Yamaha NMax

Obat Depresi Itu Bernama Musik

  Kamis, 17 Mei 2018   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi depresi. (Pixabay)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Konon, bermusik bisa membantu seseorang keluar dari zona depresi. Bahkan, katanya musik lebih ampuh daripada mengonsumsi antidepresan.

Namun, bukan berarti penderita depresi harus membuang obat-obatan mereka dan mengambil gitarnya untuk kemudian bermusik. Musik hanyalah terapi tambahan dari terapi standar pada umumnya. Pasien jelas harus melanjutkan rutinitas pengibatan mereka secara teratur.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di British Journal of Psychiatry menyebutkan bahwa sekitar satu dari empat penderita depresi kemungkinan berhasil bila menjalankan terapi musik.

“Bermusik memungkinkan seseorang untuk berhubungan dengan emosi mereka tanpa kata-kata,” ujar Kepala Departemen Musik Universitas Jyvaskyla, Finlandia, Jaakko Erkkila, mengutip Live Science.

Musik dikenal memiliki dampak yang kuat pada psikis manusia. Belajar memainkan instrumen musik meningkatkan kemampuan otak. Efek emosional dan komunikatif ini dapat menjelaskan dampak peningkatan suasana hati.

Para peneliti mengikutsertakan 79 pasien dengan depresi. Sebanyak 33 di antaranya mengikuti terapi standar selama tiga bulan penuh yang diintervensi oleh 20 sesi dengan ahli terapi musik. Sementara sisanya mengikuti terapi standar.

Setelah tiga bulan terapi, pasien yang mengikuti terapi musik mengalami penurunan gejala depresi dan kecemasan lebih besar daripada pasien yang mengikuti terapi reguler.

Ada kesenangan estetika dalam musik. Musik juga membutuhkan ritme dan fokus yang pada akhirnya membantu menyelaraskan pasien depresi untuk lebih menikmati dirinya sendiri.

Terapi jenis ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Para filsuf Yunani Kuno menggunakan musik untuk tujuan terapeutik. Pasien dilatih untuk mendengarkan melodi yang menenangkan. Bahkan, musisi bernama Thaletas berhasil menyembuhkan orang-orang yang terkena wabah di Sparta sekitar 600 SM.

Sementara terapi musik modern bermula pada dekade 1940-an setelah Perang Dunia II berkecamuk. Saat itu, ribuan tentara dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) dikumpulkan. Sejumlah kelompok musik mengunjungi rumah sakit yang diisi para veteran untuk menghibur para penderita trauma. Perawat dan dokter mencatat respons fisik dan emosional yang positif. Ini menggambarkan bagaimana melodi bisa membuat pasien lebih tenang.

Menukil Everyday Health, psikiater, Michael Crawford menyoroti ada tiga alasan masuk akal yang menjelaskan mengapa terapi musik bisa berfungsi.

Pertama, musik memberikan rasa penuh makna dan bahagia. Sebagaimana kita ketahui, musik adalah sebuah pengalaman estetik yang mampu menyentuh rasa manusia. Kedua, terapi musik melibatkan tubuh dan membuat orang mau bergerak. Partisipasi fisik diketahui pula dapat menghindari kita dari depresi. Selain itu, musik juga membantu penderita lebih terlibat, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar