Yamaha Mio S

Studi: Orang dengan Pemahaman Politik Tinggi Cenderung Percaya Teori Konspirasi

  Selasa, 26 Juni 2018   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Politikus-politikus dadakan kini semakin bermunculan. Pengetahuan mereka tak sembarangan. Mereka bisa mengkritisi pemerintah dengan berbagai argumen yang bikin ciut. Namun, tahukah kamu jika pemahaman politik berpengaruh terhadap pikiran konspiratif seseorang?

Sebuah penelitian anyar yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology, menyebutkan bahwa seseorang dengan tingkat pemahaman politik yang tinggi punya kecenderungan besar untuk memercayai teori konspirasi.

Melansir Science Trend, studi ini menyelidiki 394 orang di Amerika Serikat. Para peneliti memantau ratusan peserta sebelum dan sesudah Pemilihan Presiden AS 2016 lalu. Para peserta penelitian diinstruksikan untuk menilai pemahaman mereka tentang enam kebijakan politik yang berbeda. Setelahnya, para peneliti meminta peserta untuk memberikan penjelasan mendalam tentang topik yang mereka sukai.

Hasilnya, para peneliti berkesimpulan bahwa rasa percaya diri yang tinggi atas pemahaman politik dan kebijakan publik berpengaruh terhadap kecenderungan seseorang untuk percaya pada teori konspirasi.

Analisis data mengungkapkan bahwa mereka yang melaporkan pengetahuan yang tinggi tentang isu-isu politik lebih cenderung menganggap bahwa teori konspirasi itu ada. Seperti gagasan bahwa AIDS diciptakan secara sengaja oleh pemerintah AS. Dalam konteks pemilu AS, pemikiran konspiratif ini dapat ditemukan di seluruh spektrum politik, baik para pendukung Hillary Clinton ataupun Donald Trump.

Seorang peneliti dari Lehigh University, Joseph Vitrol, menjelaskan bahwa motivasi penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana teori konspirasi berdampak pada seseorang. Vitriol mengatakan bahwa keberadaan teori konspirasi menghambat kemungkinan wacana yang jujur dan terbuka tentang isu-isu penting dalam masyarakat.

Sebelumnya, sebuah penelitian lain menyebutkan bahwa pemikiran konspiratif juga muncul berdasarkan rasa tidak berdaya dan dikucilkan. “Jika orang merasa terancam, mereka akan menemukan bahwa teori konspirasi lebih menarik,” ujar Vitriol.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar