Yamaha Mio S

Cerita Warung Kopi Pak Ikin Sejak 1945

  Sabtu, 28 April 2018   Fathia Uqim
Melisa (22), penjaga Warung Kopi Pak Ikin saat mengipasi arang untuk merebus kopi, Jumat (27/4). (Fathia Uqim/ayobandung)

ANDIR, AYOBANDUNG.COM--Seorang perempuan muda tengah menunggu di balik etalase makanan ringan membelakangi kedai usang yang dimakan usia. Dia adalah Melisa (22), anak ke-7 Pak Ikin dari 10 bersaudara. Melisa adalah generasi keempat yang memegang usaha Warung Kopi Pak Ikin di Jalan Kebonjati, Bandung.

Cukup sulit menemukan warung kopi tua tersebut. Lokasinya yang terhalang oleh gerobak warung dan motor-motor yang diparkir membuat Warung Kopi Pak Ikin sulit dideteksi mata. Jangan berpikir bahwa ini adalah warung kopi fancy yang tertata sedemikian rupa. Warung Kopi Pak Ikin adalah warung kopi secara harfiah. Namun, jangan tanya urusan usia, sebab usaha warung kopi ini telah eksis di Kota Bandung sejak Indonesia merdeka di tahun 1945.

Sejak tamat SMP, Melisa sudah menunggu warung kopi tersebut bersama ayahnya, Ikin, dan kakaknya yang lebih awal sudah menjadi penjaga warung.  Warung Kopi Pak Ikin tidak pernah tutup alias 24 jam beroperasi. Sampai saat ini, Melisa dan adiknya, Asep (20), bergantian menjaga warung.

“Saya jaga dari jam 06.00 WIB sampai 18.00 WIB sore. Kalau adik (Asep) dari 18.00 WIB sore sampai ke 06.00 WIB pagi lagi. Biasanya adik dibantu Abah,” ujar Melisa kepada ayobandung saat ditemui di Warung Kopi Pak Ikin, Bandung, Jumat (27/4/2018).

Abah adalah kakak dari Ikin. Nama aslinya adalah Aan Senjaya (68). Dia bercerita bahwa warung kopi itu berawal dari kakeknya yang bernama Junanta. Aan adalah generasi ketiga yang melanjutkan usaha turun temurun itu. Dia mengaku tidak banyak ikut campur saat berlangsungnya usaha tersebut, sebab adiknya, Ikin, yang menjadi penerus warung.

Tahun 1945, Junanta mengawali karier sebagai penjual kopi di gerobak. Kopi tubruk dari Javaco varian melange adalah ciri khas yang dipertahankan hingga saat ini. Sampai pada 1980, Junanta membuka gerai pertama di Jalan Kebonjati, tepat di sebelah St Hall.  

Keramaian warung disebabkan oleh Hotel Cirebon dan Hotel Semarang yang pernah ada di samping kanan warung.  Kemudian di depannya adalah pangkalan angkutan luar kota 4848 dan para penjual sayuran yang berjejer sebelum Pasar Baru bertransformasi menjadi mal. Masuk tahun 1990, Ikin mengambil alih warung dan anak-anaknya ikut membantu.

“Tentu warung kopi ramai dikunjungi oleh para pengunjung hotel, penumpang bis, dan orang-orang di sekitar warung yang berlalu lalang.  Bahkan, dulu tembok warung itu bersih karena dipakai iklan sama rokok Sampoerna,” kenang Melisa.

Tidak ada kursi yang kosong ataupun gelas yang berdiri rapi. Warung Kopi Pak Ikin mempekerjakan tiga orang sebagai pencuci gelas dan piring di depan warung. Pelanggan berjejer, bahkan nongkrong depan warung hingga rasanya tak ada istirahat untuk Ikin dan anak-anaknya menyeduh kopi.

 “Tahun 2012 bapak meninggal dan warung perlahan sepi,” ujar Melisa. Lambat laun, Warung Kopi Pak Ikin tidak lagi trendi.

Melisa berkata bahwa dampak ayahnya yang wafat tinggal menyisakan memori. Para langganan pun turut dimakan usia dan tak lagi datang ngopi. “Sama-sama sudah pada tua, jadi banyak yang sudah wafat,” katanya.

Kendati demikian, masih ada beberapa pelanggan setia yang menyeruput kopi khas Pak Ikin yang air panasnya direbus di atas arang. Dia adalah Juhara (59), supir taksi lintas Husein yang sering nongkrong di sana.

“Di sini kopinya beda, khas direbus di atas arang. Dari dulu sampai sekarang, kopi tubruknya dari Javaco, roti bakar dan telor setengah matangnya juga juara,” ujar Juhara.

Tak ada menu istimewa yang ditawarkan di Warung Kopi Pak Ikin. Biasa saja, seperti warkop pada umumnya. Kopi tubruk, kopi susu, roti bakar dan lain-lain. Namun, kopi tubruk Javaco yang direbus di atas arang jadi yang paling istimewa di sini. Atau, setidaknya kamu bisa “membeli kenangan” di Warung Kopi Pak Ikin.

   Berbagi Artikel

   Komentar

Komentar