenuhi beragam kebutuhan. Seyogianya, budaya digital native ini membuat remaja memperluas khazanah pengetahuannya. Namun, penelitian teranyar menemukan hal yang hampir 100% berbeda.

Studi anyar yang dilakukan di Inggris menemukan budaya penggunaan media sosial yang sangat dangkal di kalangan remaja. Studi menemukan bahwa remaja menghabiskan waktu selama 12 jam untuk berselancar di dunia maya, khususnya di sejumlah platform media sosial. Ironisnya, selama 12 jam bergulir, remaja hanya membuka laman-laman media sosial dan melihat satu konten hanya dalam hitungan beberapa detik. Waktu yang sangat singkat untuk mencermati esensi dari sebuah konten.

Untuk pertama kalinya para peneliti menggunakan teknologi untuk mencatat menit demi menit, bahkan detik demi detik, tentang apa yang sebenarnya dilakukan remaja dengan ponsel pintarnya.

Sebut saja Olypia, remaja 17 tahun yang menghabis 3,3 jam di Snapchat, 2,5 jam di Instagra, 2 jam di Face Time, 2,4 jam di WhatsApp, dan 1,8 jam di Safari. Total, Olympia menghabiskan waktu 12 jam untuk berselancar di dunia maya.

“Itu bergulir dengan cepat. Satu atau dua detik untuk setiap konten. Mereka berbagi lalu menyukai, lalu berganti lagi ke konten lain. Rasanya kompulsif. Ini mengejutkan karena begitu dangkalnya penggunaan dunia maya saat ini,” ujar Direktur Revealing Reality, Damon de Ionno, yang memberikan saran untuk penelitian, melansir The Telegraph, Sabtu (30/6/2018).

Ketika para peneliti memperlihatkan catatan data yang didapat, para remaja itu menyangkal. Mereka merasa bahwa kebiasaan—yang disebut dangkal oleh para peneliti—itu tidak membosankan. Mereka terlarut dalam kebiasaan yang dangkal itu.

Beberapa menyebutkan bahwa anak-anak dalam keluarga berpenghasilan rendah adalah kelompok rentan dari konsumsi media sosial pasif seperti itu. Namun, penelitian ini justru menemukan hal yang terbalik. “Kami justru melihat remaja yang relatih berpendidikan dan latar keluarga yang mumpuni lebih pasif dalam bermedia sosial,” kata de Ionno.

Olympia mengaku pada para peneliti, kamar mandi adalah satu-satunya tempat di mana dia tak bisa bermain dengan media sosialnya. Namun, dia juga mengaku bakal tetap bermain media sosialnya di kamar mandi jika ponsel pintarnya anti-air.

Selama penelitian, sejumlah remaja juga kerap bolak-balik memeriksa ponsel mereka. “Ini adalah bentuk imersi, rasa takut hilang jika seseorang tidak bermain media sosial,” ujar de Ionno.

Konsekuensinya adalah mereka melewatkan kegiatan-kegiatan lain yang lebih positif dan meninggalkan komunikasi tatap muka dengan seluruhnya berinteraksi melalui media sosial.

"Orang-orang perlu menilai kembali hubungan mereka dengan ponsel pintar. Jika tidak, maka itu bisa menjadi sangat memakan tempat di mana dunia dan semua hubungan hanya terlihat melalui telepon."

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar