Yamaha Mio S

Pengamat: Bandung Jadi Markas Kuat Kelompok Teroris JAD

  Selasa, 15 Mei 2018   Arfian Jamul Jawaami
Tiga aksi bom bunuh diri dilakukan di tiga gereja berbeda dan satu sisanya meledak di Malpolrestabes Surabaya. (Shafaaq)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Jamaah Ansharut Daulah (JAD) terindikasi menjadi kelompok yang bertanggung jawab atas empat serangan bom bunuh diri di Kota Surabaya pada tanggal 13 dan 14 Mei 2018. 

Tiga aksi bom bunuh diri dilakukan di tiga gereja berbeda dan satu sisanya meledak di Malpolrestabes Surabaya. Keempat aksi bom bunuh diri diketahui dilakukan oleh satu keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan empat orang anak. 

JAD berdiri pada tahun 2015 oleh sekitar 24 milisi asal Indonesia yang telah bersumpah untuk setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi. Pada tahun 2017, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa JAD sebagai organisasi teroris.

Eksistensi JAD mulai dikenal publik setelah melakukan serangkaian serangan teror di Ibu Kota Jakarta seperti diantaranya bom Thamrin pada 2016 serta bom Kampung Melayu satu tahun berselang. 

Dalam aksi teror di kawasan Thamrin, polisi berhasil menangkap terdakwa Aman Abdurrahman yang merupakan ketua JAD sekaligus pemimpin simpatisan ISIS di Indonesia. Sementara bom Kampung Melayu melibatkan kelompok JAD dari Kabupaten Bandung Barat.

Pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, mengatakan bahwa kawasan Bandung Raya menjadi salah satu markas kuat JAD di Indonesia. Tidak heran jika JAD kerap melakukan aksinya di Jawa bagian barat.

"Bandung itu menjadi markas JAD yang sangat kuat. Salah satu pelaku bom Kampung Melayu berasal dari Bandung Barat. Namun kalau melihat tren beberapa tahun terakhir, aksi bom kerap terjadi di wilayah Jabodetabek," ujar Zaki, Senin (14/5/2018).

Untuk itu Zaki menilai bahwa aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya sedikit memiliki perbedaan dengan serangan serupa di beberapa tahun terakhir. Pasalnya, Surabaya identik sebagai lokasi koordinasi para teroris, bukan target serangan.  

"Surabaya merupakan daerah yang berperan sebagai lokasi koordinasi. Pelaku berkumpul dan berdiskusi di Surabaya tapi melakukan aksi pengeboman di tempat lain seperti kasus bom malam natal di tahun 2000," ujar Zaki.

Alasannya karena Surabaya menjadi daerah yang menyediakan ragam bahan kimia pembuat bom. Terlebih, Jawa Timur juga menjadi salah satu basis kuat dari gerakan terorisme di Indonesia.

"Mereka (pelaku bom bunuh diri) khawatir kalau serangan dilakukan di Surabaya maka toko penjual bahan kimia akan ditutup. Tapi sekarang berbeda karena aksi bom bukan dilakukan oleh Jemaah Islamiyah (JI) tapi JAD," ujar Zaki. 
 

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar