Yamaha NMax

Tingkatkan Kualitas Kopi, Barista Perlu Tahu Proses di Hulu

  Selasa, 29 Mei 2018   Mildan Abdalloh
Octavianti Permatasari seorang traniner barista dari first crack cofee di Perkebunan Kopi Gunung Puntang, Selasa (29/5/2018).
CIMAUNG, AYOBANDUNG.COM-- Sebuah film berjudul Filosofi Kopi booming pada 2015 silam. Sebuah film yang menceritakan seorang barista dalam mencari kopi terbaik.
 
Dalam film tersebut, bisa diambil kesimpulan kopi terbaik bukan hanya karena keterampilan seorang pembuat kopi, namun karena ada sebuah proses yang baik untuk menghasilkan kopi terbaik.
 
Film tersebut seolah menjadi pemicu kejayaan kopi, disaat yang hampir bersamaan Kopi asal Gunung Puntang Kabupaten Bandung menjadi kopi papan atas setelah menjadi salah satu kopi terbaik dalam ajang SCAA. Sejak itu, munculah kedai-kedai kopi di sudut-sudut kota yang mengubah gaya hidup masyarakat dari penikmat kopi gunting ke kopi giling.
 
Namun, filosofi kopi seperti dalam film Filosofi Kopi masih belum mengakar dalam diri barista.
 
"Kebanyakan barista hanya tahu menyeduh, tapi kurang mengetahui bagaimana proses kopi sebelum diseduh," tutur Octavianti Permatasari seorang traniner barista dari first crack cofee di Perkebunan Kopi Gunung Puntang, Selasa (29/5/2018).
 
Padahal setiap biji kopi yang diseduh oleh barista sampai dinikmati oleh costumer, mempunyai cerita tersendiri. Contohnya, sebelum kopi diminum ataua bahkan diseduh, setiap bijinya mengalami proses panjang, dari mulai dibelai oleh tangan-tangan petani saat penanaman, pemupukan, perawatan, berbunga, dan banyak proses lainnya yang membutuhkan waktu lama.
 
Saat diseduh, kopi hanya menjadi produk hilir, setiap orang hanya tahu kopi ini enak, kopi ini terbaik atau hal lainnya.
 
"Dari hulu, kopi mempunyai banyak cerita. Contohnya Pak Ayi (petani kopi puntang), kenapa kopinya sangat dicari. Itu karena proses," ucap gadis berkulit putih tersebut.
 
Bahkan, kata Octvianti, setiap daerah mempunyai filosofi tersendiri. Seperti perbedaan masing-masing daerah dalam menyeduh, menyuguhkan sampai menikmati secangkir kopi.
 
Padahal kata perempuan tomboy tersebut, jika mengenal bagaimana sebiji kopi bisa terseduh, barista bisa berbagi cerita kepada costumer bagaimana kopi tersebut berproses.
 
"Selama ini barista hanya mengenalkan ini kopi asal daerah anu, tapi tidak mengetahui bagaimana proses pengolahan di daerah tersebut," imbuhnya.
 
Dengan barista menceritakan bagaimana proses sebiji kopi terseduh, end user bisa mengapresiasi, tidak hanya menikmati secangkir kopi nikmat. Bahkan mereka bisa memberi penghargaan tertinggi kepada petani yang dengan susah payah merawat setiap cabang pohon kopi yang ditanamnya dengan kasih sayang.
 
Atas dasar itu, first crack coffe berniat menggelar sebuah training camp bagi para barista untuk mengenalkan sebiji kopi diproses di hulu.
 
Training camp tersebut rencananya akan digelar selama satu pekan dimulai pada 12 Juli mendatang.
 
"Pesertanya terbatas, mungkin hanya 20 barista saja. Bagi yang berminat silahkan daftar melalui kami di Instagram  @firstcrck," katanya.
 
Karena terbatasnya peserta, Octvianti mengatakan, pendaftar paling duluan yang akan diikut sertakan dalam tranining camp tersebut.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar