Yamaha Mio S

Tergoda Pesona Kampung Wisata Batuloceng yang Tersembunyi

  Jumat, 29 Juni 2018   Asri Wuni Wulandari
Suasana Kampung Batuloceng, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Irfansyah/ayobandung)

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM—Lokasinya tak jauh-jauh amat dari Kota Bandung. Hanya berjarak sekitar 18 kilometer dari kawasan Dago. Tapi, Kampung Batuloceng bisa jadi pelepas kebosanan rutinitas perkotaan.

Kami (tim ayobandung) berkunjung ke kampung yang berada di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat itu, pada medio Mei lalu. Tak ada hiruk pikuk perkotaan atau suara bising knalpot yang menyambut kami. Hanya semangkuk mi bakso alakadarnya yang disantap di tengah semilir angin dataran tinggi dan ditemani celotehan kecil warga tentang kampungnya.

Batuloceng adalah sebuah kampung wisata di sisi barat Bandung. Berada di antara Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Palasari, pelbagai potensi wisata Batuloceng mengajakmu untuk bertandang. Mulai dari wisata alam, edukasi, hingga sejarah terkumpul di kampung yang berada di daerah aliran hulu Sungai Cikapundung ini.

Kampung Batuloceng—atau dalam bahasa Indonesia dibaca ‘Batu Lonceng’—terdiri dari dua rukun warga dan 160 kepala keluarga di Desa Suntenjaya. Sebagian besar warga di kampung ini bermatapencaharian sebagai petani kopi dan peternak sapi. Hampir sebagian besar warga sudah paham betul soal potensi wisata yang tengah digiatkan kampungnya.

Tengok saja ketika kami berjalan menyusuri kampung selama dua hari itu. Hampir setiap warga mengajak kami berkunjung ke rumahnya untuk ikut menikmati proses pembuatan kopi. Kebetulan, saat itu warga Batuloceng baru saja memanen kopinya.

Sayang, kemilau potensi wisata itu tampaknya kurang mentereng dibanding destinasi The Lodge, Maribaya, tempat banyak orang bervakansi. Padahal sejumlah titik wisata siap dinikmati di Kampung Batuloceng.

Kopi adalah salah satu yang diunggulkan Kampung Batuloceng. Kopi Java Preanger menjadi tumpuan hampir setiap warga di sini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kopi ini dikenal dengan aromanya yang kuat dan rasa manis rempah. Konon, kopi ini sempat merajai dunia pada masa kolonial.

Ada puluhan hektar kebun kopi yang digarap oleh sekitar 75 petani di Kampung Batuloceng. Selain bisa berjalan-jalan di areal salah satu perkebunan kopi tertua di Nusantara ini, pelancong juga bisa menikmati secangkir kopi hangat khas Batuloceng ditemani kudapan-kudapan kampung yang menggoda. Bakal lebih mengasyikkan lagi jika datang tepat saat panen kopi di sekitar bulan Mei dan Juli. Pelancong bisa ikut membantu warga memetik biji kopi di areal perkebunan dan mempelajari proses pembuatan kopi.

Kopi menjadi salah satu sumber utama kearifan lokal warga Kampung Batuloceng. Ini juga yang berkaitan erat dengan permainan lawas Kadaplak—sebagai salah satu unggulan wisata lain—yang dipertahankan warga sekitar.

Kadaplak merupakan permainan menuruni bukit dengan alat serupa motor kecil yang terbuat dari kayu. Dahulu kala, ini menjadi hiburan rakyat pribumi yang bekerja di perkebunan milik Belanda. Konon, motor kecil yang digunakan untuk bermain kadaplak ini dibuat dari kayu bekas alat pemotong di masa lalu. Pelancong yang senang menantang adrenalin wajib mencoba permainan yang satu ini. Jalanan menurun yang sedikit terjal cocok untuk menikmati rasa deg-degan dan membiarkan mulut berteriak lepas.

Setelah lelah bermain kadaplak, segelas susu segar tampaknya menarik. Tenang saja, pelancong bisa menikmati segelas susu segar dan sehat yang langsung diperah dari sapi. Sebagai informasi, Kampung Batuloceng merupakan salah satu daerah penghasil susu sapi di Bandung Raya.

Ada sekitar 70 peternak sapi perah di Kampung Batuloceng. Nah, selain menikmati susu perah yang sehat, pelancong juga bisa berkunjung ke kandang-kandang sapi yang ada di sini. Jika datang di pagi atau sore hari, pelancong bahkan bisa ikut memerah sapi yang ada di sini.

Selain itu, pelancong juga bisa belajar tentang pengolahan kotoran sapi. Peternak sapi di Kampung Batuloceng tak sembarangan membuang limbah kotoran sapinya. Di sini, warga mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos secara swadaya.

Setelah puas menikmati susu segar, kopi hangat, dan bermain kadaplak, saatnya bagi pelancong untuk menikmati suasana khusyuk di Situs Batuloceng. Ini merupakan salah satu wisata unggulan di Kampung Batuloceng. Di titik ini, saatnya pelancong disuguhkan konten wisata edukasi budaya dan sejarah.

Situs Batuloceng dipercaya sebagai patilasan Kerajaan Padjadjaran. Lokasinya tak jauh-jauh amat dari pusat Kampung Batuloceng. Cukup dicapai dengan berjalan kaki selama 30 menit.

Situs ini berupa artefak batu berwarna hitam legam yang berbentuk seperti bayi. Karena itulah, sebagian warga menyebutnya pula dengan sebutan “batu orok” atau “batu jabang bayi”. Batu yang ditemukan sekitar abad ke-16 itu mengandung arti sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki totonde alias pertanda. Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa siapa pun yang berhasil mengangkat batu itu bakal enteng rezeki.

Tak hanya itu, pelesir di Kampung Batuloceng juga bisa dilanjutkan dengan perjalanan menuju salah satu titik Patahan Lembang. Istilah ini merujuk pada kerak bumi yang berada kurang dari 10 kilometer di utara Kota Bandung. Membentang sepanjang 22 kilometer dari timur ke barat dimulai dari Gunung Palasari, Maribaya, Lembang, Parongpong, hingga Cisarua.

Titik ini bisa diraih dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dari Kampung Batuloceng. Sesampainya di sana, pelancong bisa menikmati dinding-dinding alami yang berlekuk-lekuk molek mengitari Kota Bandung.

Kampung Batuloceng menawarkan dua paket wisata. Pertama adalah paket tur berkeliling satu hari. Dengan kocek sebesar Rp150.000, pelancong bisa dimanjakan oleh beberapa sajian seperti mengunjungi Situs Batuloceng, berkunjung ke kebun kopi sekaligus menikmati secangkir kopi hangatnya, bertandang ke peternakan sapi perah dan meneguk susu segar, pertunjukan seni budaya, makan siang ala Batuloceng, sajian kudapan-kudapan tradisional, dan cenderamata.

Pelancong yang ingin lebih lama bisa mengambil paket tur berkeliling dua hari satu malam yang dibanderol Rp250.000. Apa yang didapat hampir sama dengan paket tur satu hari, dengan tambahan permainan kadaplak, akomodasi menginap di rumah warga, dan makan sebanyak empat kali.

Kampung Batuloceng bisa diakses dari berbagai jalur dari Kota Bandung. Pertama, dari titik kawasan Setiabudi-Ledeng, pelancong bisa terus mengambil arah menuju Lembang dan melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata Curug Maribaya. Kedua, dari titik kawasan Dago, pelancong bisa mengambil arah menuju Dago Giri untuk terus sampai ke Curug Maribaya.

Dari Curug Maribaya, lanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Cibodas-Bukit Tunggul. Nah, dalam perjalanan sesi ini, pelancong harus bersiap dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok dan sedikit rusak. Di beberapa titik pelancong bakal bertemu dengan ruas jalan berupa tanah dan bebatuan, harap berhati-hati. Di ujung jalan, pelancong akan bertemu dengan Tugu Bukit Tunggul. Tengok sebelah kanan dan berbeloklah, lalui jembatan kecil, dan di sanalah Kampung Batuloceng berada.

Lalu, pelancong juga bisa mengambil akses dari Padasuka, Cicaheum dan menuju Puncak Bukit Bintang, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Namun, akses ini hanya bisa dilalui bagi pelancong yang membawa kendaraan berpenggerak empat roda.

Perjalanan Menuju Kampung Wisata

Kampung Wisata Batuloceng ini bermula dari wacana pengembangan desa wisata di Kabupaten Bandung Barat pada 2013 lalu. Desa Suntenjaya dianggap sebagai salah satu desa yang punya potensi pariwisata menggiurkan.

Saat itu, beberapa kampung di Desa Suntenjaya dipilih sebagai proyek percontohan, termasuk salah satunya adalah Kampung Batuloceng. “Kami tentu merespons wacana itu dengan semangat,” ujar pegiat wisata Kampung Batuloceng, Gunawan, kepada ayobandung.

Gunawan, atau yang akrab disapa Gugun, adalah satu dari para penggerak awal konsep kampung wisata di Batuloceng. Dia bersama kawan-kawan ingin memberikan sajian wisata yang berbeda dari tempat-tempat pelesir lainnya. “Penginnya itu gimana caranya orang datang ke tempat wisata dan dapat sesuatu yang baru. Enggak cuma foto-foto doang,” kata pria asli Batuloceng ini. Dengan konsep eduwisata, agenda vakansi jadi punya nilai lebih dengan adanya pengetahuan-pengetahuan baru yang didapat sepanjang pengalaman wisatawan saat melancong.

Pelbagai potensi wisata yang ditawarkan ini sebenarnya telah eksis sejak lama. Sebut saja perkebunan kopi dan peternakan sapi perah yang telah lama mengisi denyut nadi kehidupan warga Kampung Batuloceng. Untuk mewujudkan kampung wisata itu, Batuloceng sesungguhnya hanya membutuhkan komitmen dan semangat dari segenap warga.

Sejak fokus bergerak pada tahun 2015, Gugun dan kawan-kawan pelan-pelan membuat perencanaan konsep wisata di kampungnya. Dari situ, mereka tahu bahwa membuat kampung wisata bukan hal yang mudah. “Banyak syarat yang harus dipenuhi,” kata dia.

Salah satu syarat itu adalah keberadaan homestay yang bergantung pada kesediaan warga untuk menerima tamu di rumah masing-masing. “Enggak gampang menyadarkan warga untuk ini,” ujar Gugun. Padahal, kata dia, konsep kampung wisata dengan meleburkan interaksi pelancong dengan warga ini bisa berdampak pada kesejahteraan warga.

Namun, Gugun dan kawan-kawan tak menyerah. Pelan-pelan tapi pasti, kini sebagian besar warga Kampung Batuloceng tampaknya sudah terbiasa dengan kunjungan orang-orang luar yang penasaran dengan kampungnya.

Gugun menyebut kalau kampungnya menawarkan konsep “wisata ngendong” yang bisa didapat pelancong dengan mengambil paket dua hari satu malam. Sebenarnya, konsep ini sama saja dengan homestay, tapi Gugun lebih memilih menyebutnya dengan sebutan “ngendong” (menginap).

“Kalau homestay itu kaya nginap biasa saja. Wisatawan datang cuma numpang tidur dan makan. Tapi kalau ngendong itu, kan, lebih nyunda, lebih memuat kearifan lokal. Jadi wisatawan diharapkan enggak cuma numpang tidur dan makan, tapi juga mengakrabkan diri dengan warga si pemilik rumah,” jelas Gugun.

Tak hanya itu, kesiapan untuk mewujudkan kampung wisata ini juga terlihat dari beberapa warga yang sudah lumayan fasih berbahasa Inggris. Ini tak lepas dari bantuan sejumlah relawan mancanegara yang datang berkunjung dan mengajarkan bahasa Inggris untuk warga. “Lumayan lah. Minimal warga sudah siap kalau ada wisatawan bule datang,” kata Gugun.

Memang, belum ada peningkatan yang signifikan sejak Gugun dan kawan-kawan mulai fokus menggerakkan pariwisata Kampung Batuloceng. Baru pada tahun 2018 ini mereka memberanikan diri untuk mengonsep paket tur wisata Kampung Batuloceng.

“Masih banyak yang harus kami persiapkan,” kata Gugun. Saat ini misalnya, Gugun dan kawan-kawan tengah melengkapkan informasi sejarah Kampung Batuloceng untuk kemudian dirangkum dan menjadi sajian edukasi dalam paket wisata yang ditawarkan. Pasalnya, tak banyak literatur yang bicara tentang kampung ini. “Itu susah, sih. Kami sedang mengumpulkan dari para sesepuh di kampung atau dari literatur dan pakar-pakar sejarah,” kata dia.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar