Yamaha NMax

Depresi Memperpendek Usia, Ini Penjelasannya

  Jumat, 04 Mei 2018   Hengky Sulaksono
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM—Depresi bisa datang pada siapa saja. Apalagi di zaman kiwari saat tekanan kerja dan beban sosial kian meninggi. Pada gilirannya, depresi bisa berpengaruh pada kondisi fisiologis dan memperpendek umur seseorang.

Seperti dilansir dari LiveScience, penelitian berjudul “Perfect Storm: Concurrent Stress and Depressive Symptoms Increase Risk of Myocardial Infarction or Death” yang diterbitkan Journal of the American Heart Association pada 2015 lalu mencatat risiko kematian lebih besar menerpa orang-orang terpapar stres.

Para peneliti mengemukakan bahwa responden penelitian dengan tingkat stres dan depresi tinggi punya peluang 48% lebih tinggi untuk meninggal atau mengalami serangan jantung dibandingkan dengan kelompok yang memiliki tingkat stres dan depresi rendah. Bagi orang yang sudah memiliki masalah jantung, kombinasi stres, dan depresi berat bakal menciptakan 'badai psikososial sempurna.'

"Peningkatan risiko (kematian) karena stres dan gejala depresi yang tinggi sangat kuat dan konsisten di seluruh demografi, riwayat medis, penggunaan obat-obatan dan perilaku berisiko kesehatan," kata penulis utama studi tersebut yang merupakan seorang peneliti asosiasi di Columbia University Medical Center, Carmela Alcantara.

Penelitian ini melibatkan hampir 5.000 orang berpenyakit jantung koroner yang berusia 45 tahun atau lebih. Para peserta membagi pengalaman gejala depresi dan stres mereka selama pemeriksaan di rumah serta pada kuesioner yang dilakukan sejak tahun 2003-2007.

Sebagai contoh, para peserta menjawab pertanyaan tentang seberapa sering mereka merasa kesepian atau menangis selama pekan terakhir, dan bagaimana seringkali mereka merasa tidak dapat mengendalikan hal-hal penting dalam hidup mereka atau merasa kewalahan selama sebulan terakhir.

Para peneliti menemukan sekitar 6%, atau 274 orang dalam penelitian ini melaporkan mengalami stres dan depresi tinggi. Setelah enam tahun tindak lanjut, terdapat 1.337 kasus kematian atau serangan jantung di antara orang-orang dalam penelitian.

Para peneliti mencatat terdapat sebuah periode kerentanan tinggi--di mana orang dengan stres dan depresi yang kuat berada pada peningkatan risiko kematian atau mengalami serangan jantung--yang berlangsung sekitar dua setengah tahun. Namun, setelah masa itu lewat, peningkatan risiko menghilang.

Peneliti juga menemukan bahwa orang yang hanya mengalami stres tinggi, atau hanya memiliki gejala depresi yang tinggi atau tidak mengalami depresi dan stres pada saat yang sama, tidak memiliki peningkatan risiko kematian atau serangan jantung.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar