Yamaha Aerox

Bala-Bala Baseuh, Antimainstream Sejak 1972

  Minggu, 03 Juni 2018   Fathia Uqim
Bala-bala baseuh Ceu Eha. (Fathia Uqim/ayobandung)

BABAKAN CIPARAY, AYOBANDUNG.COM--Sejak Eha Julaeha (64) menetap di Jalan Babakan Ciparay, dia berjualan berbagai penganan untuk mencukupi kebutuhannya. Mulai dari berjualan kupat tahu hingga gorengan. 

Seiring berjalannya waktu, Eha berpikir untuk mengganti jualannya dengan makanan lain karena sudah banyak orang yang berjualan kupat tahu di daerahnya.

Pada tahun 1972, Eha mendapatkan ide untuk berjualan bala-bala. Namun, jangan dibayangkan bahwa ini seperti bala-bala pada umumnya yang terbuat dari kol, wortel, terigu, lalu digoreng. Bala-bala buatan Mak Eha, begitu sebutannya, beda dari biasanya. Bahkan bisa dikatakan, bala-bala ini hanya satu-satunya di Bandung.

Bala-bala baseuh, adalah sebutan penganan yang Mak Eha bikin. Label itu diucap oleh pelanggannya yang selalu antre membeli bala-bala Mak Eha. Karena bala-bala baseuhnya itu terbuat dari mi, kol, wortel, kemudian terigu  yang digoreng dan digunting menjadi kotak. Semua dicampur dan disiram dengan sambal buatan Mak Eha.

“Ya ini resep bikin sendiri, mikir sendiri juga,” ujar Eha, kepada ayobandung, Minggu (3/6/2018).

Yang berbeda, bala-bala ini tidak memiliki adonan untuk digoreng. Melainkan isian bala-bala menjadi campuran yang dimakan langsung dengan mi dan kulit terigu. 

Mi dengan campuran kol dan wortel, serta adonan terigu yang sudah digunting dicampur ke dalam baskom besar. Kemudian baskom tersebut siap dibawa ke depan rumah untuk dijual. 

Tak perlu sulit menjajakan bala-bala baseuh, karena pelanggan sudah antre bahkan telah memesan terlebih dulu supaya kebagian. 

"Suka ada yang berantem gara-gara nyelak atau enggak kebagian," ujar Eha. 

Makanya, banyak pelanggan yang lebih dulu mencatat pesanannya ke Eha supaya dipisahkan dan dapat dibawa lebih awal. 

Penjualan Meningkat

Setiap hari, Eha memerlukan lebih dari 6 kilogram terigu untuk membuat bala-bala baseuh. Pelanggan dapat membeli sesuai keinginannya. Eha bisa melayani pelanggan yang membeli dari harga Rp 2000 sampai Rp 7000. Jadi, Eha tidak tahu persis berapa bungkus bala-bala baseuh yang terjual setiap hari. 

"Kalau bulan puasa kita bisa bikin 3x lipat bala-bala baseuh," ungkapnya. 

Bala-bala baseuh biasanya didagangkan setiap pukul 06.00 sampai  08.00 WIB. Tetapi untuk bulan Ramadan, Eha berjualan dari jam 14.30 sampai 15.30 WIB. 

Pernah suatu hari ada yang menuruti bala-bala baseuh seperti Eha. Tak bertahan lama, pedagang tersebut berhenti dan hanya berdagang seminggu saja. Bagi Eha, itu bukan masalah baginya karena rizki sudah ada yang mengatur. 

"Alhamdulillah setiap hari dari jualan bala-bala baseuh bisa mendapatkam Rp 700.000," ujar Eha. 

Setiap tahun, penjualan bala-bala baseuh buatan Mak Eha meningkat. Tidak seperti tahun 70'an dulu. 

"Karena dulu masyarakatnya sedikit. Sekarang banyak pendatang jadi makin laris dagangannya," tandasnya. 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar