Yamaha NMax

Komentar Warganet Dunia Soal Rentetan Teror Bom Surabaya dan Sidoarjo

  Senin, 14 Mei 2018   Hengky Sulaksono
Ilustrasi -- Personel Sat Brimob Polda Jatim saat menyisir areal meledaknya bom gereja di Jalan Diponegoro, Surabaya, Minggu (13/5). (Antara)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Rentetan ledakan bom yang terjadi di sepanjang Minggu (13/5/2018) pagi hingga malam di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi perhatian publik dari berbagai penjuru tanah air. Warga bereaksi keras mengekspresikan kecamannya melalui status dan komentar di sejumlah platform media sosial.

Namun, tragedi ini nyatanya tak hanya menjadi perhatian nasional. Media-media terkemuka berjejaring multinasional turut mengabarkan peristiwa kelabu itu. Pemberitaan bom yang menewaskan belasan orang ini dimuat di laman The New York Times, The Washington Post, The Wall Street Journal, Reuters, The Guardian, BBC, CNN, Al Jazeera, Sky, dan masih banyak lagi. Apalagi dengan munculnya klaim ISIS yang mengaku bertanggung jawab atas hal tersebut, jelas mengundang sorotan dunia.

Ekspose yang diberikan terhadap aksi teror ini juga mendapat tanggapan beragam dari para pembaca maupun warganet dari berbagai negara. Kecaman keras terhadap teror atas nama kemanusiaan, tudingan bernada negatif terhadap Islam, hingga dakwaan kecut kepada agama secara umum sebagai biang keladi teror menjadi petikan narasi yang mengemuka dalam komentar-komentar tersebut.

Komentar kecaman terhadap aksi teror misalnya dilontarkan pemilik akun Facebook bernama Mohammad J Ghafouri. Dalam kolom komentar berita yang diunggah BBC, dia menyesalkan peristiwa biadab tersebut sambil mengutuki pelaku yang membawa serta anaknya.

"Betapa tercucinya otakmu sampai-sampai membuat anakmu membunuh diri mereka sendiri dan orang lain karena mereka berbeda keyakinan," tulis Ghafouri, Minggu (13/5/2018) malam.

Di kolom komentar yang sama, warganet lain bernama Alan Holdsworth secara eksplisit memberikan pandangan yang terkesan menyudutkan Islam. "Agama damai ini kembali menyerang," kata Alan singkat. "Lucu, tapi betul," tulis warganet lain asal Indonesia, Rachman Hakim Nur, membalas komentar Alan.

"Teroris tidak diterima di agama-agama besar manapun. Komentar Anda hanya membantu menyebarkan kebodohan," tulis sebuah balasan terhadap Alan dari akun bernama Bart Lubaszka. 

"Semua agama akan mengklaim cinta damai sebelum sebagian kecil pengikutnya membuat hal itu nampak sedikit keliru," tulis pemilik akun bernama Philip Slater memberikan pandangannya.

Lebih jauh lagi, pemilik akun Frieda Pivon secara implisit mempersalahkan agama sebagai biang keladi kekacau-balauan. "Betapa damainya jika di dunia ini tidak ada agama!" tulisnya dalam kolom komentar di unggahan Facebook situs berita Reuters. Warganet lain bernama Tom Philip mepertanyakan klaim Frieda tersebut sambil membawa serta kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang didalangi aktor nonagama, "Gulag? Khmer Merah? NAZI?".

Beberapa cuplikan komentar warganet tersebut nampaknya tak begitu jauh berjarak dengan apa yang sering mengemuka dan menjadi watak warganet tanah air. Komentar-komentar tipikal yang merepresentasikan kemalasan atau ketakmampuan berpikir jernih, asal jeplak, tendensius, saling tuding, hingga debat kusir juga tak sulit ditemukan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar