Yamaha Aerox

Sep Antique, Toko Kecil yang Dipenuhi Lampu sampai Senjata Kuno

  Senin, 07 Mei 2018   Fathia Uqim
Suasana toko Sep Antique, Tegalega, Bandung. (Fathia Uqim/ayobandung)

ASTANA ANYAR, AYOBANDUNG.COM—Sejak tahun 2000, Ai Nurhayati (56), bersama suaminya membuka toko barang antik di Jalan Astana Anyar, Bandung. Setelah menghadapi krisis moneter di tahun 1998, Ai banting setir dari penjual kayu menjadi barang antik lantaran mertuanya pernah menjadi seorang kolektor. Dari penjualan barang antik, Ai dapat menghidupi keluarga sampai menyekolahkan ketiga anaknya.

Nama tokonya Sep Antique. Diambil dari nama suaminya, Asep. Toko yang cukup kecil itu dipenuhi barang lama seperti radio besar, lampu, keramik, sendok besi, sampai telepon jadul. Tidak teratur dan tampak usang, sesuai keadaannya yang menjual barang lama. 

Lampu cempor, lampu gantung mutiara, dan jenis lampu lainnya tergantung di sudut kanan. Lemari kayu usang dipenuhi oleh berbagai pajangan keramik, sendok, dan pajangan unik lainnya. Kebanyakan benda di Sep Antique adalah piring dan teko dari kuningan yang masih kuat kualitasnya. 

Ai adalah salah satu dari dua pedagang barang antik di Tegalega. Dia mengaku, masih ada kolektor yang datang ke tempatnya untuk membeli barang antik. Tak tanggung-tanggung, warga negara Brunei, Singapura, dan Malaysia sering menyambangi toko ini. 

"Sekarang kebanyakan anak muda yang punya kafe membeli barang antik. Buat dekorasi kafe, biasanya," ujar Ai saat ditemui ayobandung.com, Senin (7/5/2018). 

Penjualan barang antik ini pernah berjaya pada tahun 2005-2006, meski tiga tahun terakhir penjualan barang antik semakin lesu, Ai tetap bertahan dengan Sep Antique. "Mungkin daya beli masyarakatnya lagi rendah, menurunnya juga sampai 50%," tegas ibu tiga anak itu. 

Dulu, sekitar tahun 2005, Ai bisa kedatangan pengunjung sampai setiap hari. Kini, dalam sepekan, Ai hanya mendapatkan dua sampai tiga pelanggan saja. Kendati demikian, Ai belum berubah pikiran untuk mengganti usahanya tersebut.

"Sekarang mah apa aja dijual. Misalnya ada onderdil, besi, ada yang butuh, ya, kami cari dan jual lagi," ujar Ai.

Kebanyakan kolektor didominasi oleh kaum Adam. Biasanya mereka punya koleksi spesifik untuk memuaskan kegemarannya. Misalnya saja persenjataan, jam dinding, atau lampu. Ai tidak bisa menyebutkan kisaran harga barang antik tersebut, lantaran transaksi dapat dilakukan langsung dengan negosiasi di tempat. 

"Berbeda dengan dagang baju yang bisa dibanderol, barang antik mah enggak. Bisa aja kalau barangnya sudah lama tidak keluar toko ya dijual seadanya," kata Ai. 

Ai menyebutkan, barang antik paling mahal dapat mencapai Rp9 juta. Untuk barang antik paling murah bisa mendapatkan harga Rp10.000 saja. Katanya, semua tergantung nilai barang dan kelangkaan. Semakin langka suatu barang, barang tersebut akan semakin mahal. 

Di Bandung, pedagang barang antik bisa ditemukan pula di Cihapit, Cikapundung, dan Batununggal. Berbeda lokasi, tentu berbeda pula harganya. "Dan barang antik di Tegalega termasuk yang paling murah," pungkas Ai.

  Tag Terkait

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar