Yamaha Mio S

Lewat Komuji, Musisi Bandung Getol Mengaji

  Rabu, 16 Mei 2018   Fathia Uqim
Komunitas Musisi Mengaji alias Komuji Bandung. (Instagram @komuji_bdg)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Maraknya berbagai komunitas hijrah di Bandung membawa suasana dan gaya hidup anyar di kalangan anak muda. Kini, gerakan hijrah itu membuat sejumlah masjid mendadak dipenuhi oleh anak muda masa kini yang berbondong-bondong datang untuk mendengar ustaz kondang berceramah. Gaya penyampaian yang kekinian membikin pengemasan kajian tak lagi terasa kolot dan seram.

Namun, fenomena itu memunculkan sedikit pro dan kontra soal boleh atau tidaknya bermusik. Sejumlah musisi asal Bandung pun berpikir dan ingin mencari tahu soal makna kegiatan musik dalam agama.

Eggie Fauzi (44), seorang pria yang telah berlalu-lalang di musik Bandung sejak lama, berpikir untuk menggelar kajian sendiri untuk membahas persoalan tersebut. “Daripada pro kontra enggak jelas dasarnya, kami buat acara kajian dengan narasumber yang tepat supaya ada pijakan yang jelas,” katanya saat ditemui ayobandung beberapa waktu lalu. Dari sana, Eggie dan kawan-kawan rutin menggelar kajian yang berakhir dengan nama Komunitas Musisi Mengaji alias Komuji pada tahun 2011.

Seiring berjalannya waktu, nama Komuji kian kesohor lantaran diikuti pula oleh musisi-musisi lokal Bandung seperti C.U.T.S dan The Panasdalam. Komuji juga menyimpulkan bahwa musisi tetap boleh bermusik asal positif. “Jika musik benar-benar ditinggalkan, nanti musik kita diisi oleh apa?” kata Eggie.

Kini, Komuji punya sederet kegiatan. Salah satunya dengan mentransformasikan musik menjadi positif dengan tidak perlu meninggalkannya. Eggie menilai, jika lirik dan musikalitas yang dihasilkan mumpuni, maka hasilnya pun akan bagus. Wajar apabila teman-temannya terdahulu meninggalkan musik lantarannya kontennya yang kurang mendidik.

Gelaran kajian Komuji makin berkembang pesat. Musisi papan atas seperti Mustafa Debu, Rudi Caffeine, dan berbagai musisi kolot hadir menjadi bagian dari Komuji.

Hal tersebut diyakini lantaran Komuji menghadirkan kajian yang bisa diakses oleh awam dan orang yang baru ingin belajar agama. Malah, menurut Eggie, banyak orang yang masih awam dengan Islam dan merasa malas untuk mengikuti kajian di masjid.

“Makanya kajian kami selalu di kafe supaya lebih santai,” ujar Eggie. Forum diskusi agama dikemas dengan cara yang menghibur, mengkolaborasikan kajian agama dan unsur hiburan. “Gaya ngaji kami adalah gaya musisi,” kata mantan manajer Harapan Jaya itu.

Komuji menjadi wadah baru dari kemasan hijrah dengan gaya yang berbeda. Tidak hanya musisi, seniman, dosen, praktisi, blogger, dan orang dari berbagai latar belakang bisa bergabung di sini. Eggie dan kawan-kawan hanya ingin menyediakan akses bagi orang urban yang ingin belajar agama, tapi sulit menemukan media belajar yang pas.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar