Yamaha Mio S

Pramugari Berisiko Lebih Tinggi Terserang Kanker

  Rabu, 27 Juni 2018   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi pramugari. (Pixabay/Public Domain Archive)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Awak kabin pesawat memiliki risiko lebih tinggi terserang kanker. Hal itu ditemukan dalam sebuah penelitian baru yang dilakukan sejumlah ilmuwan di Harvard University.

Penelitian menemukan bahwa kru kabin pesawat, baik pria maupun wanita, memiliki risiko lebih tinggi terserang kanker dibandingkan masyarakat umum lainnya. Ini termasuk di antaranya kanker payudara, kanker rahim, kanker kulit, serta kanker sistem pencernaan.

Salah satu penyebab meningkatnya risiko kanker ini adalah karsinogen—yang diketahui sebagai penyebab kanker—memberikan paparannya untuk awak kabin pesawat.

Penulis utama studi, Irina Mordukhovich, mengatakan bahwa salah satu karsinogen tersebut adalah cosmic ionizing radiation yang meningkat pada ketinggian. Jenis radiasi ini dikenal sangat merusak DNA dan dikenal sebagai penyabab kanker payudara dan kanker kulit non-melanoma.

“Awak kabin udara menerima dosis radiasi ion tertinggi dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya,” kata Mordukhovich, melansir Live Science.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Environmental Health Journal ini, para peneliti melihat data dari sekitar 5.300 pramugari di berbagai penerbangan. Analisis ini membandingkan pramugari dengan sebanyak 2.700 orang lainnya non-pramugari.

Para peneliti menemukan bahwa pada pramugari, tingkat risiko kanker payudara lebih tinggi 50% daripada pada wanita umum lainnya. Sementara tingkat risiko kanker kulit melanoma dua kali lebih tinggi dan empat kali lebih tinggi untuk non-melanoma.

Sementara untuk kru kabin pesawat pria, tingkat risiko kanker melanoma lebih tinggi 50% dan 10% untuk kanker non-melanoma dibandingkan dengan pria lain umumnya.

Risiko terbang intensif

Risiko kanker untuk awak kabin pesawat tak terbatas pada radiasi ion kosmik. Anggota awak kabin pesawat juga secara teratur terkena radiasi UV  yang membuat mereka rentan terhadap serangan kanker kulit.

Selain itu, beberapa penelitian juga telah menemukan bahwa gangguan irama sirkadian seperti jet lag mungkin juga terkait dengan peningkatan risiko kanker. Gangguan ini dapat menyebabkan perubahan fungsi kekebalan tubuh dan metabolisme sel yang dapat mengurangi supresi tumor.

Ancaman lain yang datang pada awak kabin pesawat adalah adanya paparan kimia yang masuk dalam tubuh. Para pria dan wanita yang bekerja sebagai pramugari sebelum tahun 1988—saat merokok di dalam kabin masih diperbolehkan—secara rutin terpapar asap rokok di dalam pesawat.

Selain itu, kontaminasi kimia yang mungkin ditemukan di dalam kabin pesawat termasuk kebocoran mesin dan pestisida.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar