Yamaha NMax

Denyut Syiar Islam di Masjid Lautze II

  Rabu, 30 Mei 2018   Arfian Jamul Jawaami
Bulan Ramadan meghadirkan denyut dakwah Islam di Masjid Lautze II Bandung terasa semakin mengental.

TAMBLONG, AYOBANDUNG.COM-- Denyut dakwah Islam di Masjid Lautze II Bandung saat Ramadan terasa semakin mengental. Aktivitas berupa buka puasa bersama musafir dan takjil on the road telah berlangsung sejak hari pertama Ramadan.

Dalam satu hari setidaknya masjid yang kental dengan arsitektur bergaya oriental tersebut memberikan 1.000 paket kurma dan air mineral kepada pengguna jalan serta kurang lebih 100 sajian makanan berat untuk para musafir berbuka puasa. 

"Sesuai hadis Rasul maka kami memberikan tiga buah kurma dan air mineral kepada pengguna jalan untuk berbuka puasa. Juga ada ratusan makanan berat untuk musafir yang datang dari banyak tempat. Semua anggaran berasal dari donatur," ujar Dewan Penasihat Masjid Lautze II Bandung, Hernawan Mahfudz, Rabu (30/5/2018).

Selain itu, masjid yang berada di Jalan Tamblong Nomor 27 Bandung tersebut dikenal sebagai rumah bagi banyak mualaf dari ragam suku dan etnis. Selama satu tahun terakhir sebanyak 40 mualaf mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Lautze II. 

"Data yang tercatat ada sekitar 200 mualaf yang memeluk Islam di Masjid Lautze II. Tapi aktivitas pembinaan mualaf lewat Muallaf Care gencar dilakukan dalam waktu satu tahun terakhir," ujar Hernawan.

Wajar jika kemudian 70% jemaah di Masjid Lautze II merupakan mualaf yang tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa tapi juga ragam suku dan golongan lainnya. 

Selama Ramadan, Masjid Lautze juga rutin menggelar pengajian untuk anak-anak sekitar kawasan Jalan Tamblong seperti Jalan Kejaksaan dan Jalan Veteran. Bahkan beberapa orang berasal dari Jalan Sukajadi. 

"Pengajian biasanya rutin digelar setiap hari Sabtu. Namun, selama Ramadan kegiatan pengajian kami lakukan setiap hari sejak pukul 16.00 WIB," ujar Ketua DKM Masjid Lautze II, Rahmat. 

Masjid Lautze II didirikan oleh seorang Muslim keturunan Tionghoa bernama Karim Oei Tjeng Hien pada tahun 1997. Sebelumnya Karim telah membangun Masjid Lautze I di daerah pecinan Jakarta pada 1991.

Luas dari Masjid Lautze sendiri tidak terlalu besar, hanya 8x7 meter. Namun, dari ruang yang kecil tersebut Masjid Lautze mampu memberi kontribusi untuk perkembangan Islam di Kota Bandung. Sebuah bukti eksistensi Muslim Tionghoa dan mualaf di Bandung. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar